Langsung ke konten utama

Ramadhan sebagai Konten


Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)

Di bulan Ramadhan, bila diibaratkan sebagai orang, media sosial berubah wajah. Ia berjalan dengan wajah yang beda dari sebelumnya. Linimasa yang biasanya dipenuhi berbagai topik tiba-tiba dipenuhi nuansa religius. Ada video sahur bersama keluarga, ada potongan ceramah singkat, kutipan ayat dengan latar musik lembut, hingga vlog perjalanan berburu takjil.

Hampir setiap hari ada konten baru yang mengangkat suasana Ramadhan. Bulan suci tidak hanya dijalani, tetapi juga diproduksi, direkam, dan disebarkan. Fenomena ini menunjukkan satu hal penting, bahwa Ramadhan kini juga hidup sebagai konten komunikasi.

Dalam perspektif teori simulasi dari Jean Baudrillard, masyarakat modern tidak hanya hidup dalam realitas, tetapi juga dalam jaringan representasi dalam bentuk gambar, simbol, dan narasi yang beredar melalui media. Dalam dunia yang dipenuhi media, realitas sering hadir kepada kita bukan melalui pengalaman langsung, tetapi melalui representasinya.

Ramadhan di ruang digital adalah contoh yang menarik. Kita mungkin tidak berada di sebuah kota tertentu, tetapi melalui video kita bisa “merasakan” suasana pasar takjilnya.

Kita mungkin tidak ikut sebuah pengajian, tetapi potongan ceramahnya muncul di layar ponsel kita. Bahkan momen ibadah pribadi, seperti doa, sedekah, atau tangis haru, kadang tampil sebagai bagian dari cerita visual yang dibagikan kepada publik.

Di fase ini, pengalaman religius berubah menjadi materi komunikasi. Ramadhan menjadi konten. Perubahan ini tidak selalu negatif. Justru melalui media digital, pesan-pesan keagamaan dapat menjangkau orang yang lebih luas.

Ceramah singkat bisa didengar oleh jutaan orang. Kisah inspiratif dapat menyentuh mereka yang sebelumnya jauh dari ruang-ruang keagamaan. Dalam banyak kasus, konten religius menjadi pintu masuk bagi kesadaran spiritual.

Persoalannya menjadi lebih kompleks ketika logika media sosial mulai membentuk cara religiusitas itu ditampilkan. Media sosial bekerja dengan prinsip perhatian.

Konten yang menarik akan lebih banyak dilihat. Konten yang emosional akan lebih mudah dibagikan. Konten yang visual akan lebih cepat viral. Akibatnya, pengalaman Ramadhan sering dikemas mengikuti logika ini: harus menyentuh, harus dramatis, harus estetik.

Tangisan dalam doa menjadi klip pendek yang menyentuh hati. Sedekah kepada orang miskin direkam dalam video yang mengharukan. Bahkan perjalanan spiritual seseorang sering disajikan sebagai narasi yang rapi, dari masa lalu yang gelap menuju hijrah yang terang.

Semua itu sebenarnya adalah bentuk komunikasi. Tetapi dalam istilah Baudrillard, kita mulai memasuki wilayah simulasi, yakni ketika beragam tanda tentang sesuatu beredar begitu kuat sehingga perlahan membentuk gambaran tentang realitas itu sendiri.

Dalam konteks ini, “Ramadhan sebagai konten” bukan sekadar berarti Ramadhan dibicarakan di media sosial. Ia berarti pengalaman Ramadhan mulai dipahami melalui bentuk-bentuk konten yang beredar.

Orang belajar tentang suasana Ramadhan dari video. Mereka memahami makna hijrah dari cerita viral. Bahkan gambaran tentang kesalehan sering dipengaruhi oleh representasi yang sering muncul di layar.

Simulasi tidak berarti kepalsuan. Banyak konten Ramadhan dibuat dengan niat tulus. Namun ketika tanda-tanda religius beredar terus-menerus dalam bentuk visual dan narasi yang seragam, terbentuklah semacam standar tentang bagaimana religiusitas seharusnya terlihat.

Akibatnya, pengalaman spiritual yang sublim, sering kalah oleh pengalaman yang mudah ditampil-tontonkan.

Padahal banyak dimensi Ramadhan yang justru tidak pernah muncul di layar. Sebut saja misalnya; kesabaran menahan emosi, pergulatan batin saat menahan diri dari amarah, doa yang dipanjatkan diam-diam tanpa kamera, atau perubahan kecil dalam perilaku sehari-hari yang tidak pernah direkam.

Dimensi-dimensi sublim inilah yang sebenarnya menjadi inti pengalaman spiritual. Tetapi karena ia tidak spektakuler, ia jarang menjadi konten.

Di sinilah pentingnya melihat fenomena ini sebagai persoalan komunikasi. Media tidak hanya menyampaikan pesan; ia juga membentuk cara kita memahami realitas. Ketika Ramadhan hadir terutama melalui konten, maka citra tentang Ramadhan ikut dibentuk oleh cara konten itu diproduksi.

Logika produksi konten (viralitas, estetika, emosi) perlahan memengaruhi bagaimana pengalaman religius dikisahkan.

Pertanyaan pentingnya bukan apakah kita boleh membuat konten Ramadhan. Tentu saja boleh. Komunikasi adalah bagian dari kehidupan sosial, termasuk kehidupan beragama.

Yang perlu disadari adalah bagaimana dan betapa logika media dapat mengubah cara kita memandang pengalaman itu sendiri. Kesadaran ini penting agar kita tidak keliru menukar tanda dengan pengalaman.

Ramadhan yang kita lihat di layar hanyalah satu lapisan realitas. Ia adalah representasi (yang mewakili atau menggambarkan objek asalnya. Ia sekedar potongan cerita yang dipilih, disusun, dan dibagikan.

Sementara Ramadhan yang sesungguhnya tetap berlangsung dalam ruang yang lebih sunyi. Di meja sahur keluarga, di saf tarawih yang rapat, di doa-doa yang tidak pernah dipublikasikan.

Di tengah dunia yang semakin visual dan komunikatif, tantangan kita bukan menolak konten, tetapi menjaga agar pengalaman spiritual tidak habis di dalamnya.

Sebab Ramadhan pada akhirnya bukan sekadar cerita yang dibagikan. Ia adalah perjalanan batin yang tidak selalu membutuhkan penonton.

Rea Barat, 6 Maret 2026


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahasiswi Komunikasi Unasman Raih Juara 1 Lomba Karya Ilmiah HUT Lalu Lintas Bayangkara Ke-69

  Artika Ananda Putri, Mahasiswa Ilmu Kounikasi Unasman andankji.com, Polman  ~~ Prestasi membanggakan diraih oleh mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Al Asyariah Mandar (FISIP Unasman). Artika Ananda Putri, berhasil meraih Juara 1 dalam Lomba Karya Ilmiah yang diselenggarakan oleh Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Sulawesi Barat, dalam rangka memperingati HUT Lalu Lintas Bhayangkara ke-69 tahun 2024. Lomba yang bertemakan "Polantas Presisi Hadir" ini diikuti oleh 40 peserta mahasiswa Perguruan Tinggi se-Sulbar dan mahasiswa dari berbagai universitas di luar Sulbar yang ber-KTP Sulbar. Artika Ananda Putri mengangkat karya ilmiah berjudul; “Menuju Sulbar Sejahtera: Optimalisasi Regional Traffic Management Centre (RTMC) melalui Gerakan Satu Hari Tanpa Pelanggaran”, yang dinilai unggul dari segi kreativitas gagasan, orisinalitas, analisis, dan sistematika penulisan. Kaprodi Ilmu Komunikasi, Dr. Hamdan, M.Ag, memandang bah...

Ahmadiyah, NII dan Candoleng-doleng

Oleh: Hamdan Akhir Mei 2011 lalu saya berada di sebuah pelosok kampung untuk beberapa waktu. Saat jumatan, sebelum azan dikumandangkan, Kades sebagai aparat dan tentunya mewakili Negara, menyampaikan pengumuman dari pemerintah kepada seluruh warga khususnya umat Islam untuk mewaspadai dua hal yang mengancam stabilitas kehidupan sosial warga, yakni: (1) tentang hadirnya aliran sesat Ahmadiyah yang mengajarkan adanya nabi setelah Muhammad saw, dan (2) hadirnya Negara Islam Indonesia (NII) yang menginginkan berdirinya Negara Islam secara terpisah dari Negara Kesatuan RI. Kedua hal di atas memfokuskan sasaran penyebaran misinya pada generasi muda. Karenanya jika warga menemukan hal-hal yang mencurigakan, kiranya segera melaporkan ke pemerintah setempat. Sekitar sepuluh hari kemudian, masih di kampong yang sama, saya terjaga saat dini hari pukul 01.30-an karena merasa lapar. Soalnya kemudian bukan soal terjaga, tetapi tak bias tidur setelah perut sudah terisi. Yang menganggu adalah dentuman...

TEOLOGI INTEGRALISTIK (Pendekatan Sejarah)

oleh: Prof. Dr. H.M. Saleh Putuhena Pendahuluan Sejak 1970-an dialog antar umat beragama mulai digiatkan oleh Departemen Agama. Ketika itu Menteri Agama (1972-1977) di jabat oleh Mukti Ali, professor perbandingan agama pada IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Sebagai seorang menteri yang berasal dari kalangan intelektual Muslim , ia sangat peduli pada dua hal penataan masalah pendidikan dan kerukunan umat beragama yang memang menjadi salah satu tugas Departemen Agama sejak didirikan 1946. Selama ini tugas pokok tersebut terkesan diabaikan. Meskipun secara sporadis terjadi konflik antara umat beragama di beberapa daerah terutama setelah 1965. Meskipun dialog atau pertemuan antar umat beragama tetap dilaksanakan secara intensif baik oleh Departemen Agama, maupun oleh organisasi keagamaan, tetapi tampaknya kurang berhasil dalam membina kerukunan antar umat beragama. Konflik antar umat beragama masih tetap juga terjadi. Rangkaian konflik yang terjadi pada penghujung abad XX berupa peri...