Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)
Ramadhan bukan hanya soal Tuhan, masjid, kendali nafsu, dan
tarwih. Ia cukup kompleks menyentuh berbagai aspek. Itu sebabnya, sekitar sebulan sebelum kedatangannya,
perubahan biasanya sudah mulai terlihat di ruang media dan pasar.
Iklan bertema religi mulai bermunculan di televisi, pusat
perbelanjaan dipenuhi dekorasi bernuansa Ramadhan, dan berbagai merek
meluncurkan produk dengan label khusus bulan suci.
Dari sirup hingga pakaian biasa, alat shalat, paket perjalanan umrah, promosi restoran, dan lain sebagainya. semuanya menggunakan simbol dan narasi yang berkaitan
dengan Ramadhan.
Hal seperti ini menunjukkan bahwa Ramadhan tidak hanya
menjadi peristiwa spiritual, tetapi juga peristiwa ekonomi yang sangat besar.
Nilai-nilai religius yang melekat pada bulan suci sering kali bertransformasi
menjadi tema komunikasi pemasaran yang sangat efektif.
Dalam perspektif studi media, situasi ini dapat dipahami
melalui kerangka agenda setting yang diperkenalkan oleh Maxwell McCombs. Teori
ini menjelaskan bahwa media memiliki peran penting dalam menentukan isu apa
yang dianggap penting oleh publik.
Namun dalam praktiknya, proses penentuan agenda tidak selalu
berdiri sendiri. Ia sering berinteraksi dengan kepentingan ekonomi media dan
industri yang memanfaatkan perhatian publik terhadap isu tertentu.
Ramadhan menjadi arena nyata yang sangat jelas memperlihatkan
hubungan antara media, agenda publik, dan kepentingan ekonomi.
Ketika media terus-menerus menampilkan konten bertema
Ramadhan, baik dalam bentuk berita, program televisi, maupun konten digital, perhatian
publik terhadap tema tersebut meningkat.
Perhatian ini kemudian menarik berbagai pelaku industri
untuk memanfaatkan momentum tersebut melalui strategi pemasaran yang
menggunakan simbol dan narasi religius.
Dengan kata lain, isu keagamaan menjadi bagian dari
ekosistem komunikasi ekonomi.
Komersialisasi ini tidak selalu muncul dalam bentuk yang
eksplisit. Banyak iklan yang menggunakan cerita keluarga, pesan moral, atau
narasi tentang kebersamaan untuk membangun hubungan emosional dengan audiens.
Akan tetapi di balik cerita tersebut, terdapat strategi
komunikasi yang bertujuan memperkuat citra merek dan meningkatkan konsumsi. Simbol
religius dalam konteks ini berfungsi sebagai bahasa komunikasi yang sangat
kuat.
Misalnya, adegan keluarga berkumpul saat berbuka puasa
sering digunakan untuk menggambarkan kehangatan dan kebersamaan. Pesan moral
tentang berbagi atau kepedulian sosial juga sering muncul dalam kampanye pemasaran.
Narasi seperti ini membuat produk tidak hanya dipersepsikan
sebagai barang konsumsi, tetapi juga sebagai bagian dari pengalaman Ramadhan
itu sendiri. Di sinilah proses komersialisasi bekerja secara halus.
Media memainkan peran penting dalam memperkuat proses ini.
Ketika program televisi, berita, dan iklan semuanya menggunakan tema yang
serupa, publik secara perlahan membangun asosiasi tertentu antara Ramadhan dan
aktivitas konsumsi.
Tradisi membeli pakaian baru, menyiapkan hidangan berbuka
yang berlimpah, atau memberikan hadiah kepada keluarga menjadi bagian dari
gambaran sosial tentang bagaimana Ramadhan seharusnya dirayakan.
Agenda media yang berulang membantu memperkuat gambaran
tersebut. Hingga di antara kita mungkin pernah menemukan seseorang seperti
merasa tidak sempurna puasa dan lebarannya, hanya karena tidak memiliki baju
baru.
Penting untuk dipahami bahwa komersialisasi tidak selalu
berarti hilangnya makna religius. Dalam banyak kasus, aktivitas ekonomi justru
berjalan berdampingan dengan praktik keagamaan.
Pasar Ramadhan, misalnya, tidak hanya menjadi tempat
transaksi ekonomi tetapi juga ruang sosial di mana masyarakat berkumpul
menjelang waktu berbuka. Masalah muncul ketika logika konsumsi mulai
mendominasi cara masyarakat memaknai Ramadhan.
Ketika perhatian publik lebih banyak diarahkan pada promosi
produk, diskon besar-besaran, atau tren konsumsi tertentu, dimensi reflektif
dari Ramadhan berpotensi menjadi kurang terlihat dalam ruang publik.
Media yang seharusnya dapat memperkaya diskusi tentang nilai
spiritual kadang lebih banyak menampilkan konten yang mudah menarik perhatian
pasar. Situasi ini menunjukkan bahwa agenda publik sering dipengaruhi oleh
hubungan antara media dan industri.
Dalam konteks komunikasi, fenomena ini mengingatkan kita
bahwa isu keagamaan tidak hanya beredar dalam ruang spiritual, tetapi juga
dalam ruang ekonomi dan media. Simbol-simbol religius dapat menjadi alat
komunikasi yang sangat efektif dalam membangun kedekatan emosional dengan
audiens.
Karena itu, penting bagi masyarakat untuk memiliki kesadaran
kritis terhadap cara isu keagamaan direpresentasikan di media.
Kesadaran ini tidak berarti menolak keberadaan aktivitas
ekonomi selama Ramadhan, tetapi memahami bahwa makna bulan suci tidak
sepenuhnya ditentukan oleh narasi yang dominan di ruang media. Masyarakat tetap
memiliki ruang untuk menafsirkan Ramadhan berdasarkan nilai-nilai spiritual
yang mereka yakini.
Dengan demikian, komersialisasi isu keagamaan dapat dipahami sebagai bagian dari dinamika komunikasi modern. Media, industri, dan publik saling berinteraksi dalam membentuk cara Ramadhan dibicarakan dan dipersepsikan dalam kehidupan sosial.
Tantangannya adalah menjaga agar perhatian terhadap aspek
ekonomi tidak sepenuhnya menutupi makna spiritual yang menjadi inti dari bulan
suci tersebut.

Komentar