Langsung ke konten utama

Ramadhan dan Algoritma sebagai Medium


Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)

Banyak orang membicarakan Ramadan di era algoritma dengan nada cemas. Misalnya terkait tentang polarisasi meningkat, konten sensasional lebih cepat viral, dan ruang digital dipenuhi perdebatan agama. Namun pembacaan semacam itu sering berhenti pada isi pesan saja, pada konten yang beredar.

Padahal, sebagaimana diingatkan oleh Marshall McLuhan, persoalan utama bukanlah apa yang disampaikan, melainkan pada medium yang menyampaikannya. The medium is the message, media adalah pesan itu sendiri.

Algoritma bukan sekadar alat distribusi konten. Ia adalah arsitektur persepsi. Ia menentukan apa yang sering kita lihat, seberapa lama kita berhenti, dan pola apa yang dianggap penting. Dalam arti McLuhanian, algoritma adalah ekstensi sistem saraf kolektif kita. Ia memperluas sekaligus membentuk kesadaran.

Ramadan, dalam pengalaman tradisional, adalah ritme. Ia ditandai oleh waktu sahur, jeda siang yang lebih hening, dan buka yang dinanti. Ada perlambatan, ada ruang refleksi, ada siklus harian yang relatif stabil. Medium utama pengalaman itu adalah ruang fisik seperti masjid, rumah, dan komunitas.

Akan tetapi di era algoritma, ritme itu bertemu dengan arus yang berbeda. Ia berhadapan dengan linimasa yang tak pernah tidur. Konten religi bersaing dengan iklan diskon Ramadan, ceramah bersisian dengan konten hiburan, refleksi spiritual berdampingan dengan perdebatan politik. Algoritma tidak mengenal sakral dan profan. Ia hanya mengenal keterlibatan (engagement).

Di sinilah perubahan halus terjadi. Ramadan tidak hanya dijalani, tetapi juga dikonsumsi sebagai aliran konten. Ceramah menjadi klip satu menit. Ayat menjadi kutipan grafis yang dirancang agar mudah dibagikan. Doa menjadi template visual. Spiritualitas memasuki logika visibilitas.

McLuhan menyebut bahwa setiap medium baru tidak hanya menambah sesuatu, tetapi juga menghapus dan mengubah yang lama. Ketika pengalaman Ramadan dimediasi secara intens oleh algoritma, ia mengalami transformasi bentuk.

Kedalaman bisa terfragmentasi menjadi potongan-potongan pendek. Kasus yang baru saja terjadi misalnya, materi yang disampaikan Menteri Agama tentang pengembangan ekonomi syariah. Videonya dipotong-potong, dan menimbulkan kesalahpahaman massif.

Transformasi bentuk lainnya seperti, kontemplasi bisa tergantikan oleh notifikasi. Keheningan bisa terinterupsi oleh dorongan untuk membagikan momen.

Tetapi perubahan ini tidak semata-mata negatif. Medium digital juga memperluas akses. Kajian dapat diikuti lintas kota dan negara. Diskusi bisa melibatkan lebih banyak partisipan. Pengetahuan agama menjadi lebih terbuka.

Dalam bahasa McLuhan, setiap medium adalah sekaligus perpanjangan dan amputasi. Ia memperluas kemampuan tertentu, tetapi juga mengurangi yang lain.

Yang menarik, algoritma bekerja dengan logika penguatan pola. Ia menampilkan lebih banyak dari apa yang sering kita klik. Dalam konteks Ramadan, ini berarti preferensi spiritual seseorang bisa semakin dipertebal.

Jika ia menyukai ceramah tertentu, ia akan dibanjiri ceramah serupa. Jika ia tertarik pada konten yang provokatif, ia akan terus melihatnya. Algoritma menciptakan Ramadan yang dipersonalisasi.

Akibatnya, pengalaman kolektif Ramadan perlahan bergeser menjadi pengalaman yang terkurasi secara individual. Dulu, suara azan yang sama terdengar oleh semua di satu wilayah. Kini, linimasa setiap orang berbeda. Realitas keagamaan menjadi terfragmentasi.

Dalam perspektif McLuhan, perubahan ini bukan terutama soal moralitas konten, tetapi soal transformasi lingkungan komunikasi. Algoritma adalah “lingkungan tak terlihat” yang membentuk cara kita merasakan, memahami, dan merespons Ramadan. Ia mengubah tempo, intensitas, dan bahkan ekspektasi kita terhadap ibadah.

Pertanyaannya bukan lagi apakah algoritma baik atau buruk, melainkan bagaimana kesadaran kita beradaptasi. Jika medium membentuk pesan, maka kesalehan pun ikut dipengaruhi oleh struktur medium.

Tantangannya adalah menjaga agar Ramadan tidak sepenuhnya larut dalam logika keterlihatan dan metrik popularitas.

Barangkali yang perlu dipulihkan adalah kesadaran atas medium itu sendiri. Menyadari bahwa linimasa bukan realitas utuh, bahwa viralitas bukan ukuran kebenaran, dan bahwa tidak semua pengalaman spiritual perlu dipublikasikan. Kesadaran ini bukan penolakan terhadap teknologi, melainkan jarak kritis terhadapnya.

Ramadan di era algoritma bukan sekadar Ramadan yang lebih digital. Ia adalah Ramadan yang dialami dalam lingkungan media baru. Lingkungan yang membentuk cara kita melihat, mendengar, dan merasakan.

Dan seperti diingatkan McLuhan, ketika medium berubah, manusia pun berubah bersamanya. Pertanyaannya tinggal satu: apakah kita menyadari perubahan itu, atau justru tenggelam di dalamnya tanpa pernah benar-benar melihatnya?

Rea Barat, 2 Maret 2026


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahasiswi Komunikasi Unasman Raih Juara 1 Lomba Karya Ilmiah HUT Lalu Lintas Bayangkara Ke-69

  Artika Ananda Putri, Mahasiswa Ilmu Kounikasi Unasman andankji.com, Polman  ~~ Prestasi membanggakan diraih oleh mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Al Asyariah Mandar (FISIP Unasman). Artika Ananda Putri, berhasil meraih Juara 1 dalam Lomba Karya Ilmiah yang diselenggarakan oleh Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Sulawesi Barat, dalam rangka memperingati HUT Lalu Lintas Bhayangkara ke-69 tahun 2024. Lomba yang bertemakan "Polantas Presisi Hadir" ini diikuti oleh 40 peserta mahasiswa Perguruan Tinggi se-Sulbar dan mahasiswa dari berbagai universitas di luar Sulbar yang ber-KTP Sulbar. Artika Ananda Putri mengangkat karya ilmiah berjudul; “Menuju Sulbar Sejahtera: Optimalisasi Regional Traffic Management Centre (RTMC) melalui Gerakan Satu Hari Tanpa Pelanggaran”, yang dinilai unggul dari segi kreativitas gagasan, orisinalitas, analisis, dan sistematika penulisan. Kaprodi Ilmu Komunikasi, Dr. Hamdan, M.Ag, memandang bah...

Ahmadiyah, NII dan Candoleng-doleng

Oleh: Hamdan Akhir Mei 2011 lalu saya berada di sebuah pelosok kampung untuk beberapa waktu. Saat jumatan, sebelum azan dikumandangkan, Kades sebagai aparat dan tentunya mewakili Negara, menyampaikan pengumuman dari pemerintah kepada seluruh warga khususnya umat Islam untuk mewaspadai dua hal yang mengancam stabilitas kehidupan sosial warga, yakni: (1) tentang hadirnya aliran sesat Ahmadiyah yang mengajarkan adanya nabi setelah Muhammad saw, dan (2) hadirnya Negara Islam Indonesia (NII) yang menginginkan berdirinya Negara Islam secara terpisah dari Negara Kesatuan RI. Kedua hal di atas memfokuskan sasaran penyebaran misinya pada generasi muda. Karenanya jika warga menemukan hal-hal yang mencurigakan, kiranya segera melaporkan ke pemerintah setempat. Sekitar sepuluh hari kemudian, masih di kampong yang sama, saya terjaga saat dini hari pukul 01.30-an karena merasa lapar. Soalnya kemudian bukan soal terjaga, tetapi tak bias tidur setelah perut sudah terisi. Yang menganggu adalah dentuman...

TEOLOGI INTEGRALISTIK (Pendekatan Sejarah)

oleh: Prof. Dr. H.M. Saleh Putuhena Pendahuluan Sejak 1970-an dialog antar umat beragama mulai digiatkan oleh Departemen Agama. Ketika itu Menteri Agama (1972-1977) di jabat oleh Mukti Ali, professor perbandingan agama pada IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Sebagai seorang menteri yang berasal dari kalangan intelektual Muslim , ia sangat peduli pada dua hal penataan masalah pendidikan dan kerukunan umat beragama yang memang menjadi salah satu tugas Departemen Agama sejak didirikan 1946. Selama ini tugas pokok tersebut terkesan diabaikan. Meskipun secara sporadis terjadi konflik antara umat beragama di beberapa daerah terutama setelah 1965. Meskipun dialog atau pertemuan antar umat beragama tetap dilaksanakan secara intensif baik oleh Departemen Agama, maupun oleh organisasi keagamaan, tetapi tampaknya kurang berhasil dalam membina kerukunan antar umat beragama. Konflik antar umat beragama masih tetap juga terjadi. Rangkaian konflik yang terjadi pada penghujung abad XX berupa peri...