Langsung ke konten utama

Eksklusivitas dan Inklusivitas di Bulan Suci

Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)

Bulan suci Ramadhan sering dipahami sebagai momentum spiritual yang memperkuat nilai kebersamaan, solidaritas, dan kepedulian sosial. Namun, jika dilihat melalui perspektif teori identitas sosial, pengalaman kolektif selama Ramadhan juga dapat memperlihatkan dinamika pembentukan batas-batas kelompok dalam masyarakat.

Seperti ynng telah dijelaskan pada dua esai sebelumnya, Teori Identitas Sosial yang dikembangkan oleh Henri Tajfel menjelaskan bagaimana individu cenderung mengategorikan dirinya dan orang lain ke dalam kelompok tertentu.

Lebih jauh, identifikasi tersebut kemudian membentuk pola hubungan antara ingroup (kelompok dalam) dan outgroup (kelompok luar).

Dalam konteks Ramadhan, dinamika ini dapat memunculkan potensi eksklusivitas sekaligus membuka peluang bagi praktik inklusivitas sosial.

Dalam masyarakat Muslim, Ramadhan menjadi salah satu simbol kuat yang memperkuat identitas kolektif tersebut. Praktik seperti puasa, shalat tarawih, buka puasa bersama, dan kegiatan berbagi sedekah menciptakan pengalaman bersama yang mempererat hubungan antaranggota kelompok.

Pengalaman kolektif ini memperkuat solidaritas ingroup. Orang-orang yang menjalankan praktik Ramadhan bersama sering merasakan kedekatan emosional dan spiritual yang lebih kuat. Masjid, misalnya, tidak hanya menjadi ruang ibadah tetapi juga ruang sosial di mana interaksi komunitas berlangsung intens.

Dalam perspektif teori Tajfel, kondisi ini memperkuat identifikasi individu terhadap kelompoknya, yang pada gilirannya meningkatkan rasa kebersamaan dan loyalitas terhadap sesama anggota kelompok.

Namun demikian, proses identifikasi kelompok juga memiliki sisi lain. Ketika identitas kelompok semakin kuat, batas antara ingroup dan outgroup dapat menjadi lebih tegas.

Hal ini berpotensi memunculkan eksklusivitas sosial, terutama dalam masyarakat yang majemuk. Praktik Ramadhan yang sangat menonjol di ruang publik kadang-kadang secara tidak sengaja menciptakan situasi di mana mereka yang tidak menjalankan Ramadhan merasa berada di luar pengalaman kolektif tersebut.

Dalam kerangka Tajfel, fenomena ini dikenal sebagai ingroup bias, yaitu kecenderungan individu untuk lebih memprioritaskan kelompoknya sendiri dibandingkan kelompok lain.

Eksklusivitas tidak selalu muncul dalam bentuk diskriminasi yang nyata, tetapi bisa hadir dalam bentuk simbolik atau kultural. Misalnya, kegiatan sosial yang hanya melibatkan kelompok tertentu tanpa membuka ruang partisipasi bagi kelompok lain, atau asumsi bahwa semua orang dalam lingkungan sosial memiliki pengalaman Ramadhan yang sama.

Situasi semacam ini dapat memperkuat jarak sosial antara kelompok yang menjalankan Ramadhan dan mereka yang berada di luar praktik tersebut.

Meski demikian, penting untuk diingat bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Ramadhan justru memiliki potensi kuat untuk membangun inklusivitas. Banyak ajaran yang menekankan empati terhadap sesama manusia, kepedulian terhadap kelompok rentan, serta praktik berbagi yang melampaui batas identitas kelompok.

Dalam banyak komunitas, kegiatan seperti pembagian makanan berbuka, bantuan sosial, atau kerja sukarela selama Ramadhan sering kali ditujukan kepada masyarakat luas tanpa memandang latar belakang agama atau identitas lainnya.

Dari perspektif teori identitas sosial, inklusivitas dapat berkembang ketika identitas kelompok tidak dipahami secara sempit, tetapi diperluas ke tingkat identitas sosial yang lebih luas.

Tajfel menjelaskan bahwa identitas sosial bersifat dinamis dan dapat berubah tergantung pada konteks interaksi. Ketika nilai-nilai universal seperti kemanusiaan, solidaritas, dan kepedulian ditekankan dalam praktik Ramadhan, maka batas antara ingroup dan outgroup dapat menjadi lebih cair.

Dalam praktiknya, inklusivitas Ramadhan dapat diwujudkan melalui berbagai cara. Komunitas dapat membuka kegiatan sosial Ramadhan bagi masyarakat yang lebih luas, menciptakan ruang dialog lintas kelompok, atau menekankan bahwa nilai-nilai seperti berbagi dan kepedulian adalah nilai kemanusiaan yang bersifat universal.

Dengan pendekatan ini, Ramadhan tidak hanya memperkuat identitas kelompok Muslim, tetapi juga berfungsi sebagai jembatan sosial yang mempererat hubungan antarwarga dalam masyarakat yang beragam.

Karenanya, melihat Ramadhan melalui lensa teori identitas sosial Tajfel membantu kita memahami bahwa dinamika eksklusivitas dan inklusivitas merupakan bagian dari proses sosial yang alami.

Tantangannya bukan menghilangkan identitas kelompok, melainkan mengelola identitas tersebut agar tetap terbuka dan inklusif.

Ketika nilai spiritual Ramadhan dipadukan dengan kesadaran sosial yang luas, bulan suci ini dapat menjadi ruang yang tidak hanya memperkuat solidaritas internal, tetapi juga menumbuhkan empati dan keterhubungan antarberbagai kelompok dalam masyarakat.

Rea Barat, 10 Maret 2026

Komentar

Anonim mengatakan…
Iya memang begitulah pembeda itu harus tegas dan jelas antara orang non muslim dan muslim dalam menjalankan syariatnya masing-masing, walau bukan berarti harus terpisah sama sekali, karena ada sisi lain yaitu sisi kemanusiaan dan persatuan anak-cucu Adam dalam perbedaan perspektif agama itu sendiri.

Postingan populer dari blog ini

Mahasiswi Komunikasi Unasman Raih Juara 1 Lomba Karya Ilmiah HUT Lalu Lintas Bayangkara Ke-69

  Artika Ananda Putri, Mahasiswa Ilmu Kounikasi Unasman andankji.com, Polman  ~~ Prestasi membanggakan diraih oleh mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Al Asyariah Mandar (FISIP Unasman). Artika Ananda Putri, berhasil meraih Juara 1 dalam Lomba Karya Ilmiah yang diselenggarakan oleh Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Sulawesi Barat, dalam rangka memperingati HUT Lalu Lintas Bhayangkara ke-69 tahun 2024. Lomba yang bertemakan "Polantas Presisi Hadir" ini diikuti oleh 40 peserta mahasiswa Perguruan Tinggi se-Sulbar dan mahasiswa dari berbagai universitas di luar Sulbar yang ber-KTP Sulbar. Artika Ananda Putri mengangkat karya ilmiah berjudul; “Menuju Sulbar Sejahtera: Optimalisasi Regional Traffic Management Centre (RTMC) melalui Gerakan Satu Hari Tanpa Pelanggaran”, yang dinilai unggul dari segi kreativitas gagasan, orisinalitas, analisis, dan sistematika penulisan. Kaprodi Ilmu Komunikasi, Dr. Hamdan, M.Ag, memandang bah...

Ahmadiyah, NII dan Candoleng-doleng

Oleh: Hamdan Akhir Mei 2011 lalu saya berada di sebuah pelosok kampung untuk beberapa waktu. Saat jumatan, sebelum azan dikumandangkan, Kades sebagai aparat dan tentunya mewakili Negara, menyampaikan pengumuman dari pemerintah kepada seluruh warga khususnya umat Islam untuk mewaspadai dua hal yang mengancam stabilitas kehidupan sosial warga, yakni: (1) tentang hadirnya aliran sesat Ahmadiyah yang mengajarkan adanya nabi setelah Muhammad saw, dan (2) hadirnya Negara Islam Indonesia (NII) yang menginginkan berdirinya Negara Islam secara terpisah dari Negara Kesatuan RI. Kedua hal di atas memfokuskan sasaran penyebaran misinya pada generasi muda. Karenanya jika warga menemukan hal-hal yang mencurigakan, kiranya segera melaporkan ke pemerintah setempat. Sekitar sepuluh hari kemudian, masih di kampong yang sama, saya terjaga saat dini hari pukul 01.30-an karena merasa lapar. Soalnya kemudian bukan soal terjaga, tetapi tak bias tidur setelah perut sudah terisi. Yang menganggu adalah dentuman...

TEOLOGI INTEGRALISTIK (Pendekatan Sejarah)

oleh: Prof. Dr. H.M. Saleh Putuhena Pendahuluan Sejak 1970-an dialog antar umat beragama mulai digiatkan oleh Departemen Agama. Ketika itu Menteri Agama (1972-1977) di jabat oleh Mukti Ali, professor perbandingan agama pada IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Sebagai seorang menteri yang berasal dari kalangan intelektual Muslim , ia sangat peduli pada dua hal penataan masalah pendidikan dan kerukunan umat beragama yang memang menjadi salah satu tugas Departemen Agama sejak didirikan 1946. Selama ini tugas pokok tersebut terkesan diabaikan. Meskipun secara sporadis terjadi konflik antara umat beragama di beberapa daerah terutama setelah 1965. Meskipun dialog atau pertemuan antar umat beragama tetap dilaksanakan secara intensif baik oleh Departemen Agama, maupun oleh organisasi keagamaan, tetapi tampaknya kurang berhasil dalam membina kerukunan antar umat beragama. Konflik antar umat beragama masih tetap juga terjadi. Rangkaian konflik yang terjadi pada penghujung abad XX berupa peri...