Langsung ke konten utama

Medium Kini Menjadi Arsitek Iman


Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)

Dalam pemikiran Marshall McLuhan, medium bukan sekadar saluran penyampai pesan, tetapi ia menjadi lingkungan yang membentuk cara manusia merasakan dan memahami realitas. Di era digital, medium tidak lagi berdiri di belakang iman sebagai alat bantu penyebaran dakwah. Ia tampil di depan sebagai arsitek yang merancang ruang pengalaman religius itu sendiri.

Struktur platform, logika algoritma, dan budaya visual tidak hanya membawa ajaran agama, tetapi membingkai bagaimana ajaran itu dihayati. Jika dahulu iman tumbuh dalam irama mimbar, majelis, dan tatap muka, kini ia berkembang dalam arsitektur timeline, notifikasi, dan distribusi digital yang membentuk pola perhatian, otoritas, serta cara umat memaknai keberagamaan.

Dakwah di masjid bertumpu pada kehadiran fisik, suasana kolektif, dan ritme waktu yang relatif lambat. Ia mengandaikan kedekatan spasial dan relasi interpersonal langsung antara mubalig dan jamaah.

Sebaliknya, dakwah digital berlangsung dalam ruang tanpa batas geografis, tanpa tatap muka, dan dalam logika distribusi yang ditentukan oleh sistem platform. Ceramah tidak lagi menunggu jamaah datang; ia mengejar perhatian pengguna melalui notifikasi, thumbnail, dan judul yang kompetitif.

Di sinilah tesis McLuhan menemukan relevansinya: the medium is the message. Medium digital membentuk pengalaman dakwah sebagai pengalaman visual dan instan. Video pendek, potongan satu menit, atau kutipan yang dipadatkan menjadi kartu grafis menciptakan pola konsumsi pesan yang serba ringkas.

Kesadaran religius pun berisiko menjadi kesadaran fragmen, terbiasa pada potongan hikmah, bukan argumentasi utuh. Pada kutipan motivasional, bukan pendalaman konseptual.

Transformasi ini juga menyentuh dimensi otoritas. Dalam ruang digital, otoritas keagamaan tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh sanad keilmuan atau legitimasi institusional, melainkan oleh visibilitas dan jangkauan. Jumlah pengikut, tingkat interaksi, dan algoritma distribusi ikut menentukan siapa yang terdengar dan siapa yang tenggelam.

Otoritas bergerak dari struktur tradisional menuju struktur jaringan. Dalam istilah komunikasi, legitimasi mengalami mediasi ulang oleh sistem platform.

Namun demikian, transformasi kesadaran tidak selalu bermakna degradasi. Medium digital juga memperluas akses terhadap pengetahuan agama. Materi yang dahulu terbatas pada ruang-ruang tertentu kini dapat diakses lintas wilayah dan kelas sosial.

Dakwah menjadi lebih inklusif dan partisipatif. Jamaah bukan hanya penerima pesan, tetapi dapat merespons, bertanya, bahkan memproduksi ulang pesan dalam bentuk baru. Di sini muncul dimensi dialogis yang sebelumnya lebih terbatas.

Akan tetapi, dialog yang dimediasi platform memiliki logika sendiri. Interaksi seringkali dipadatkan menjadi komentar singkat, simbol, atau reaksi cepat. Kompleksitas teologis berhadapan dengan budaya respons instan.

Kesadaran yang terbentuk adalah kesadaran yang terbiasa pada kecepatan, bukan kedalaman. Medium digital, sebagaimana dipahami McLuhan, bekerja pada tingkat lingkungan, ia mengondisikan cara berpikir sebelum isi pesan disadari sepenuhnya.

Transformasi kesadaran juga tampak pada relasi antara privat dan publik. Praktik keagamaan yang sebelumnya bersifat personal kini mudah terekspos. Dokumentasi ibadah, potongan doa, atau refleksi spiritual beredar sebagai konten. 

Identitas religius tampil sebagai representasi yang dapat dilihat, dibagikan, dan diukur melalui statistik keterlibatan. Kesadaran religius bergerak dalam ketegangan antara keikhlasan batin dan eksposur digital.

Lebih jauh, dakwah digital beroperasi dalam ekosistem algoritma yang menyaring dan mempersonalisasi konten. Setiap pengguna menerima versi realitas religius yang sedikit berbeda, sesuai pola konsumsi sebelumnya.

Ini menciptakan ruang gema (echo chamber) yang dapat memperkuat perspektif tertentu tanpa dialog lintas pandangan. Dalam konteks komunikasi, medium bukan lagi sekadar saluran, melainkan arsitek pengalaman keagamaan yang terpersonalisasi.

Dari sudut pandang McLuhan, masyarakat digital cenderung kembali pada pola “tribal” dalam bentuk baru, yakni komunitas yang terikat oleh minat dan preferensi serupa, meski tidak berada dalam ruang fisik yang sama.

Dakwah digital dapat membentuk komunitas daring yang solid, tetapi juga rentan terhadap polarisasi. Kesadaran kolektif dibangun bukan melalui pertemuan tatap muka, melainkan melalui keterhubungan simultan yang dimediasi layar.

Dengan demikian, dakwah digital tidak dapat dipahami hanya sebagai strategi komunikasi modern. Ia adalah pergeseran ekologis dalam pengalaman beragama.

Medium digital mengubah ritme, struktur, dan bentuk partisipasi dalam praktik dakwah. Ia membentuk kesadaran religius yang lebih visual, lebih cepat, lebih interaktif, tetapi sekaligus lebih terfragmentasi dan rentan terhadap logika popularitas.

Pertanyaannya kemudian bukan sekadar bagaimana membuat konten dakwah yang menarik, melainkan bagaimana menjaga kedalaman makna dalam lingkungan yang mendorong kecepatan.

Jika medium adalah pesan, maka tugas komunikasi keagamaan hari ini adalah menyadari efek struktur medium itu sendiri. Medium digital tidak hanya alat menyampaikan ajaran, tetapi justru menjadi unsur utama yang “mengarsiteki” cara umat memahami, merasakan, dan menghayati ajaran tersebut. 

Di titik inilah transformasi kesadaran berlangsung, diam-diam, namun mendasar. Mari periksa ulang iman kita masing-masing, apakah ia saat ini hasil bentukan dan konstruksi dari medium digital?

Rea Barat, 4 Maret 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahasiswi Komunikasi Unasman Raih Juara 1 Lomba Karya Ilmiah HUT Lalu Lintas Bayangkara Ke-69

  Artika Ananda Putri, Mahasiswa Ilmu Kounikasi Unasman andankji.com, Polman  ~~ Prestasi membanggakan diraih oleh mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Al Asyariah Mandar (FISIP Unasman). Artika Ananda Putri, berhasil meraih Juara 1 dalam Lomba Karya Ilmiah yang diselenggarakan oleh Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Sulawesi Barat, dalam rangka memperingati HUT Lalu Lintas Bhayangkara ke-69 tahun 2024. Lomba yang bertemakan "Polantas Presisi Hadir" ini diikuti oleh 40 peserta mahasiswa Perguruan Tinggi se-Sulbar dan mahasiswa dari berbagai universitas di luar Sulbar yang ber-KTP Sulbar. Artika Ananda Putri mengangkat karya ilmiah berjudul; “Menuju Sulbar Sejahtera: Optimalisasi Regional Traffic Management Centre (RTMC) melalui Gerakan Satu Hari Tanpa Pelanggaran”, yang dinilai unggul dari segi kreativitas gagasan, orisinalitas, analisis, dan sistematika penulisan. Kaprodi Ilmu Komunikasi, Dr. Hamdan, M.Ag, memandang bah...

Ahmadiyah, NII dan Candoleng-doleng

Oleh: Hamdan Akhir Mei 2011 lalu saya berada di sebuah pelosok kampung untuk beberapa waktu. Saat jumatan, sebelum azan dikumandangkan, Kades sebagai aparat dan tentunya mewakili Negara, menyampaikan pengumuman dari pemerintah kepada seluruh warga khususnya umat Islam untuk mewaspadai dua hal yang mengancam stabilitas kehidupan sosial warga, yakni: (1) tentang hadirnya aliran sesat Ahmadiyah yang mengajarkan adanya nabi setelah Muhammad saw, dan (2) hadirnya Negara Islam Indonesia (NII) yang menginginkan berdirinya Negara Islam secara terpisah dari Negara Kesatuan RI. Kedua hal di atas memfokuskan sasaran penyebaran misinya pada generasi muda. Karenanya jika warga menemukan hal-hal yang mencurigakan, kiranya segera melaporkan ke pemerintah setempat. Sekitar sepuluh hari kemudian, masih di kampong yang sama, saya terjaga saat dini hari pukul 01.30-an karena merasa lapar. Soalnya kemudian bukan soal terjaga, tetapi tak bias tidur setelah perut sudah terisi. Yang menganggu adalah dentuman...

TEOLOGI INTEGRALISTIK (Pendekatan Sejarah)

oleh: Prof. Dr. H.M. Saleh Putuhena Pendahuluan Sejak 1970-an dialog antar umat beragama mulai digiatkan oleh Departemen Agama. Ketika itu Menteri Agama (1972-1977) di jabat oleh Mukti Ali, professor perbandingan agama pada IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Sebagai seorang menteri yang berasal dari kalangan intelektual Muslim , ia sangat peduli pada dua hal penataan masalah pendidikan dan kerukunan umat beragama yang memang menjadi salah satu tugas Departemen Agama sejak didirikan 1946. Selama ini tugas pokok tersebut terkesan diabaikan. Meskipun secara sporadis terjadi konflik antara umat beragama di beberapa daerah terutama setelah 1965. Meskipun dialog atau pertemuan antar umat beragama tetap dilaksanakan secara intensif baik oleh Departemen Agama, maupun oleh organisasi keagamaan, tetapi tampaknya kurang berhasil dalam membina kerukunan antar umat beragama. Konflik antar umat beragama masih tetap juga terjadi. Rangkaian konflik yang terjadi pada penghujung abad XX berupa peri...