Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)
Tubuh modern bukan lagi sekadar entitas biologis. Ia adalah proyek. Ia diukur, ditata, diawasi, dan dioptimalkan. Jadwal makan diatur, jumlah kalori dihitung, langkah kaki direkam, jam tidur dipantau.
Tubuh menjadi objek manajemen yang terus-menerus. Dalam
bahasa Michel Foucault, tubuh adalah locus kekuasaan, tempat di mana disiplin
bekerja secara halus namun sistematis.
Foucault menunjukkan bahwa kekuasaan modern tidak lagi
terutama bekerja melalui hukuman yang kasar dan represif, melainkan melalui
mekanisme disiplin yang membuat individu mengawasi dirinya sendiri.
Sekolah, barak militer, rumah sakit, dan penjara adalah
contoh institusi yang melatih tubuh agar patuh, teratur, dan produktif.
Disiplin menghasilkan tubuh-tubuh yang “berguna” dan “tunduk” sekaligus.
Dalam masyarakat kontemporer, mekanisme itu tidak hilang. Ia
justru bertransformasi. Tubuh didorong untuk selalu fit, selalu ideal, selalu
siap tampil. Standar kecantikan dan kebugaran dibentuk oleh industri media dan
pasar.
Diet menjadi tren, olahraga menjadi gaya hidup, detoks
menjadi ritual berkala. Tubuh bukan hanya didisiplinkan oleh negara, tetapi
juga oleh logika konsumsi dan citra.
Di tengah konfigurasi itu, puasa menghadirkan dinamika yang
menarik.
Sekilas, puasa tampak seperti bentuk disiplin tubuh yang
paling jelas. Makan diatur, minum dibatasi, hasrat dikendalikan. Namun puasa
berbeda dari disiplin modern yang berorientasi pada produktivitas dan performa.
Puasa tidak bertujuan membuat tubuh lebih efisien secara
ekonomi, tidak pula untuk meningkatkan daya saing. Puasa justru memperlambat
ritme. Ia menciptakan jarak dari dorongan instingtif dan dari siklus konsumsi
yang terus-menerus.
Jika disiplin modern membentuk tubuh agar sesuai dengan
norma eksternal: standar pasar, standar institusi, standar sosial, maka puasa
menggeser pusat kendali itu lebih ke dalam.
Puasa adalah latihan kesadaran. Tubuh tetap menjadi medan
latihan, tetapi orientasinya bukan pada kepatuhan terhadap sistem, melainkan
pada penguasaan diri.
Foucault kemudian mengembangkan gagasan tentang “teknologi
diri” (technologies of the self), yakni praktik-praktik di mana individu
secara aktif membentuk dirinya melalui latihan tertentu.
Dalam pengertian ini, puasa dapat dibaca sebagai teknologi
diri yang telah berusia panjang. Ia bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan
metode pembentukan subjek: subjek yang mampu mengatakan “tidak” pada dorongan
yang paling dasar sekalipun.
Perbedaannya menjadi jelas ketika dibandingkan dengan diet
modern. Diet sering kali digerakkan oleh kecemasan akan citra, yakni bagaimana
tubuh terlihat di hadapan orang lain.
Puasa, idealnya, bergerak dari kesadaran batin: bagaimana
diri berdiri di hadapan nilai yang diyakini. Diet berorientasi pada tampilan;
puasa berorientasi pada transformasi.
Namun tentu saja, puasa tidak otomatis terbebas dari logika
disiplin modern. Ia bisa saja direduksi menjadi rutinitas formal tanpa
refleksi, atau bahkan menjadi ajang kompetisi kesalehan simbolik.
Di titik ini, puasa berisiko terserap kembali ke dalam
mekanisme pengawasan sosial. Siapa yang paling tampak religius, siapa yang
paling konsisten secara lahiriah.
Karena itu, yang menentukan bukan hanya praktiknya, tetapi
kesadaran yang menyertainya.
Dalam perspektif disiplin tubuh, puasa membuka kemungkinan
pembalikan arah kekuasaan. Tubuh yang sehari-hari dibentuk oleh ritme pasar (jam
makan yang fleksibel, camilan yang selalu tersedia, konsumsi yang instan) dipaksa
berhenti. Ia dihadapkan pada batas. Dan dalam batas itu, muncul pengalaman
bahwa tubuh tidak selalu harus mengikuti setiap dorongan.
Di situlah letak potensi kritis puasa terhadap tubuh modern.
Ia mengingatkan bahwa kebebasan bukan berarti mengikuti semua keinginan, dan
bahwa pengendalian diri bukanlah penindasan, melainkan bentuk kedaulatan atas
diri.
Sebaliknya, dalam dunia yang mendorong konsumsi tanpa henti,
kemampuan untuk menahan diri menjadi tindakan yang hampir subversif.
Tubuh modern sering kali diklaim sebagai ruang otonomi
individu. Namun otonomi itu kerap terikat oleh standar yang tak terlihat.
Puasa, ketika dijalani secara sadar, menawarkan jenis otonomi yang berbeda. Bukan
otonomi untuk mengonsumsi, melainkan otonomi untuk membatasi diri.
Dengan demikian, puasa bukan sekadar praktik spiritual,
tetapi juga peristiwa politis dalam arti halus. Ia menginterupsi logika
disiplin yang menjadikan tubuh semata alat produksi dan konsumsi. Ia
mengembalikan tubuh sebagai ruang latihan kebebasan batin.
Dan mungkin, di tengah budaya yang terus memacu tubuh untuk
tampil dan berfungsi, puasa adalah cara sunyi untuk berkata: tubuh ini bukan
hanya milik sistem, melainkan juga milik kesadaran.

Komentar