Langsung ke konten utama

Postingan

Retorika Komando dan Implikasinya pada Ruang Publik

Iilustrasi Retorika Komando Oleh Hamdan eSA Kehadiran Presiden Prabowo Subianto di puncak hierarki politik Indonesia menandai babak baru dalam dinamika komunikasi publik pasca-Reformasi. Sebagai purnawirawan jenderal dengan latar belakang pasukan elite, beliau membawa habitus militer yang sangat pekat ke dalam ekosistem sipil. Fenomena pidato tanpa teks ( unscripted ) yang kerap melahirkan pernyataan spontan —yang oleh sebagian pengamat dinilai "sembrono" atau reduksionis— sebenarnya merupakan cerminan dari budaya komunikasi lapangan yang mengutamakan intuisi seketika ( gut-feeling ). Akan tetapi, ketika logika militer yang monolitik ini diproyeksikan ke dalam ruang publik demokrasi yang plural, dampaknya tidak bisa lagi dilihat sekadar sebagai masalah "salah ucap". Ucapan-ucapan spontan tersebut menciptakan efek riak ( ripple effect ) yang mendalam secara sosio-kultural dan politik, dan secara fundamental mengubah lanskap komunikasi di ruang publik kita har...
Postingan terbaru

Battlefield Communication di Ruang Sipil

Oleh Hamdan eSA Perkembangan teknologi komunikasi militer telah melahirkan sebuah konsep yang dikenal sebagai battlefield communication , yaitu sistem komunikasi yang dirancang untuk mendukung koordinasi pasukan, pengiriman perintah, pertukaran intelijen, dan pengendalian operasi tempur secara cepat dan akurat. Dalam konteks militer, komunikasi tidak hanya berfungsi sebagai alat penyampaian pesan, tetapi juga sebagai instrumen strategis yang menentukan keberhasilan operasi. Karena itu, budaya komunikasi yang terbentuk di lingkungan militer memiliki karakter yang khas, yakni hierarkis, disiplin, singkat, presisi, dan berorientasi pada tindakan. Menariknya, battlefield communication tidak selalu berhenti di medan tempur. Nilai-nilai komunikasi yang dibentuk dalam organisasi militer sering terbawa ke ruang sosial sipil ketika seorang prajurit beralih memasuki kehidupan masyarakat, birokrasi, organisasi publik, atau dunia politik. Fenomena ini menunjukkan bahwa komunikasi bukan se...

Komunikasi Sipil dan Post-Militarism (2)

ilustrasi komunikasi sipil Oleh Hamdan eSA Dampak post-militarism sangat terasa dalam lanskap politik elektoral maupun penegakan hukum hari ini. Ketika negara menghadapi krisis sosial, konflik agraria, atau gejolak politik, alih-alih memperkuat institusi sipil dan mekanisme penegakan hukum yang demokratis-humanis, sering kali justru yang digunakan adalah pendekatan keamanan ( security approach ) yang represif.   Pendisiplinan paksa dinilai jauh lebih efektif ketimbang konsensus deliberatif yang memakan waktu. Kerinduan kolektif akan hadirnya figur “pemimpin tegas” yang muncul secara berkala dalam siklus pemilu adalah bukti empiris bahwa hegemoni budaya Orde Baru belum sepenuhnya luruh dari memori kolektif bangsa ini.   Pada akhirnya, Indonesia kini berdiri di persimpangan jalan yang penuh paradoks. Secara institusional kita adalah negara demokrasi sipil yang diakui dunia, namun secara kultural kita masih memendam hasrat militeristik yang kronis di ruang privat maupun publik. ...

Komunikasi Sipil dan Post-Militarism (1)

Ilustrasi Komunikasi Sipil Oleh Hamdan eSA .   Hampir tiga dekade setelah terbitnya fajar Reformasi 1998, struktur politik formal Indonesia secara bertahap berhasil dibersihkan dari intervensi langsung militer. Konstitusi telah menegaskan supremasi sipil, dan institusi pertahanan secara resmi ditempatkan di luar urusan politik praktis.   Jika kita coba mengalihkan lensa analisis dari permukaan institusional menuju ke kedalaman kultur interaksi masyarakat sehari-hari, kita akan dihadapkan pada sebuah kontradiksi yang mencemaskan. Indonesia hari ini justru sedang merawat sebuah kondisi kronis yang dapat disebut sebagai post-militarism budaya.   Watak, logika, dan etika militeristik tidak lagi dipaksakan oleh negara atau militer, justru sebaliknya melainkan diadopsi dan dirawat secara sukarela penuh bahagia dalam budaya komunikasi warga sipil sendiri (bottom-up).   Dalam kajian budaya komunikasi, post-militarism (bedakan dengan militerism ) tidak bekerj...

Dari Perjumpaan di Baskom Mandi ke Panggung Terbesar Dunia

Oleh Hamdan eSA Di penghujung 2007, pada ruang ganti Camp Nou, seorang pemuda berusia 20 tahun tampak kikuk memandikan seorang bayi berusia enam bulan. Ia belum menjadi legenda, baru seorang bocah ajaib Barcelona yang mulai dikenal dunia. Namanya Lionel Messi. Sementara, bayi itu bernama Lamine Yamal. Momen itu bukan bagian dari film, bukan pula adegan yang direkayasa untuk iklan. Itu hanyalah sesi foto amal UNICEF. Keluarga Yamal memenangkan undian untuk berfoto bersama pemain Barcelona. Tak ada yang mengira bahwa jepretan kamera Joan Monfort hari itu sedang mengabadikan sebuah cerita yang baru akan dipahami hampir dua puluh tahun kemudian (saat ini). Foto itu kemudian terlupakan. Messi menjelma menjadi pemain terbesar dalam sejarah sepak bola. Delapan Ballon d'Or, trofi Liga Champions, Copa América, hingga akhirnya mengangkat Piala Dunia bersama Argentina. Di sisi lain, bayi yang pernah dimandikannya tumbuh di jalanan Rocafonda, Mataró, dalam keluarga Muslim. Ia belajar menendang...

Stan, Ego Extension, dan Sepak Bola

Oleh Hamdan eSA Tidak ada seorang yang lahir langsung sebagai fans dari bintang idola. Awalnya, mereka tumbuh sebagai penonton biasa. Menyukai sepak bola sebagaimana orang menyukai hujan sore, secangkir kopi, melirik anak tetangga. Semua berawal dari rasa kagum. Mungkin dari sebuah gol yang menurutnya indah. Atau dari sebuah umpan yang impossible . Atau seorang pemain yang berkali-kali membuat kita berdiri dari duduk sambil berteriak, “Gokil”! Begitulah jalan seorang idola ditemukan penggemarnya. Lalu datang media sosial. Hampir semua hal tentang pemain favorit diketahui secara detil. Kita tahu bagaimana ia berlatih. Kita tahu bagaimana ia merayakan ulang tahun anaknya. Kita tahu mobil apa yang ia kendarai, jam tangan apa yang ia pakai, bahkan ekspresi wajahnya ketika kalah. Dan anehnya, kita tiba-tiba saja merasa sangat dekat dengan dia sang idola itu, padahal dia sendiri bahkan tidak pernah dengar nama kita. Piala dunia sepak bola selalu memperlihatkan perubahan itu dengan sangat te...

Messi, Ronaldo, dan Attention Industry

Oleh Hamdan eSA Jika kita coba bertanya, apa komoditas paling laris dalam industri sepak bola? Mungkin sebagian besar orang akan menjawab si bola bundar. Jawaban itu memang terdengar masuk akal, sebab tanpa bola, pertandingan tidak akan pernah dimulai. Tapi justru di situlah jebakannya. Kita terlalu sering melihat sepak bola dari dalam lapangan, padahal industri sepak bola sudah lama berpindah ke luar stadion. Di sana, yang diperjualbelikan bukan lagi sekadar permainan, melainkan perhatian, citra, emosi, dan identitas. Bayangkan sebuah pertandingan biasa dengan bola yang sama, aturan yang sama, dan stadion yang sama, tetapi tanpa Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi. Bandingkan dengan pertandingan yang menghadirkan salah satu dari keduanya. Mana yang lebih banyak ditonton? Mana yang lebih ramai diperbincangkan? Mana yang lebih mahal harga hak siarnya? Mana yang membuat sponsor rela mengeluarkan miliaran rupiah? Jawabannya hampir pasti sama. Yang dijual bukan bolanya, melainkan figur yan...