Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Seorang dosen dikenal tegas dan cepat berbicara saat di kelas. Ia jarang memberi jeda, penjelasannya mengalir seperti deret poin yang harus segera selesai. Saat Ramadhan, mahasiswanya merasakan sesuatu yang berbeda. Ia berbicara lebih pelan, memberi ruang tanya lebih panjang, bahkan beberapa kali tersenyum sebelum menjawab. Suatu hari seorang mahasiswa datang terlambat. Biasanya ia langsung menegur. Kali itu ia hanya berkata, “Silakan duduk. Lain kali lebih awal, ya”. Seusai kelas, seorang mahasiswa berbisik, “Bapak kelihatan lebih tenang bulan ini”. Mungkin bukan hanya kata-katanya yang berubah. Cara ia berdiri, menatap, dan memberi jeda, semuanya seperti sedang menyampaikan pesan tanpa suara. *** Puasa sering dipahami sebagai praktik menahan lapar dan dahaga. Ia ditempatkan dalam kerangka disiplin spiritual yang bersifat internal; hubungan antara manusia dan Tuhan. Namun jika kita melihat lebih jernih, puasa tidak berhenti pada w...
Hamdan eSA Seorang pegawai kantor pernah berkata bahwa ia baru benar-benar “mendengar” jam dinding saat Ramadhan. Pada bulan-bulan biasa, ia jarang memperhatikan waktu selain untuk rapat atau tenggat pekerjaan. Tetapi ketika berpuasa, terutama menjelang magrib, detik terasa lebih panjang. Ia beberapa kali melirik jam, bukan karena takut terlambat, melainkan karena menunggu satu momen yang sama setiap hari: adzan. Suatu sore, listrik di kantornya sempat padam. Jam digital mati. Ia merasa gelisah, seolah kehilangan pegangan. “Ternyata saya tidak hanya menunggu makanan,” katanya, “saya menunggu tanda.” Sejak itu ia sadar, selama Ramadhan, waktu bukan sekadar angka. Ia menjadi bahasa yang ia dengarkan dengan lebih peka. *** Pada bulan-bulan biasa, waktu berjalan tanpa banyak kita sadari. Pagi dimulai dengan tergesa, siang dipenuhi pekerjaan, malam ditutup dengan kelelahan. Jam hanya alat ukur produktivitas. Ia netral, datar, dan mekanis. Namun ketika Ramadhan datang, waktu ber...