Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)
Askese sering dipahami sebagai praktik menjauh dari kenikmatan duniawi. Menahan diri, membatasi hasrat, menyederhanakan hidup, dan lain-lain yang serupa.
Dalam banyak tradisi, ia diasosiasikan dengan kehidupan para petapa atau kaum sufi yang memilih jalan sunyi. Tetapi askese bukan sekadar pengingkaran terhadap dunia. Ia adalah latihan pembentukan diri.
Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, Michel Foucault
menunjukkan bahwa kekuasaan tidak hanya bekerja dari luar melalui institusi dan
aturan, tetapi juga melalui cara individu membentuk dirinya sendiri.
Ia berbicara tentang “teknologi diri,” yakni praktik-praktik
di mana seseorang secara sadar mengolah hidupnya sebagai proyek etis. Dalam
pengertian ini, askese bukan penolakan terhadap kekuasaan, melainkan cara
merebut kembali kekuasaan atas diri.
Kita hidup dalam masyarakat yang terus-menerus merangsang
hasrat, termasuk hasrat untuk berbicara, bereaksi, dan tampil. Media sosial
mendorong respons cepat, opini spontan, dan ekspresi yang segera.
Dalam lanskap komunikasi digital, kecepatan sering lebih
dihargai daripada kedalaman. Siapa yang paling cepat merespons, ia yang paling
terlihat.
Pada konteks inilah askese memperoleh relevansi
komunikatifnya. Jika hasrat konsumsi membentuk tubuh modern, maka hasrat
ekspresi membentuk subjek komunikasi modern.
Kita terdorong untuk selalu berkomentar, selalu membagikan,
selalu menunjukkan posisi. Diam sering dianggap kalah. Menunda respons dianggap
tidak relevan. Padahal, tidak semua dorongan untuk berbicara lahir dari
kebutuhan akan kebenaran. Banyak yang lahir dari dorongan akan pengakuan.
Askese, dalam konteks ini, adalah disiplin komunikasi. Ia
melatih kemampuan untuk tidak segera bereaksi. Untuk membaca ulang sebelum
membalas. Untuk bertanya pada diri sendiri: apakah ini perlu diucapkan? Apakah
ini benar? Apakah ini adil?
Dalam ilmu komunikasi, kualitas pesan tidak hanya ditentukan
oleh isi, tetapi juga oleh intensi dan konteks. Askese bekerja pada wilayah
intensi, menjernihkan motif sebelum kata-kata dilepaskan ke ruang publik.
Dalam teori komunikasi, kita mengenal perbedaan antara
komunikasi yang informatif dan komunikasi yang performatif. Yang pertama
berorientasi pada penyampaian makna, sedang yang kedua sering berorientasi pada
pencitraan diri.
Askese membantu menjaga agar komunikasi tidak sepenuhnya
jatuh menjadi performa identitas. Ia mengembalikan ujaran pada tanggung jawab
etisnya.
Lebih jauh lagi, askese membangun kompetensi mendengar. Dalam praktik komunikasi, mendengar adalah bentuk kekuasaan atas diri yang jarang dihargai.
Mendengar berarti menahan dorongan untuk menyela, menunda
keinginan untuk segera membantah. Ia menuntut penguasaan diri yang sama
besarnya dengan kemampuan berbicara. Tanpa askese, komunikasi mudah berubah
menjadi kompetisi monolog.
Tentu saja, askese bukan berarti membungkam diri atau
menghindari perbedaan. Ia justru menciptakan kualitas partisipasi yang lebih
matang.
Dalam ruang diskursus, kekuasaan atas diri memungkinkan
seseorang berbicara tanpa agresi dan berbeda tanpa permusuhan. Ia tidak larut
dalam emosi kolektif, tetapi juga tidak menarik diri dari tanggung jawab
sosial.
Namun askese juga bisa terdistorsi. Ia dapat berubah menjadi
sikap moralistik yang kaku atau menjadi simbol superioritas. Dalam komunikasi,
ini tampak ketika seseorang menggunakan pengendalian dirinya sebagai legitimasi
untuk merendahkan orang lain. Pada titik itu, askese kehilangan substansi
etisnya dan kembali menjadi strategi kuasa.
Karena itu, askese sejati selalu sunyi dan reflektif. Ia
bukan alat untuk mendominasi percakapan, tetapi fondasi untuk menjaga
kualitasnya. Kekuasaan atas diri dalam komunikasi berarti mampu memilih kata
secara sadar, mengendalikan nada, dan menyadari dampak ujaran terhadap orang lain.
Dalam masyarakat yang hiperkomunikatif, di mana setiap orang
bisa menjadi penyiar bagi dirinya sendiri, askese menjadi praktik yang semakin
penting. Ia mengajarkan bahwa kebebasan berbicara tidak identik dengan
keharusan berbicara.
Bahwa tidak setiap provokasi layak ditanggapi. Bahwa
kadang-kadang, kekuatan terbesar dalam komunikasi justru terletak pada
kemampuan untuk menahan diri.
Akhirnya, kekuasaan atas diri adalah prasyarat bagi
komunikasi yang bermartabat. Tanpa penguasaan diri, ruang publik mudah dipenuhi
kebisingan; dengan askese, ia berpeluang menjadi ruang pertukaran makna yang
lebih jernih.
Rea Barat, 01 Maret 2026

Komentar