Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)
Suatu siang di bulan Ramadhan, seorang pegawai kantor sedang
duduk di ruang kerja bersama beberapa rekannya. Di meja sebelah, seorang kolega
yang tidak berpuasa sedang makan siang.
Situasi itu berlangsung biasa saja. Tidak ada yang memprotes, tidak ada pula yang merasa terganggu secara berlebihan. Hanya sesekali muncul percakapan ringan: “Silakan saja makan, tidak apa-apa.”
Di
tempat lain, mungkin situasinya berbeda. Ada orang yang memilih menahan diri
untuk tidak makan di depan teman yang sedang berpuasa.
Perbedaan-perbedaan kecil seperti ini menunjukkan sesuatu
yang menarik dalam kehidupan sosial. Makna dari suatu tindakan tidak selalu
tetap. Ia sering kali dinegosiasikan dalam interaksi sehari-hari.
Dalam perspektif interaksi simbolik, manusia tidak hanya
hidup dalam dunia fisik, tetapi juga dalam dunia makna. Makna itu tidak hadir
begitu saja secara otomatis. Ia terbentuk melalui proses interaksi sosial. Yakni ketika manusia menafsirkan tindakan satu sama lain dan menyesuaikan perilakunya
berdasarkan tafsir tersebut.
Ramadhan menyediakan banyak situasi di mana proses negosiasi
makna ini berlangsung.
Puasa memang memiliki aturan yang jelas secara religius. Menahan
makan dan minum sejak fajar hingga matahari terbenam. Namun dalam kehidupan
sosial sehari-hari, praktik puasa berinteraksi dengan berbagai situasi yang
tidak selalu memiliki jawaban tunggal.
Bagaimana seseorang bersikap ketika berada di lingkungan
kerja yang beragam? Apakah makan di depan orang yang berpuasa dianggap tidak
sopan? Apakah seseorang yang berpuasa boleh tetap beraktivitas seperti biasa?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sering dijawab melalui
proses interaksi sosial, bukan hanya melalui aturan formal.
Menurut Mead, manusia bertindak berdasarkan makna yang
mereka berikan terhadap situasi tertentu. Makna tersebut terbentuk melalui
proses interpretasi yang melibatkan perspektif orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang terus-menerus
membayangkan bagaimana tindakannya akan dipahami oleh orang lain, lalu
menyesuaikan perilakunya. Proses ini terlihat jelas dalam berbagai situasi
selama Ramadhan.
Misalnya, seseorang yang tidak berpuasa mungkin memilih
untuk makan di tempat yang lebih tertutup karena ia memahami bahwa orang lain
sedang menahan lapar.
Sebaliknya, seseorang yang berpuasa mungkin mengatakan
kepada temannya bahwa ia tidak merasa terganggu jika orang lain makan di
depannya. Kedua tindakan ini sebenarnya merupakan hasil dari negosiasi makna
yang berlangsung secara halus dalam interaksi sosial.
Tidak ada aturan tertulis yang mengharuskan kedua pihak
bersikap seperti itu, tetapi kesepahaman sosial terbentuk melalui komunikasi
sehari-hari.
Negosiasi makna juga terlihat dalam banyak praktik lain
selama Ramadhan. Jam kerja sering disesuaikan dengan kondisi puasa. Aktivitas
sosial di malam hari menjadi lebih ramai. Percakapan sehari-hari juga berubah,
misalnya dengan pertanyaan seperti “sudah sahur?” atau “buka di mana nanti?”
Semua ini menunjukkan bahwa Ramadhan tidak hanya mengubah
pola ibadah, tetapi juga memengaruhi cara orang berinteraksi dan memberi makna
pada aktivitas sehari-hari.
Dalam kerangka interaksi simbolik, kehidupan sosial selalu
bersifat dinamis karena makna tidak pernah benar-benar final. Ia terus
berkembang melalui pengalaman dan komunikasi antarindividu.
Ramadhan menjadi contoh menarik bagaimana sebuah praktik
religius dapat memunculkan berbagai bentuk penyesuaian sosial dalam kehidupan
sehari-hari. Orang belajar membaca situasi, memahami perasaan orang lain, dan
menyesuaikan tindakannya berdasarkan konteks yang ada.
Proses ini juga memperlihatkan bahwa kehidupan sosial tidak
hanya diatur oleh aturan formal, tetapi juga oleh kesepahaman yang dibangun
melalui interaksi.
Sopan atau tidak sopan, pantas atau tidak pantas, sering
kali ditentukan oleh bagaimana masyarakat bersama-sama menafsirkan suatu
tindakan. Dengan kata lain, makna sosial selalu dinegosiasikan.
Ramadhan memperlihatkan proses ini dalam skala yang luas.
Selama satu bulan, masyarakat secara kolektif menyesuaikan ritme kehidupan
mereka. Jam makan berubah, aktivitas malam meningkat, dan berbagai simbol
sosial seperti adzan maghrib atau tradisi berbuka bersama memperoleh makna yang
lebih kuat.
Semua perubahan ini terjadi karena orang secara bersama-sama
menafsirkan Ramadhan sebagai momen khusus dalam kehidupan sosial. Melalui
interaksi sehari-hari, makna tersebut terus diperkuat dan diperbarui.
Dengan demikian, Ramadhan bukan hanya pengalaman spiritual
individual, tetapi juga proses sosial di mana manusia terus menegosiasikan
makna dalam kehidupan bersama.
Dalam percakapan kecil, dalam sikap saling menghargai, dan
dalam berbagai penyesuaian sederhana, masyarakat sebenarnya sedang membangun
kesepahaman tentang bagaimana menjalani bulan suci ini secara bersama-sama.
Di sinilah menariknya kehidupan sosial, bahkan dalam hal-hal
yang tampak sederhana, manusia terus menciptakan dan menegosiasikan makna
melalui interaksi sehari-hari.

Komentar