Langsung ke konten utama

Puasa dan Pembentukan Diri (Self)

Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)

Suatu sore jelang berbuka, seorang mahasiswa sedang berdiri tepat depan warung kecil di pinggir jalan. Ia terlihat ragu-ragu. Di depannya tersedia berbagai minuman dingin yang tampak menyegarkan setelah seharian berpuasa.

Ia menatap jam di ponselnya. Waktu maghrib masih sekitar dua jam lagi. Tidak ada orang yang memperhatikan apakah ia akan minum sekarang atau menunggu beberapa saat lagi.

Namun akhirnya ia menghela napas dan menutup kembali botol minuman yang sempat ia buka.

Keputusan kecil itu tampak sederhana. Tetapi sesungguhnya di sanalah proses penting sedang terjadi. Seseorang sedang bernegosiasi dengan dirinya sendiri.

Dalam perspektif interaksi simbolik yang dikembangkan oleh George Herbert Mead, diri manusia (self) tidak terbentuk secara otomatis sejak lahir. Diri berkembang melalui proses interaksi sosial. Terbentuk melalui cara seseorang memahami harapan orang lain dan menafsirkan makna dari tindakan-tindakannya sendiri.

Dengan kata lain, manusia belajar menjadi dirinya melalui hubungan dengan lingkungan sosialnya. Dan puasa, dapat dilihat sebagai salah satu ruang penting dalam proses pembentukan diri tersebut.

Selama Ramadhan, seseorang tidak hanya menjalankan aturan religius, tetapi juga terus-menerus melakukan refleksi terhadap tindakannya sendiri.

Ia menahan diri dari makan dan minum, menjaga ucapan, mengendalikan emosi, serta berusaha bertindak sesuai dengan nilai-nilai yang dianggap baik. Semua tindakan ini melibatkan kesadaran diri yang aktif.

Menurut Mead, dalam diri manusia terdapat dua dimensi yang saling berinteraksi, yaitu “I” dan “Me”.

“I” adalah bagian spontan dari diri manusia yang muncul dalam bentuk keinginan, dorongan, atau reaksi langsung terhadap situasi. Sementara, “Me” adalah bagian reflektif yang terbentuk dari norma sosial dan harapan orang lain.

Puasa menciptakan ruang pertemuan yang intens antara kedua dimensi ini. Keinginan untuk makan ketika lapar, misalnya, adalah ekspresi dari “I”. Tetapi keputusan untuk menahan diri karena menyadari makna puasa dan nilai yang menyertainya merupakan peran dari “Me”.

Dalam setiap momen seperti ini, individu sedang berlatih mengelola dirinya melalui dialog internal antara dorongan pribadi dan kesadaran sosial. Proses ini terjadi berulang kali sepanjang hari selama bulan Ramadhan.

Seseorang mungkin merasa marah ketika menghadapi situasi tertentu, tetapi ia mengingat bahwa puasa bukan hanya menahan lapar, melainkan juga menjaga perilaku.

Ia mungkin tergoda untuk mengucapkan sesuatu yang menyakitkan, tetapi kemudian memilih untuk diam. Setiap keputusan kecil semacam ini merupakan bagian dari proses pembentukan diri.

Dalam kerangka interaksi simbolik, tindakan manusia selalu terkait dengan makna yang ia pahami dari situasi sosialnya. Puasa bukan sekadar praktik fisik menahan lapar dan dahaga, tetapi simbol dari nilai-nilai tertentu. Kesabaran  pengendalian diri, kejujuran, dan empati terhadap orang lain.

Ketika seseorang menjalankan puasa, ia sebenarnya sedang menginternalisasi makna-makna tersebut ke dalam dirinya. Dengan kata lain, puasa menjadi media pembelajaran sosial bagi diri manusia.

Interaksi dengan lingkungan juga memperkuat proses ini. Selama Ramadhan, seseorang berada dalam lingkungan sosial yang terus mengingatkan makna puasa. Suara adzan yang menandai waktu berbuka, percakapan tentang ibadah, aktivitas di masjid, atau tradisi berbuka bersama.

Semua simbol sosial ini membentuk konteks yang membantu individu memahami dan memperkuat identitas dirinya sebagai seseorang yang sedang menjalani puasa.

Dalam perspektif Mead, diri manusia selalu berkembang melalui interaksi semacam ini.

Identitas tidak terbentuk secara statis, tetapi melalui proses yang terus berlangsung. Puasa memberikan kesempatan bagi individu untuk merefleksikan kembali siapa dirinya dan bagaimana ia ingin bertindak dalam kehidupan sosialnya.

Melalui latihan menahan diri, seseorang belajar memahami batas antara keinginan pribadi dan nilai yang lebih besar yang ia yakini.

Menariknya, proses pembentukan diri ini sering terjadi dalam momen-momen yang sangat sederhana.

Menahan diri untuk tidak makan sebelum waktunya, memilih kata-kata yang lebih baik ketika berbicara, atau memutuskan untuk membantu orang lain adalah contoh tindakan kecil yang memiliki makna besar dalam pembentukan karakter.

Setiap keputusan semacam itu memperkuat gambaran diri seseorang tentang siapa dirinya. Dalam konteks ini, puasa dapat dipahami bukan hanya sebagai ibadah ritual, tetapi juga sebagai proses sosial yang membentuk kesadaran diri.

Ia mengajarkan manusia untuk melihat dirinya tidak hanya sebagai individu yang memiliki keinginan, tetapi juga sebagai anggota masyarakat yang hidup dalam jaringan nilai dan harapan bersama.

Dengan demikian, Ramadhan bukan hanya mengubah pola makan atau jadwal aktivitas sehari-hari. Ia juga menjadi ruang refleksi di mana manusia belajar memahami dirinya sendiri.

Dalam setiap godaan yang ditahan, setiap emosi yang dikendalikan, dan setiap tindakan baik yang dilakukan, individu sebenarnya sedang membangun dirinya sedikit demi sedikit.

Dan mungkin di situlah makna terdalam dari puasa. Ia bukan hanya latihan menahan lapar, tetapi juga latihan menjadi diri yang lebih sadar, lebih reflektif, dan lebih manusiawi.

Rea Barat, 11 Maret 2026.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahasiswi Komunikasi Unasman Raih Juara 1 Lomba Karya Ilmiah HUT Lalu Lintas Bayangkara Ke-69

  Artika Ananda Putri, Mahasiswa Ilmu Kounikasi Unasman andankji.com, Polman  ~~ Prestasi membanggakan diraih oleh mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Al Asyariah Mandar (FISIP Unasman). Artika Ananda Putri, berhasil meraih Juara 1 dalam Lomba Karya Ilmiah yang diselenggarakan oleh Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Sulawesi Barat, dalam rangka memperingati HUT Lalu Lintas Bhayangkara ke-69 tahun 2024. Lomba yang bertemakan "Polantas Presisi Hadir" ini diikuti oleh 40 peserta mahasiswa Perguruan Tinggi se-Sulbar dan mahasiswa dari berbagai universitas di luar Sulbar yang ber-KTP Sulbar. Artika Ananda Putri mengangkat karya ilmiah berjudul; “Menuju Sulbar Sejahtera: Optimalisasi Regional Traffic Management Centre (RTMC) melalui Gerakan Satu Hari Tanpa Pelanggaran”, yang dinilai unggul dari segi kreativitas gagasan, orisinalitas, analisis, dan sistematika penulisan. Kaprodi Ilmu Komunikasi, Dr. Hamdan, M.Ag, memandang bah...

Ahmadiyah, NII dan Candoleng-doleng

Oleh: Hamdan Akhir Mei 2011 lalu saya berada di sebuah pelosok kampung untuk beberapa waktu. Saat jumatan, sebelum azan dikumandangkan, Kades sebagai aparat dan tentunya mewakili Negara, menyampaikan pengumuman dari pemerintah kepada seluruh warga khususnya umat Islam untuk mewaspadai dua hal yang mengancam stabilitas kehidupan sosial warga, yakni: (1) tentang hadirnya aliran sesat Ahmadiyah yang mengajarkan adanya nabi setelah Muhammad saw, dan (2) hadirnya Negara Islam Indonesia (NII) yang menginginkan berdirinya Negara Islam secara terpisah dari Negara Kesatuan RI. Kedua hal di atas memfokuskan sasaran penyebaran misinya pada generasi muda. Karenanya jika warga menemukan hal-hal yang mencurigakan, kiranya segera melaporkan ke pemerintah setempat. Sekitar sepuluh hari kemudian, masih di kampong yang sama, saya terjaga saat dini hari pukul 01.30-an karena merasa lapar. Soalnya kemudian bukan soal terjaga, tetapi tak bias tidur setelah perut sudah terisi. Yang menganggu adalah dentuman...

TEOLOGI INTEGRALISTIK (Pendekatan Sejarah)

oleh: Prof. Dr. H.M. Saleh Putuhena Pendahuluan Sejak 1970-an dialog antar umat beragama mulai digiatkan oleh Departemen Agama. Ketika itu Menteri Agama (1972-1977) di jabat oleh Mukti Ali, professor perbandingan agama pada IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Sebagai seorang menteri yang berasal dari kalangan intelektual Muslim , ia sangat peduli pada dua hal penataan masalah pendidikan dan kerukunan umat beragama yang memang menjadi salah satu tugas Departemen Agama sejak didirikan 1946. Selama ini tugas pokok tersebut terkesan diabaikan. Meskipun secara sporadis terjadi konflik antara umat beragama di beberapa daerah terutama setelah 1965. Meskipun dialog atau pertemuan antar umat beragama tetap dilaksanakan secara intensif baik oleh Departemen Agama, maupun oleh organisasi keagamaan, tetapi tampaknya kurang berhasil dalam membina kerukunan antar umat beragama. Konflik antar umat beragama masih tetap juga terjadi. Rangkaian konflik yang terjadi pada penghujung abad XX berupa peri...