Langsung ke konten utama

Siapa Menentukan Isu Ramadhan?

Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)

Setiap kali bulan Ramadhan tiba, ruang publik dipenuhi oleh berbagai percakapan yang tampak serupa dari tahun ke tahun. Media memberitakan kenaikan harga bahan pokok, pemerintah membahas stabilitas pangan, televisi menayangkan program religi. Dan media sosial dipenuhi dengan konten dakwah, kuliner berbuka, atau tips menjalani puasa dengan sehat.

Dalam waktu yang relatif singkat, masyarakat seolah berbicara tentang topik-topik yang hampir sama.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan menarik. Mengapa isu-isu tertentu selalu menjadi pusat perhatian selama Ramadhan, sementara banyak aspek lain dari bulan suci ini justru jarang dibicarakan?

Siapa sebenarnya yang menentukan isu apa yang dianggap penting dalam percakapan publik tentang Ramadhan?

Pertanyaan ini dapat dijelaskan melalui teori agenda setting yang dikembangkan oleh Maxwell McCombs. Dalam teori ini, media tidak selalu menentukan apa yang harus dipikirkan oleh masyarakat, tetapi media sangat berpengaruh dalam menentukan apa yang dianggap penting untuk dipikirkan.

Dengan kata lain, media berperan dalam menyusun agenda publik dengan cara memilih isu mana yang perlu mendapat perhatian besar. Dalam konteks Ramadhan, mekanisme ini terlihat cukup jelas.

Setiap tahun, misalnya, isu harga kebutuhan pokok hampir selalu muncul sebagai topik utama dalam pemberitaan media. Berita tentang harga beras, minyak goreng, atau daging menjadi headline di berbagai media.

Pemerintah mengeluarkan kebijakan, pengamat ekonomi memberikan komentar, dan masyarakat ramai membicarakan persoalan tersebut.

Akibatnya, bagi banyak orang, salah satu isu utama Ramadhan seolah selalu berkaitan dengan stabilitas harga pangan.

Padahal, jika dilihat dari perspektif spiritual, Ramadhan memiliki dimensi yang jauh lebih luas. Refleksi diri, peningkatan ibadah, penguatan solidaritas sosial, hingga transformasi moral.

Namun aspek-aspek tersebut sering tidak memperoleh porsi perhatian yang sama besar dalam agenda media. Di sinilah teori agenda setting membantu kita memahami bagaimana fokus perhatian publik terbentuk.

Media memiliki keterbatasan ruang dan waktu. Karena itu, redaksi harus memilih isu mana yang dianggap paling relevan atau menarik untuk diberitakan. Pilihan ini kemudian membentuk pola perhatian masyarakat.

Ketika suatu isu terus muncul di berbagai media, masyarakat cenderung menganggap isu tersebut sebagai persoalan yang paling penting. Dalam konteks Ramadhan, proses ini tidak hanya melibatkan media arus utama, tetapi juga media digital dan media sosial.

Di era digital, agenda publik tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh redaksi media tradisional. Influencer, pendakwah digital, kreator konten, hingga pengguna media sosial juga ikut berperan dalam membentuk isu yang ramai dibicarakan.

Konten tentang menu berbuka, tren busana Ramadhan, atau tantangan ibadah sering menjadi viral dan menarik perhatian jutaan orang.

Dengan demikian, agenda Ramadhan kini terbentuk melalui interaksi yang lebih kompleks antara media, aktor sosial, dan audiens.

Meski begitu, pola dasar agenda setting tetap bekerja. Ketika suatu topik terus-menerus muncul di berbagai platform, baik televisi, portal berita, maupun media sosial, topik tersebut perlahan menjadi bagian dari percakapan publik yang dominan.

Hal ini dapat dilihat dari bagaimana beberapa isu tertentu hampir selalu identik dengan Ramadhan.

Isu mudik, misalnya, menjadi topik besar menjelang akhir bulan. Program acara religi mendominasi layar televisi. Diskusi tentang zakat, sedekah, atau kegiatan sosial muncul di berbagai kanal media.

Semua ini membentuk gambaran kolektif tentang apa yang dianggap sebagai tema utama Ramadhan dalam kehidupan sosial.

Namun penting untuk disadari bahwa agenda publik bukanlah sesuatu yang sepenuhnya netral. Pilihan isu selalu dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kepentingan ekonomi media, strategi redaksional, perhatian audiens, bahkan logika popularitas di media sosial.

Isu yang dianggap menarik, kontroversial, atau mudah menarik perhatian sering memperoleh ruang yang lebih besar dibandingkan isu yang bersifat reflektif atau kontemplatif.

Akibatnya, wajah Ramadhan yang muncul di ruang publik sering kali merupakan hasil seleksi isu yang kompleks.

Kesadaran tentang proses ini penting agar masyarakat tidak sepenuhnya menerima agenda yang ditawarkan media secara pasif. Publik dapat secara aktif memperluas percakapan tentang Ramadhan dengan mengangkat isu-isu yang mungkin kurang mendapat perhatian, seperti refleksi spiritual, praktik solidaritas sosial, atau pengalaman personal menjalani puasa.

Dengan cara ini, agenda Ramadhan tidak hanya ditentukan oleh media, tetapi juga oleh partisipasi aktif masyarakat dalam membentuk percakapan publik.

Pada akhirnya, Ramadhan bukan hanya peristiwa religius yang dialami secara pribadi, tetapi juga fenomena sosial yang dibicarakan bersama dalam ruang publik.

Media membantu menentukan topik apa yang menjadi perhatian utama, tetapi masyarakat juga memiliki peran dalam menafsirkan dan memperluas makna dari bulan suci tersebut.

Pertanyaan “siapa menentukan isu Ramadhan?” dengan demikian tidak memiliki satu jawaban tunggal. Ia merupakan hasil dari interaksi antara media, aktor sosial, dan publik yang bersama-sama membentuk agenda percakapan tentang bulan suci ini.

Rea Barat, 14 Maret 2026.




Komentar