Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)
Pada esai kemarin kita melihat bagaimana media menentukan isu apa yang dianggap penting (agenda setting) selama Ramadhan. Esai kali ini kita akan melihat bagaimana isu yang dianggap penting tersebut ditampilkan kepada publik (framing).
Media tidak hanya memilih topik tertentu untuk diberitakan,
tetapi juga membingkai realitas dengan sudut pandang tertentu. Cara sebuah
peristiwa diceritakan: apa yang ditonjolkan, apa yang dipinggirkan, dan
bagaimana narasi disusun, akan memengaruhi cara masyarakat memahami Ramadhan
itu sendiri.
Dengan kata lain, setelah agenda publik terbentuk, media
kemudian membangun bingkai makna yang memandu cara kita melihat bulan suci ini.
Setiap kali bulan Ramadhan tiba, wajah media berubah dengan
sangat cepat. Program televisi dipenuhi acara religi, portal berita menampilkan
liputan tentang puasa dan aktivitas sosial, sementara media sosial dipenuhi
konten dakwah, cerita spiritual, hingga rekomendasi kuliner berbuka.
Dalam waktu singkat, Ramadhan menjadi tema dominan di hampir
semua ruang media.
Pertanyaannya bukan hanya mengapa Ramadhan banyak
dibicarakan di media, tetapi bagaimana Ramadhan ditampilkan dan dibingkai oleh
media. Apa yang dipilih untuk ditonjolkan, dan apa yang justru jarang
diperlihatkan?
Media tidak sekadar melaporkan realitas Ramadhan apa adanya.
Ia memilih sudut pandang tertentu dalam menggambarkan realitas tersebut. Dengan
memilih aspek tertentu untuk ditampilkan, media secara tidak langsung membentuk
cara masyarakat memahami Ramadhan.
Misalnya, banyak media menampilkan Ramadhan melalui bingkai
kebersamaan keluarga. Iklan televisi dan program hiburan sering memperlihatkan
adegan keluarga yang berkumpul saat berbuka puasa. Narasi ini menekankan bahwa
Ramadhan adalah momen mempererat hubungan keluarga.
Di sisi lain, media juga sering membingkai Ramadhan sebagai
peristiwa ekonomi. Berita tentang kenaikan harga bahan pokok, liputan tentang
pasar takjil, atau promosi produk musiman menjadi bagian dari gambaran media
tentang bulan suci ini.
Bingkai lain yang sering muncul adalah Ramadhan sebagai
fenomena budaya populer. Program televisi menghadirkan selebriti dalam acara
religi, media sosial dipenuhi tantangan ibadah atau konten humor tentang puasa,
dan berbagai tren digital bermunculan selama bulan ini.
Semua bingkai tersebut membentuk cara publik memahami
Ramadhan. Jika media lebih banyak menampilkan sisi konsumsi, maka Ramadhan bisa
terlihat sebagai musim belanja.
Jika media lebih menonjolkan kegiatan sosial, maka Ramadhan
tampak sebagai momen solidaritas. Jika yang dominan adalah konten hiburan, maka
Ramadhan bisa dipahami sebagai bagian dari budaya populer.
Artinya, pengalaman sosial tentang Ramadhan tidak hanya
dibentuk oleh praktik ibadah itu sendiri, tetapi juga oleh cara media
membingkai realitas tersebut.
Di era media digital, proses pembingkaian ini menjadi
semakin kompleks. Jika sebelumnya framing banyak ditentukan oleh redaksi media
arus utama, kini pengguna media sosial juga ikut berperan dalam membentuk
narasi tentang Ramadhan.
Influencer, pendakwah digital, kreator konten, hingga
pengguna biasa turut memproduksi berbagai representasi tentang Ramadhan. Ada
yang menonjolkan aspek spiritual, ada yang menampilkan sisi humor, ada pula
yang fokus pada gaya hidup dan tren konsumsi.
Akibatnya, Ramadhan di ruang media digital muncul dalam
berbagai versi sekaligus. Akan tetapi di balik keragaman tersebut, logika media
tetap bekerja.
Konten yang paling menarik perhatian biasanya adalah yang
paling emosional, paling visual, atau paling mudah dibagikan. Kerenanya,
pengalaman spiritual yang bersifat personal dan reflektif sering kali kurang
terlihat dibandingkan konten yang lebih spektakuler atau menghibur.
Ini bukan berarti media sepenuhnya mendistorsi makna
Ramadhan, tetapi menunjukkan bahwa setiap media memiliki cara tertentu dalam
merepresentasikan realitas.
Kesadaran tentang proses pembingkaian ini penting agar
masyarakat tidak sepenuhnya menerima gambaran media secara pasif. Publik dapat
melihat bahwa Ramadhan yang muncul di layar televisi, portal berita, atau media
sosial hanyalah salah satu cara menggambarkan realitas, bukan keseluruhan
pengalaman Ramadhan itu sendiri.
Dengan memahami bagaimana media bekerja, masyarakat dapat
lebih kritis dalam melihat berbagai representasi tentang bulan suci ini.
Pada akhirnya, Ramadhan dalam kehidupan nyata jauh lebih
kaya daripada apa yang muncul di ruang media. Ia mencakup pengalaman spiritual
pribadi, praktik sosial dalam komunitas, refleksi moral, serta berbagai bentuk
solidaritas yang sering berlangsung jauh dari sorotan kamera.
Media dapat saja membingkai Ramadhan dengan berbagai cara,
tetapi makna sebenarnya dari bulan suci ini tetap dibentuk oleh pengalaman
manusia yang menjalaninya dalam kehidupan sehari-hari.
Rea Barat, 16 Maret 2026.

Komentar