Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Ramadhan, membuat banyak orang memiliki harapan yang hampir sama, mereka ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Ada yang berharap lebih sabar, lebih mampu menahan emosi, lebih disiplin dalam ibadah, atau lebih peduli terhadap orang lain. Harapan-harapan ini menunjukkan bahwa puasa tidak hanya dipahami sebagai kewajiban ritual, tetapi juga sebagai proses perubahan diri. Pertanyaaannya, perubahan seperti apa sebenarnya yang terjadi selama Ramadhan? Apakah puasa benar-benar mampu mengubah sikap dan perilaku manusia? Mari kita melihatnya melalui perspektif psikologi komunikasi, khususnya teori perubahan sikap yang dikembangkan oleh Carl Hovland. Dalam penelitiannya tentang komunikasi persuasif, Hovland menjelaskan bahwa perubahan sikap manusia sering terjadi melalui proses komunikasi yang berulang, di mana pesan-pesan tertentu secara terus-menerus memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan bertindak. Selama satu Ramadhan penuh, individu ...
Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Pada esai kemarin kita melihat bagaimana media menentukan isu apa yang dianggap penting ( agenda setting ) selama Ramadhan. Esai kali ini kita akan melihat bagaimana isu yang dianggap penting tersebut ditampilkan kepada publik ( framing ). Media tidak hanya memilih topik tertentu untuk diberitakan, tetapi juga membingkai realitas dengan sudut pandang tertentu. Cara sebuah peristiwa diceritakan: apa yang ditonjolkan, apa yang dipinggirkan, dan bagaimana narasi disusun, akan memengaruhi cara masyarakat memahami Ramadhan itu sendiri. Dengan kata lain, setelah agenda publik terbentuk, media kemudian membangun bingkai makna yang memandu cara kita melihat bulan suci ini. Setiap kali bulan Ramadhan tiba, wajah media berubah dengan sangat cepat. Program televisi dipenuhi acara religi, portal berita menampilkan liputan tentang puasa dan aktivitas sosial, sementara media sosial dipenuhi konten dakwah, cerita spiritual, hingga rekomendasi kuliner ...