Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Beberapa hari sebelum Ramadhan dimulai, pesan-pesan singkat mulai bermunculan di berbagai percakapan digital. Di grup keluarga, seseorang menulis, “Selamat menunaikan ibadah puasa, mohon maaf lahir dan batin”. Di media sosial, orang mengunggah gambar bertema Ramadhan dengan ucapan yang serupa. Di kantor, rekan kerja yang beragama berbeda juga ikut mengatakan, “Selamat berpuasa”. Kalimat itu sangat sederhana. Hanya dua kata: selamat berpuasa. Tapi dalam kehidupan sosial, ucapan sederhana seperti ini memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar rangkaian kata. Dalam perspektif interaksi simbolik George Herbert Mead, kehidupan sosial manusia dibangun melalui pertukaran simbol yang memiliki makna bersama. Bahasa adalah salah satu simbol paling penting dalam proses ini. Melalui kata-kata, manusia tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun hubungan sosial, mengakui identitas, dan menegaskan posisi dirinya dalam suat...
Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Suatu sore jelang berbuka, seorang mahasiswa sedang berdiri tepat depan warung kecil di pinggir jalan. Ia terlihat ragu-ragu. Di depannya tersedia berbagai minuman dingin yang tampak menyegarkan setelah seharian berpuasa. Ia menatap jam di ponselnya. Waktu maghrib masih sekitar dua jam lagi. Tidak ada orang yang memperhatikan apakah ia akan minum sekarang atau menunggu beberapa saat lagi. Namun akhirnya ia menghela napas dan menutup kembali botol minuman yang sempat ia buka. Keputusan kecil itu tampak sederhana. Tetapi sesungguhnya di sanalah proses penting sedang terjadi. Seseorang sedang bernegosiasi dengan dirinya sendiri. Dalam perspektif interaksi simbolik yang dikembangkan oleh George Herbert Mead, diri manusia ( self ) tidak terbentuk secara otomatis sejak lahir. Diri berkembang melalui proses interaksi sosial. Terbentuk melalui cara seseorang memahami harapan orang lain dan menafsirkan makna dari tindakan-tindakannya sendiri....