Langsung ke konten utama

Religiusitas Digital: Antara Iman dan Simulasi


Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)

Di era media sosial, hampir semua hal dapat dibagikan, termasuk pengalaman beragama. Doa direkam atau ditulis, ceramah dipotong menjadi video pendek, momen haru diabadikan, refleksi pribadi diunggah. Agama tidak lagi hanya dijalani sebagai “pengamalan sadar”, tetapi juga dikomunikasikan. Di ruang inilah pemikiran Jean Baudrillard menjadi relevan.

Baudrillard berbicara tentang simulasi, yakni keadaan ketika sesuatu tidak lagi sekadar mewakili kenyataan, tetapi secara perlahan menggantikannya.

Dalam konteks religiusitas digital, yang beredar di layar kita bukan pengalaman iman itu sendiri, melainkan gambarnya, tandanya, versinya yang sudah dikemas. Kita melihat potongan doa, cuplikan tangis, kisah hijrah, kutipan ayat dengan latar musik menyentuh. Semua itu adalah bentuk komunikasi.

Tidak ada yang salah dengan membagikan pengalaman spiritual. Namun persoalannya muncul ketika bentuk yang dibagikan itu mulai menjadi standar tentang; seperti apa “iman yang baik”.

Ketika yang sering terlihat adalah ekspresi tertentu, misalnya harus menyentuh, harus dramatis, harus estetik, maka tanpa sadar kita belajar bahwa religiusitas adalah sesuatu yang bisa ditampilkan.

Di sinilah iman bersentuhan dengan simulasi. Simulasi bukan berarti kepalsuan. Ia adalah keadaan ketika tanda-tanda lebih dominan daripada pengalaman itu sendiri.

Dalam media sosial, tanda-tanda kesalehan beredar begitu cepat. Satu video refleksi ditonton jutaan orang, lalu diikuti oleh video dengan pola yang sama. Satu gaya dakwah viral, lalu ditiru berulang kali. Lama-lama, kita tidak lagi hanya melihat iman, kita melihat format iman.

Secara komunikasi, ini penting. Media sosial bekerja dengan logika visibilitas. Apa yang menarik perhatian akan lebih sering muncul. Apa yang mudah dipahami dalam waktu singkat akan lebih cepat tersebar.

Akibatnya, bentuk religiusitas yang tenang, sunyi, dan tidak visual sering kalah oleh yang lebih ekspresif dan dramatis. Bukan karena lebih benar, tetapi karena lebih komunikatif dalam logika platform.

Hiperrealitas, istilah yang digunakan Baudrillard, terjadi ketika gambaran tentang sesuatu terasa lebih nyata daripada kenyataannya. Dalam religiusitas digital, orang bisa merasa dekat dengan agama hanya dengan menonton konten-konten spiritual setiap hari, tanpa pernah benar-benar masuk dalam refleksi yang mendalam. Citra menggantikan pengalaman.

Akan tetapi fenomena ini tidak sepenuhnya negatif. Banyak orang justru tersentuh melalui konten digital, lalu terdorong untuk memperbaiki diri. Artinya, komunikasi tetap memiliki daya transformasi. Masalahnya bukan pada medianya, melainkan pada kesadaran kita terhadap cara media bekerja.

Yang jarang disadari adalah bahwa setiap unggahan religius adalah tindakan komunikasi. Ia memilih sudut pandang, memilih momen, memilih kata-kata. Ia ditujukan kepada audiens.

Bahkan ketika diniatkan sebagai pengingat pribadi, ia tetap masuk dalam ruang publik yang bisa dinilai, dikomentari, dan dibagikan. Religiusitas menjadi bagian dari percakapan sosial.

Maka “antara iman dan simulasi” bukan soal memilih salah satunya. Keduanya kini berjalan berdampingan. Iman tetap mungkin tulus dan mendalam, tetapi ia hidup dalam lingkungan komunikasi yang penuh gambar, simbol, dan pengulangan. Tantangannya adalah menjaga agar pengalaman batin tidak habis di permukaan layar.

Lebih jauh lagi, dalam ruang digital, religiusitas tidak hanya dikomunikasikan, tetapi juga diukur. Jumlah tayangan, komentar, dan tanda suka menjadi indikator keterlihatan. Ukuran-ukuran kuantitatif ini perlahan memengaruhi cara orang memproduksi pesan keagamaan.

Konten yang responsnya tinggi cenderung diulang; gaya yang kurang diminati ditinggalkan. Dalam situasi ini, algoritma ikut berperan dalam menentukan bentuk religiusitas yang paling sering terlihat.

Proses ini menunjukkan bahwa iman kini berada dalam ekosistem komunikasi yang kompetitif. Ia bersaing dengan hiburan, politik, dan tren populer untuk merebut perhatian.

Maka bahasa agama sering menyesuaikan diri, lebih ringkas, lebih emosional, lebih visual. Bukan karena substansinya berubah, tetapi karena medium menuntut format tertentu agar pesan tidak tenggelam di antara arus informasi.

Di sinilah konsep simulasi menjadi semakin relevan. Ketika bentuk yang paling sering tampil adalah bentuk yang paling mudah diterima publik, maka lambat laun terbentuk semacam “model religiusitas” yang dianggap ideal.

Orang belajar menjadi religius bukan hanya dari ajaran agama, tetapi dari pola komunikasi yang beredar. Representasi mendahului pengalaman.

Tetapi kita juga perlu menyadari bahwa media sosial pada dasarnya adalah ruang percakapan. Setiap konten religius mengundang respons, persetujuan, kritik, bahkan perdebatan. Artinya, religiusitas digital bukan hanya soal pertunjukan, tetapi juga negosiasi makna.

Di kolom komentar, tafsir bisa diperdebatkan, pengalaman bisa dibandingkan, dan otoritas bisa dipertanyakan. Agama menjadi lebih terbuka terhadap interaksi publik.

Pertanyaannya: apakah kita masih menjalani agama, ataukah kita mulai lebih sibuk menampilkannya?

Rea Barat, 5 Maret 2026.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahasiswi Komunikasi Unasman Raih Juara 1 Lomba Karya Ilmiah HUT Lalu Lintas Bayangkara Ke-69

  Artika Ananda Putri, Mahasiswa Ilmu Kounikasi Unasman andankji.com, Polman  ~~ Prestasi membanggakan diraih oleh mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Al Asyariah Mandar (FISIP Unasman). Artika Ananda Putri, berhasil meraih Juara 1 dalam Lomba Karya Ilmiah yang diselenggarakan oleh Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Sulawesi Barat, dalam rangka memperingati HUT Lalu Lintas Bhayangkara ke-69 tahun 2024. Lomba yang bertemakan "Polantas Presisi Hadir" ini diikuti oleh 40 peserta mahasiswa Perguruan Tinggi se-Sulbar dan mahasiswa dari berbagai universitas di luar Sulbar yang ber-KTP Sulbar. Artika Ananda Putri mengangkat karya ilmiah berjudul; “Menuju Sulbar Sejahtera: Optimalisasi Regional Traffic Management Centre (RTMC) melalui Gerakan Satu Hari Tanpa Pelanggaran”, yang dinilai unggul dari segi kreativitas gagasan, orisinalitas, analisis, dan sistematika penulisan. Kaprodi Ilmu Komunikasi, Dr. Hamdan, M.Ag, memandang bah...

Ahmadiyah, NII dan Candoleng-doleng

Oleh: Hamdan Akhir Mei 2011 lalu saya berada di sebuah pelosok kampung untuk beberapa waktu. Saat jumatan, sebelum azan dikumandangkan, Kades sebagai aparat dan tentunya mewakili Negara, menyampaikan pengumuman dari pemerintah kepada seluruh warga khususnya umat Islam untuk mewaspadai dua hal yang mengancam stabilitas kehidupan sosial warga, yakni: (1) tentang hadirnya aliran sesat Ahmadiyah yang mengajarkan adanya nabi setelah Muhammad saw, dan (2) hadirnya Negara Islam Indonesia (NII) yang menginginkan berdirinya Negara Islam secara terpisah dari Negara Kesatuan RI. Kedua hal di atas memfokuskan sasaran penyebaran misinya pada generasi muda. Karenanya jika warga menemukan hal-hal yang mencurigakan, kiranya segera melaporkan ke pemerintah setempat. Sekitar sepuluh hari kemudian, masih di kampong yang sama, saya terjaga saat dini hari pukul 01.30-an karena merasa lapar. Soalnya kemudian bukan soal terjaga, tetapi tak bias tidur setelah perut sudah terisi. Yang menganggu adalah dentuman...

TEOLOGI INTEGRALISTIK (Pendekatan Sejarah)

oleh: Prof. Dr. H.M. Saleh Putuhena Pendahuluan Sejak 1970-an dialog antar umat beragama mulai digiatkan oleh Departemen Agama. Ketika itu Menteri Agama (1972-1977) di jabat oleh Mukti Ali, professor perbandingan agama pada IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Sebagai seorang menteri yang berasal dari kalangan intelektual Muslim , ia sangat peduli pada dua hal penataan masalah pendidikan dan kerukunan umat beragama yang memang menjadi salah satu tugas Departemen Agama sejak didirikan 1946. Selama ini tugas pokok tersebut terkesan diabaikan. Meskipun secara sporadis terjadi konflik antara umat beragama di beberapa daerah terutama setelah 1965. Meskipun dialog atau pertemuan antar umat beragama tetap dilaksanakan secara intensif baik oleh Departemen Agama, maupun oleh organisasi keagamaan, tetapi tampaknya kurang berhasil dalam membina kerukunan antar umat beragama. Konflik antar umat beragama masih tetap juga terjadi. Rangkaian konflik yang terjadi pada penghujung abad XX berupa peri...