Langsung ke konten utama

Ketika Medium Mengubah Makna Ibadah


Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)

Masih terkait dengan pembahasan kita kemarin, Marshall McLuhan mengingatkan bahwa medium bukan sekadar saluran yang netral. Ia adalah lingkungan yang membentuk cara manusia merasakan, berpikir, dan memaknai pengalaman.

Ketika ia mengatakan the medium is the message, yang dimaksud bukanlah isi pesan menjadi tidak penting, melainkan bahwa struktur medium itu sendiri mengubah makna pesan yang disampaikannya. Dalam konteks ibadah, pernyataan ini menjadi sangat relevan.

Secara tradisional, ibadah berlangsung dalam ruang yang relatif stabil: masjid, rumah, majelis taklim, atau ruang sunyi pribadi. Medium utamanya adalah kehadiran langsung.

Di sana suara terdengar tanpa pengeras digital, tubuh yang berdiri sejajar dalam saf, tatap muka antara guru dan murid. Komunikasi yang terjadi bukan hanya verbal, tetapi juga gestural, atmosferik, dan simbolik. Keheningan, jarak fisik, bahkan bau ruang menjadi bagian dari pengalaman makna.

Sayangnya ketika ibadah dimediasi oleh layar, struktur komunikasi itu berubah. Ceramah yang dahulu berlangsung satu atau dua jam kini dipotong menjadi klip satu menit agar sesuai dengan ritme platform. Kajian yang dulu bersifat dialogis kini lebih sering tampil sebagai siaran satu arah.

Bahkan doa pun dapat direkam, diberi latar musik, dan disebarkan ulang sebagai konten yang dirancang untuk menarik atensi. Relasi komunikatif antara penyampai dan penerima mengalami transformasi, dari interaksi langsung menjadi interaksi yang termediasi oleh algoritma.

Dalam perspektif komunikasi, perubahan ini tidak netral. Medium digital memiliki karakteristik tertentu; cepat, visual, terfragmentasi, dan kompetitif. Ia beroperasi dalam logika atensi.

Setiap pesan bersaing dengan ribuan pesan lain dalam linimasa yang sama. Akibatnya, pesan-pesan keagamaan pun terdorong untuk menyesuaikan diri menjadi lebih ringkas, lebih emosional, lebih mudah dikutip.

Pada titik inilah makna ibadah mulai mengalami pergeseran. Ketika ceramah harus “menarik” agar tidak dilewati, gaya retorika bisa berubah. Ketika keberhasilan diukur dari jumlah tayangan atau interaksi, muncul kecenderungan untuk menyesuaikan isi dengan selera audiens.

Logika komunikasi publik bergeser dari kedalaman refleksi menuju daya jangkau dan visibilitas. Medium membentuk ekspektasi baru tentang bagaimana ajaran agama seharusnya disampaikan.

McLuhan menyebut bahwa setiap medium adalah perpanjangan indera manusia. Layar memperpanjang penglihatan, pengeras suara memperluas pendengaran, jaringan digital memperluas jangkauan interaksi.

Akan tetapi, setiap perpanjangan tersebut selalu disertai amputasi. Ketika jangkauan meluas, intensitas bisa berkurang. Ketika akses menjadi mudah, kedalaman bisa terancam dangkal.

Ibadah yang dimediasi layar berpotensi berubah menjadi tontonan. Jamaah menjadi audiens. Ustaz atau pendakwah menjadi figur publik, jika tidak ingin disebut selebriti. Interaksi menjadi komentar.

Doa yang dimediasi layar mudah bergeser dari bisikan sunyi kepada Tuhan menjadi pertunjukan yang tanpa sadar menunggu penonton. lafaz-lafaz doa dari bisikan qalbu terdalam kepada Tuhan, berubah menjadi desain grafis visual yang menunggu like and comment.

Dalam terminologi komunikasi, hubungan interpersonal berubah menjadi komunikasi massa atau bahkan komunikasi berbasis algoritma. Yang diatur bukan lagi semata relasi sosial, tetapi juga sistem distribusi konten.

Perubahan ini tidak sepenuhnya reduktif. Medium digital juga memperluas inklusivitas. Mereka yang tidak bisa hadir secara fisik tetap dapat mengikuti kajian. Komunitas terbentuk lintas kota dan negara. Diskusi dapat terjadi di ruang komentar yang terbuka. Dari sudut pandang komunikasi, ini adalah perluasan ruang publik keagamaan.

Yang menjadi pertanyaan bukanlah apakah medium digital baik atau buruk, melainkan bagaimana ia membingkai makna.

Apakah ibadah tetap menjadi pengalaman partisipatif, atau berubah menjadi konsumsi pasif? Apakah pesan agama tetap mengajak refleksi, atau sekadar memicu reaksi emosional?

Dalam masyarakat yang semakin termediasi, kesadaran terhadap medium menjadi bagian dari literasi komunikasi keagamaan. Jika kita tidak menyadari bagaimana medium bekerja, kita mudah mengira bahwa perubahan bentuk tidak memengaruhi substansi. Padahal, struktur komunikasi selalu membentuk cara pesan dipahami.

Ketika medium berubah, cara kita mengalami waktu pun berubah. Linimasa tidak mengenal jeda; ia bergerak terus. Notifikasi tidak mengenal kesunyian; ia selalu memanggil perhatian. Ibadah, yang pada dasarnya memerlukan fokus dan keheningan, kini harus berbagi ruang dengan arus informasi yang tak henti.

Di titik inilah tantangan muncul. Bagaimana menjaga kualitas pengalaman spiritual dalam lingkungan komunikasi yang hiperaktif? Bagaimana memastikan bahwa ibadah tidak sepenuhnya larut dalam logika performativitas dan visibilitas?

Mungkin jawabannya bukan dengan menolak medium, tetapi dengan menyadari pengaruhnya. Dengan kesadaran itu, kita dapat menciptakan ruang-ruang jeda. Mematikan notifikasi saat beribadah, memilih durasi yang memungkinkan refleksi, atau menahan dorongan untuk selalu membagikan setiap momen spiritual.

Pada akhirnya, menjaga makna ibadah di era digital bukan hanya soal menjaga isi ajaran, tetapi juga memahami ekologi komunikasinya. Medium tidak pernah sekadar wadah. Ia membentuk pengalaman. Dan ketika kita menyadari bahwa cara kita berkomunikasi tentang iman turut membentuk cara kita mengalaminya, di situlah refleksi menjadi bagian dari ibadah itu sendiri.

Rea Barat, 3 Maret 2026.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahasiswi Komunikasi Unasman Raih Juara 1 Lomba Karya Ilmiah HUT Lalu Lintas Bayangkara Ke-69

  Artika Ananda Putri, Mahasiswa Ilmu Kounikasi Unasman andankji.com, Polman  ~~ Prestasi membanggakan diraih oleh mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Al Asyariah Mandar (FISIP Unasman). Artika Ananda Putri, berhasil meraih Juara 1 dalam Lomba Karya Ilmiah yang diselenggarakan oleh Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Sulawesi Barat, dalam rangka memperingati HUT Lalu Lintas Bhayangkara ke-69 tahun 2024. Lomba yang bertemakan "Polantas Presisi Hadir" ini diikuti oleh 40 peserta mahasiswa Perguruan Tinggi se-Sulbar dan mahasiswa dari berbagai universitas di luar Sulbar yang ber-KTP Sulbar. Artika Ananda Putri mengangkat karya ilmiah berjudul; “Menuju Sulbar Sejahtera: Optimalisasi Regional Traffic Management Centre (RTMC) melalui Gerakan Satu Hari Tanpa Pelanggaran”, yang dinilai unggul dari segi kreativitas gagasan, orisinalitas, analisis, dan sistematika penulisan. Kaprodi Ilmu Komunikasi, Dr. Hamdan, M.Ag, memandang bah...

Ahmadiyah, NII dan Candoleng-doleng

Oleh: Hamdan Akhir Mei 2011 lalu saya berada di sebuah pelosok kampung untuk beberapa waktu. Saat jumatan, sebelum azan dikumandangkan, Kades sebagai aparat dan tentunya mewakili Negara, menyampaikan pengumuman dari pemerintah kepada seluruh warga khususnya umat Islam untuk mewaspadai dua hal yang mengancam stabilitas kehidupan sosial warga, yakni: (1) tentang hadirnya aliran sesat Ahmadiyah yang mengajarkan adanya nabi setelah Muhammad saw, dan (2) hadirnya Negara Islam Indonesia (NII) yang menginginkan berdirinya Negara Islam secara terpisah dari Negara Kesatuan RI. Kedua hal di atas memfokuskan sasaran penyebaran misinya pada generasi muda. Karenanya jika warga menemukan hal-hal yang mencurigakan, kiranya segera melaporkan ke pemerintah setempat. Sekitar sepuluh hari kemudian, masih di kampong yang sama, saya terjaga saat dini hari pukul 01.30-an karena merasa lapar. Soalnya kemudian bukan soal terjaga, tetapi tak bias tidur setelah perut sudah terisi. Yang menganggu adalah dentuman...

TEOLOGI INTEGRALISTIK (Pendekatan Sejarah)

oleh: Prof. Dr. H.M. Saleh Putuhena Pendahuluan Sejak 1970-an dialog antar umat beragama mulai digiatkan oleh Departemen Agama. Ketika itu Menteri Agama (1972-1977) di jabat oleh Mukti Ali, professor perbandingan agama pada IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Sebagai seorang menteri yang berasal dari kalangan intelektual Muslim , ia sangat peduli pada dua hal penataan masalah pendidikan dan kerukunan umat beragama yang memang menjadi salah satu tugas Departemen Agama sejak didirikan 1946. Selama ini tugas pokok tersebut terkesan diabaikan. Meskipun secara sporadis terjadi konflik antara umat beragama di beberapa daerah terutama setelah 1965. Meskipun dialog atau pertemuan antar umat beragama tetap dilaksanakan secara intensif baik oleh Departemen Agama, maupun oleh organisasi keagamaan, tetapi tampaknya kurang berhasil dalam membina kerukunan antar umat beragama. Konflik antar umat beragama masih tetap juga terjadi. Rangkaian konflik yang terjadi pada penghujung abad XX berupa peri...