Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Setiap kali bulan Ramadhan tiba, ruang publik dipenuhi oleh berbagai percakapan yang tampak serupa dari tahun ke tahun. Media memberitakan kenaikan harga bahan pokok, pemerintah membahas stabilitas pangan, televisi menayangkan program religi. Dan media sosial dipenuhi dengan konten dakwah, kuliner berbuka, atau tips menjalani puasa dengan sehat. Dalam waktu yang relatif singkat, masyarakat seolah berbicara tentang topik-topik yang hampir sama. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan menarik. Mengapa isu-isu tertentu selalu menjadi pusat perhatian selama Ramadhan, sementara banyak aspek lain dari bulan suci ini justru jarang dibicarakan? Siapa sebenarnya yang menentukan isu apa yang dianggap penting dalam percakapan publik tentang Ramadhan? Pertanyaan ini dapat dijelaskan melalui teori agenda setting yang dikembangkan oleh Maxwell McCombs. Dalam teori ini, media tidak selalu menentukan apa yang harus dipikirkan oleh masyarakat, tetapi media sangat ...
Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Suatu siang di bulan Ramadhan, seorang pegawai kantor sedang duduk di ruang kerja bersama beberapa rekannya. Di meja sebelah, seorang kolega yang tidak berpuasa sedang makan siang. Situasi itu berlangsung biasa saja. Tidak ada yang memprotes, tidak ada pula yang merasa terganggu secara berlebihan. Hanya sesekali muncul percakapan ringan: “Silakan saja makan, tidak apa-apa.” Di tempat lain, mungkin situasinya berbeda. Ada orang yang memilih menahan diri untuk tidak makan di depan teman yang sedang berpuasa. Perbedaan-perbedaan kecil seperti ini menunjukkan sesuatu yang menarik dalam kehidupan sosial. Makna dari suatu tindakan tidak selalu tetap. Ia sering kali dinegosiasikan dalam interaksi sehari-hari. Dalam perspektif interaksi simbolik, manusia tidak hanya hidup dalam dunia fisik, tetapi juga dalam dunia makna. Makna itu tidak hadir begitu saja secara otomatis. Ia terbentuk melalui proses interaksi sosial. Yakni ketika manusia m...