Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)
Beberapa hari sebelum Ramadhan dimulai, pesan-pesan singkat
mulai bermunculan di berbagai percakapan digital. Di grup keluarga, seseorang
menulis, “Selamat menunaikan ibadah puasa, mohon maaf lahir dan batin”.
Di media sosial, orang mengunggah gambar bertema Ramadhan
dengan ucapan yang serupa. Di kantor, rekan kerja yang beragama berbeda juga
ikut mengatakan, “Selamat berpuasa”.
Kalimat itu sangat sederhana. Hanya dua kata: selamat
berpuasa. Tapi dalam kehidupan sosial, ucapan sederhana seperti ini memiliki
makna yang jauh lebih besar daripada sekadar rangkaian kata.
Dalam perspektif interaksi simbolik George Herbert Mead,
kehidupan sosial manusia dibangun melalui pertukaran simbol yang memiliki makna
bersama. Bahasa adalah salah satu simbol paling penting dalam proses ini.
Melalui kata-kata, manusia tidak hanya menyampaikan
informasi, tetapi juga membangun hubungan sosial, mengakui identitas, dan
menegaskan posisi dirinya dalam suatu komunitas.
Ucapan “selamat berpuasa” adalah salah satu contoh simbol
sosial yang bekerja dengan cara tersebut.
Ketika seseorang mengucapkannya, ia sebenarnya tidak hanya menyampaikan
pesan literal. Ia sedang melakukan tindakan sosial yang lebih luas. Ia mengakui
bahwa orang lain sedang memasuki momen penting dalam kehidupan religiusnya.
Ucapan itu menjadi bentuk pengakuan sosial terhadap pengalaman spiritual yang
sedang dijalani oleh orang lain.
Dalam kerangka interaksi simbolik, makna suatu tindakan
tidak hanya ditentukan oleh kata-kata itu sendiri, tetapi juga oleh konteks
sosial di mana kata-kata tersebut digunakan.
Ketika seseorang mengatakan “selamat berpuasa” kepada temannya,
ia sedang memperkuat hubungan sosial yang ada di antara mereka. Ucapan tersebut
menjadi tanda bahwa mereka berbagi pemahaman tentang makna Ramadhan.
Bahkan ketika ucapan itu datang dari seseorang yang tidak
menjalankan puasa, maknanya tetap kuat. Dalam situasi seperti ini, ucapan
tersebut dapat dipahami sebagai bentuk penghormatan terhadap praktik keagamaan
orang lain. Ia menjadi simbol pengakuan terhadap keberagaman dalam kehidupan
sosial.
Di banyak masyarakat yang majemuk, ucapan sederhana seperti
ini memainkan peran penting dalam menjaga keharmonisan sosial.
Menariknya, ucapan “selamat berpuasa” juga menunjukkan
bagaimana makna sosial dibentuk melalui kebiasaan yang berulang. Setiap tahun,
menjelang Ramadhan, jutaan orang saling mengucapkan kalimat yang sama.
Pengulangan ini membuat ucapan tersebut menjadi bagian dari ritual sosial yang
dikenal luas.
Lama-kelamaan, ucapan itu tidak lagi terasa sebagai sesuatu
yang asing. Ia menjadi bagian dari bahasa sehari-hari yang menandai datangnya
bulan Ramadhan.
Dalam perspektif Mead, simbol sosial seperti ini membantu
membentuk apa yang disebut sebagai shared meaning, yaitu makna bersama
yang dipahami oleh anggota masyarakat.
Ketika seseorang mendengar ucapan “selamat berpuasa”, ia
langsung memahami konteks sosial dan emosional yang menyertainya.
Ia tahu bahwa ucapan itu berkaitan dengan harapan, doa, dan
semangat untuk menjalani bulan suci dengan baik.Makna ini terbentuk melalui
interaksi sosial yang berlangsung terus-menerus.
Selain memperkuat hubungan sosial, ucapan “selamat berpuasa”
juga berperan dalam membangun identitas kolektif.
Ketika banyak orang saling mengucapkan kalimat yang sama,
mereka secara tidak langsung menegaskan bahwa mereka berada dalam komunitas
yang memiliki pengalaman budaya dan religius yang serupa.
Ucapan itu menjadi semacam tanda keanggotaan simbolik dalam
komunitas tersebut.
Namun, seperti banyak simbol sosial lainnya, makna ucapan
ini tidak selalu statis. Dalam beberapa situasi, ia dapat menjadi lebih
personal, misalnya ketika seseorang menambahkan doa atau pesan khusus dalam
ucapan tersebut.
Dalam situasi lain, ia bisa menjadi lebih formal, seperti
dalam pesan resmi dari institusi atau organisasi. Variasi ini menunjukkan bahwa
makna sosial selalu dinegosiasikan dalam interaksi sehari-hari.
Di era media digital, ucapan “selamat berpuasa” juga
mengalami transformasi dalam cara penyampaiannya. Jika dahulu ia lebih sering
diucapkan secara langsung, kini ia banyak beredar melalui pesan singkat, gambar
digital, atau unggahan media sosial.
Meskipun medium penyampaiannya berubah, fungsi sosialnya
tetap sama, yakni memperkuat hubungan antarindividu dan menegaskan momen
kolektif yang sedang dialami oleh masyarakat.
Hal ini menunjukkan bahwa simbol sosial dapat beradaptasi
dengan perubahan teknologi tanpa kehilangan maknanya.
Dengan demikian, ucapan “selamat berpuasa” sebenarnya
merupakan tindakan komunikasi yang memiliki lapisan makna sosial yang cukup
dalam.
Ia tidak hanya menyampaikan pesan sederhana, tetapi juga
membangun hubungan, memperkuat identitas kolektif, dan menciptakan rasa
kebersamaan dalam masyarakat.
Melalui kalimat yang singkat itu, manusia saling mengakui
pengalaman spiritual yang sedang dijalani bersama.
Mungkin di situlah kekuatan simbol sosial. Sesuatu yang
tampak kecil dalam bentuk kata-kata, tetapi mampu mempererat hubungan manusia
dalam kehidupan sehari-hari.

Komentar