Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2011

TEOLOGI INTEGRALISTIK (Pendekatan Sejarah)

oleh: Prof. Dr. H.M. Saleh Putuhena Pendahuluan Sejak 1970-an dialog antar umat beragama mulai digiatkan oleh Departemen Agama. Ketika itu Menteri Agama (1972-1977) di jabat oleh Mukti Ali, professor perbandingan agama pada IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Sebagai seorang menteri yang berasal dari kalangan intelektual Muslim , ia sangat peduli pada dua hal penataan masalah pendidikan dan kerukunan umat beragama yang memang menjadi salah satu tugas Departemen Agama sejak didirikan 1946. Selama ini tugas pokok tersebut terkesan diabaikan. Meskipun secara sporadis terjadi konflik antara umat beragama di beberapa daerah terutama setelah 1965. Meskipun dialog atau pertemuan antar umat beragama tetap dilaksanakan secara intensif baik oleh Departemen Agama, maupun oleh organisasi keagamaan, tetapi tampaknya kurang berhasil dalam membina kerukunan antar umat beragama. Konflik antar umat beragama masih tetap juga terjadi. Rangkaian konflik yang terjadi pada penghujung abad XX berupa peri...

metafisika cahaya "suhrawardi"

oleh: DR. Mohd. Sabri AR Pendahuluan Satu kenyataan yang tak dapat dipungkiri bahwa di dalam tradisi filsafat Islam pengaruh filsafat Yunani cukup kuat. Tetapi hal ini tidak dengan sendirinya berarti jika semua pandangan filsuf Muslim selalu dicoraki filsafat Yunani. Ini dapat terlihat, pada awal kemunculan filsafat Islam, "aroma" teologi justru sangat menonjol. Al-Kindi umpamanya—sebagai filsuf Muslim pertama—lebih tampak sebagai filsuf yang punya kecenderungan teologis. Setidaknya, ia berdiri di tapal batas antara filsafat dan teologi. Perhatian al-Kindi terhadap teologi dimungkinkan sebagai upaya membendung arus pemikiran filosofis yang abstrak terhadap kepercayaan agama atau penundukan iman terhadap akal. Kasus seperti ini jelas sangat sulit dihindari oleh filsafat Islam. Karena itu, tidak mengherankan jika corak "teologis" tampak sangat kental di masa perkembangannya yang paling dini. Sementara itu kehidupan intelektual Islam dan Kristen—dua peradaban ber...

rumah santri 1

puisi hamdan di hadapan samudera itu mereka menanam kayu-kayu lalu tinggal di dalamnya di hadapan samudera itu sambil menyelup matahari mereka senandungkan tembang ilahi bersama seribu kunang-kunang di hadapan samudera itu mereka menanam harapan dan cinta dalam-dalam memendam rindu menapaki jejak-jejak tuhan di hadapan itu disaksikan para malaikat jum'at aku menitip seribu telapakku diatas hampar pasir kesucian meski takkan lama segera lenyap di hadapan itu aku menghadapmu pulau sabutung, 25 mei 2000

rumah santri 2

puisi hamdan sambil menelan kata dan makna dalam bayangan malam pesisir anak-anak itu menanam tiga puluh tiga butir kesucian tiga puluh tiga butir kesyukuran tiga puluh tiga butir keagungan sembilan puluh sembilan kemuliaan kini seluruhnya tumbuh subur menjadi ranting pucuk dan dedaun serta seratus kembang di setiap pohon dengan aroma yang menggoda setiap hembus angin kepiluan dan gelombang nestapa sejarah detak-detak waktu dan jantung menjadi butiran tasbih tak berujung aku lihat dikala menyapa senja matahari pun menyimpan janji untuk memberi pagi, selamanya bagi taman tasyahud itu pulau sabutung 25 mei 2000

maafkan

puisi kedip kecil kemuning (hamdan) maafkan alisa karna aku tak dapat hadir saat engkau menanam bunga sekuntum di taman depan jendela kamarmu smoga semerbak kembang mekarnya dapat mengundang kunang menebar kedap kedip di malam. ya ... di depan jendela itu tapi alisa dari tempat sejauh rindu saat engkau menanam kuntum aku dapat membayang indah senyum rekah semerbak kembang mekarnya ah… aku ingin segera tiba mengecup antara dua keningmu dan engkau membisik degap jantungmu ke dadaku. 15 februari 2010

aku tidak sakit

cerpen kedip kecil kemuning (hamdan) “Permisi, beli rokok sebungkus pak. Oh iya, Sekarang jam berapa ya pak?” “Jam 9. Emm… kira-kira lebihnya 20 menitlah dek.” “Busyet, tepat lagi jawaban orang tua ini”, bisik si penanya sambil berlalu tersenyum sipu setelah membayar rokoknya. Setiap pagi selalu saja ada yang mampir belanja dan menanyakan jam kepada pak Bedu di gardu jualannya di simpang tiga. Padahal pak Bedu sama sekali tidak punya alat waktu, sementara 8 dari 10 orang yang bertanya itu umumnya memiliki jam tangan atau HP yang setiap saat bisa dilihat. Mereka hanya merasa senang dan lucu saat mendapat jawaban pak Bedu yang selalu tepat dengan margin error 5%. Tapi pak Bedu tidak tau tentang semua itu. Ia hanya tau bahwa delapan bulan terakhir pelanggannya semakin bertambah dan lebih setia, cukup dengan bonus informasi waktu. Tak disangka pak Bedu menjadi terkenal dikalangan warga sebagai orang dengan kemampuan unik. Di warkop, warung makan, rumah saki...

kamar untukmu

kedip kecil kemuning (hamdan) setiap kali datang engkau hanya duduk di serembi bercerita seadanya tentang warna lalu pergi lagi secepat waktu alisa kekasihku … bahkan engkau belum mengerti aku sejak lama menutup pintu dan jendela tetapi selalu membukanya untukmu engkau jangan keliru sayang … kunci ini memang untuk menutup tapi juga untuk membukanya keksaihku alisa … serambi itu kusiapkan bagi tetamu dalam rumah kubuat kamar untukmu sejak lama ruang itu dihuni rindu di rumah hatiku … engkau tak pernah menjadi tamu makassar, 03 maret 2011

ditinggalkan

cerpen kedip kecil kemuning (hamdan) Perlahan matahari melompati ranting demi ranting menuju pucuk terendah. Melewati gedung-gedung dan rumah berjejeran, yang dikonstruksi megah sedemikian rupa dengan gaya-gaya sensual personal seolah menegaskan kepada matahari bila para penghuni hanya membutuhkan terang, tidak pada panasnya yang menyengat. Alisa menyelesaikan tegukan ketiga dari teh yang dipesannya. Sebuah kafe dengan konsep natural; rimbun pohanan, sejuk, terang selama 24 jam, hingga pengunjung tak lagi merasakan siang atau malam, terik, mendung atau hujan. Matahari, bintang dan bulan tidak lagi menjadi penanda waktu bagi ruang kafe. “Mengapa kau menceritakan kisah itu padaku Alisa?” “Aku baru mengarang cerita itu. Aku selalu menceritakannya kepada orang lain agar tidak terlupa”. Zen belum yakin dengan alasan sesederhana itu. Ia yakin bahwa alasan yang kuat dan tepat selalu mengandung urgensitas serta signifikansi yang lebih dari sekedar takut lupa. Karenanya...

dari langit

cerpen hamdan Hampir setiap orang merasa heran dan curiga karena Khumi baru muncul setelah cukup lama menghilang di tengah rutinitas sosial kampong halamannya. Kota yang lebih sibuk dari angin atau malaikat. Entah apa yang mendorongnya untuk kembali, yang pasti bukan karena rindu atau cinta. Warga yang mengenalnya hanya biasa saja setiap bertemu dan menyapanya, meski rasa curiga dan heran tak bias mereka sembunyikan. Belum ada yang berani menanyakan langsung pada Khumi. Bahkan mereka yang dulu baik dan dekat dengannya, kini hanya berlalu bagai petir, menyapa dengan sambaran mendebarkan. Tentu saja Khumi segera membaca doa melihat petir untuk meminta perlindungan Tuhan. Khumi menjadi musafir di kampungnya sendiri. Keluarga yang dulu membesarkannya, seperti juga keluarga lain di kota itu, telah berubah menjadi tidak lebih dari sekedar lembaga perkembang-biakan atau lembaga sex legal. Saudara hanya menjadi dirinya sendiri kecuali untuk kepentingan tertentu. Orang-orang tua pada takut ...