Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Di era media sosial, hampir semua hal dapat dibagikan, termasuk pengalaman beragama. Doa direkam atau ditulis, ceramah dipotong menjadi video pendek, momen haru diabadikan, refleksi pribadi diunggah. Agama tidak lagi hanya dijalani sebagai “pengamalan sadar”, tetapi juga dikomunikasikan. Di ruang inilah pemikiran Jean Baudrillard menjadi relevan. Baudrillard berbicara tentang simulasi, yakni keadaan ketika sesuatu tidak lagi sekadar mewakili kenyataan, tetapi secara perlahan menggantikannya. Dalam konteks religiusitas digital, yang beredar di layar kita bukan pengalaman iman itu sendiri, melainkan gambarnya, tandanya, versinya yang sudah dikemas. Kita melihat potongan doa, cuplikan tangis, kisah hijrah, kutipan ayat dengan latar musik menyentuh. Semua itu adalah bentuk komunikasi. Tidak ada yang salah dengan membagikan pengalaman spiritual. Namun persoalannya muncul ketika bentuk yang dibagikan itu mulai menjadi standar tentang; seperti apa ...