Langsung ke konten utama

Postingan

Stan, Ego Extension, dan Sepak Bola

Oleh Hamdan eSA Tidak ada seorang yang lahir langsung sebagai fans dari bintang idola. Awalnya, mereka tumbuh sebagai penonton biasa. Menyukai sepak bola sebagaimana orang menyukai hujan sore, secangkir kopi, melirik anak tetangga. Semua berawal dari rasa kagum. Mungkin dari sebuah gol yang menurutnya indah. Atau dari sebuah umpan yang impossible . Atau seorang pemain yang berkali-kali membuat kita berdiri dari duduk sambil berteriak, “Gokil”! Begitulah jalan seorang idola ditemukan penggemarnya. Lalu datang media sosial. Hampir semua hal tentang pemain favorit diketahui secara detil. Kita tahu bagaimana ia berlatih. Kita tahu bagaimana ia merayakan ulang tahun anaknya. Kita tahu mobil apa yang ia kendarai, jam tangan apa yang ia pakai, bahkan ekspresi wajahnya ketika kalah. Dan anehnya, kita tiba-tiba saja merasa sangat dekat dengan dia sang idola itu, padahal dia sendiri bahkan tidak pernah dengar nama kita. Piala dunia sepak bola selalu memperlihatkan perubahan itu dengan sangat te...
Postingan terbaru

Messi, Ronaldo, dan Attention Industry

Oleh Hamdan eSA Jika kita coba bertanya, apa komoditas paling laris dalam industri sepak bola? Mungkin sebagian besar orang akan menjawab si bola bundar. Jawaban itu memang terdengar masuk akal, sebab tanpa bola, pertandingan tidak akan pernah dimulai. Tapi justru di situlah jebakannya. Kita terlalu sering melihat sepak bola dari dalam lapangan, padahal industri sepak bola sudah lama berpindah ke luar stadion. Di sana, yang diperjualbelikan bukan lagi sekadar permainan, melainkan perhatian, citra, emosi, dan identitas. Bayangkan sebuah pertandingan biasa dengan bola yang sama, aturan yang sama, dan stadion yang sama, tetapi tanpa Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi. Bandingkan dengan pertandingan yang menghadirkan salah satu dari keduanya. Mana yang lebih banyak ditonton? Mana yang lebih ramai diperbincangkan? Mana yang lebih mahal harga hak siarnya? Mana yang membuat sponsor rela mengeluarkan miliaran rupiah? Jawabannya hampir pasti sama. Yang dijual bukan bolanya, melainkan figur yan...

Iman, Takdir Rejeki, dan Corrupt Governance

Oleh: Hamdan eSA Bagi banyak orang, kalimat “rezeki sudah diatur oleh Tuhan” telah menjadi keyakinan dan pegangan hidup yang memberikan ketenangan. Keyakinan ini menanamkan rasa optimis bahwa setiap manusia yang lahir ke bumi sudah dijamin pemenuhan kebutuhan dasarnya oleh Sang Pencipta. Dalam perkembangannya, ketenangan spiritual ini dapat tergoyahkan ketika berhadapan dengan kenyataan pahit bahwa kehidupan masyarakat berada di bawah kendali pemerintahan –jika tidak ingin disebut kekuasaan– yang korup. Ketika sistem pemerintahan tidak lagi berpihak pada rakyat, tindakan menghalangi rezeki warga negara bukan lagi sekadar soal oknum pejabat yang mencuri uang (korupsi). Bentuknya meluas menjadi kebijakan yang tidak adil, hukum yang tajam ke bawah, hingga penyempitan akses ekonomi bagi rakyat kecil. Pada titik itu, pertanyaan besar muncul menginterupsi. Bagaimana seseorang bisa tetap percaya pada takdir rejeki dari keadilan Tuhan jika seluruh sistem di dunia nyata dirancang untuk me...

Antara Teks dan Konteks: Problem Makna Melihat Hilal dalam Islam Kontemporer

Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Perdebatan mengenai penentuan awal Ramadhan dan Idul Fitri selalu berulang setiap tahun. Menghadirkan terus-menerus ketegangan klasik antara teks dan konteks dalam praktik keagamaan Islam. Mendebatkan “hilal” seakan menjadi ritual penting menyambut Ramadhan dan Syawal. Setara pentingnya dengan ibadah puasa dan shalat Id itu sendiri. Di satu sisi, terdapat dorongan untuk mempertahankan kesetiaan pada teks hadis dari Nabi Muhammad yang menyatakan, “berpuasalah karena melihat hilal.” Di sisi lain, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menawarkan cara yang jauh lebih akurat dalam menentukan posisi bulan tanpa harus bergantung pada pengamatan langsung. Ketegangan ini bukan sekadar persoalan metode, melainkan mencerminkan problem yang lebih dalam. Bagaimana umat Islam memaknai tanda-tanda agama di tengah perubahan zaman. Secara konseptual, hilal adalah tanda alam ( sign ) yang berfungsi sebagai indikator masuk dan berakhirnya wak...

Ramadhan sebagai Proses Persuasi Spiritual

Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Pada pembahasan sebelumnya puasa dipahami sebagai proses transformasi psikologis yang terjadi melalui paparan pesan dan pengalaman selama Ramadhan. Esai kali ini akan melihat bagaimana perubahan tersebut sebenarnya bekerja sebagai proses persuasi. Perubahan sikap tidak terjadi begitu saja, tetapi melalui mekanisme komunikasi yang secara perlahan memengaruhi cara berpikir, merasakan, dan bertindak. Dalam konteks ini, Ramadhan dapat dilihat bukan hanya sebagai pengalaman spiritual, tetapi juga sebagai proses persuasi yang berlangsung secara terus-menerus dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kajian psikologi komunikasi, perspektif ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran Carl Hovland yang meneliti bagaimana pesan dapat mengubah sikap manusia. Hovland menunjukkan bahwa persuasi tidak hanya bergantung pada isi pesan, tetapi juga pada sumber pesan, cara penyampaian, dan kondisi audiens. Jika ketiga unsur ini bekerja secara efektif, maka kemungkinan peru...

Puasa dan Transformasi Psikologis

Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Ramadhan, membuat banyak orang memiliki harapan yang hampir sama, mereka ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Ada yang berharap lebih sabar, lebih mampu menahan emosi, lebih disiplin dalam ibadah, atau lebih peduli terhadap orang lain. Harapan-harapan ini menunjukkan bahwa puasa tidak hanya dipahami sebagai kewajiban ritual, tetapi juga sebagai proses perubahan diri. Pertanyaaannya, perubahan seperti apa sebenarnya yang terjadi selama Ramadhan? Apakah puasa benar-benar mampu mengubah sikap dan perilaku manusia? Mari kita melihatnya melalui perspektif psikologi komunikasi, khususnya teori perubahan sikap yang dikembangkan oleh Carl Hovland. Dalam penelitiannya tentang komunikasi persuasif, Hovland menjelaskan bahwa perubahan sikap manusia sering terjadi melalui proses komunikasi yang berulang, di mana pesan-pesan tertentu secara terus-menerus memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan bertindak. Selama satu Ramadhan penuh, individu ...

Ramadhan dalam Framing Media

Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Pada esai kemarin kita melihat bagaimana media menentukan isu apa yang dianggap penting ( agenda setting ) selama Ramadhan. Esai kali ini kita akan melihat bagaimana isu yang dianggap penting tersebut ditampilkan kepada publik ( framing ).   Media tidak hanya memilih topik tertentu untuk diberitakan, tetapi juga membingkai realitas dengan sudut pandang tertentu. Cara sebuah peristiwa diceritakan: apa yang ditonjolkan, apa yang dipinggirkan, dan bagaimana narasi disusun, akan memengaruhi cara masyarakat memahami Ramadhan itu sendiri. Dengan kata lain, setelah agenda publik terbentuk, media kemudian membangun bingkai makna yang memandu cara kita melihat bulan suci ini. Setiap kali bulan Ramadhan tiba, wajah media berubah dengan sangat cepat. Program televisi dipenuhi acara religi, portal berita menampilkan liputan tentang puasa dan aktivitas sosial, sementara media sosial dipenuhi konten dakwah, cerita spiritual, hingga rekomendasi kuliner ...