Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)
Pada sebagian besar waktu dalam kehidupan modern,
manusia hidup dalam gerak dan pengalaman fisik yang berbeda-beda. Ada yang
sarapan pagi, ada yang tidak pernah sarapan. Ada yang makan siang cepat di sela
pekerjaan, ada yang makan larut malam.
Jam kerja, gaya hidup, dan kebiasaan makan sangat
beragam. Tubuh manusia mengikuti jadwalnya masing-masing. Namun ketika Ramadhan
tiba, secara tiba-tiba, jutaan orang menjalani ritme tubuh yang sama.
Mereka bangun sebelum fajar untuk sahur. Mereka
menahan lapar sepanjang hari. Mereka menunggu waktu berbuka hampir pada saat
yang sama. Selama satu bulan, pengalaman fisik ini dijalani secara serentak
oleh komunitas yang sangat luas.
Hal ini menarik untuk dilirik karena menjadi salah
satu dimensi sosial yang sering tidak disadari.
Dalam teori identitas sosial Henri Tajfel, rasa
kebersamaan dalam sebuah kelompok tidak hanya muncul dari keyakinan yang sama,
tetapi juga dari pengalaman yang dibagi bersama.
Ketika banyak orang mengalami sesuatu secara serentak,
mereka cenderung merasa menjadi bagian dari komunitas yang sama. Nah, puasa
menciptakan pengalaman kolektif semacam itu.
Seseorang yang berpuasa di Jakarta, misalnya, mungkin
tidak mengenal orang yang berpuasa di kota lain. Namun pada waktu yang sama
menjelang maghrib, mereka merasakan kondisi tubuh yang serupa.
Lapar yang mulai terasa kuat, kelelahan yang perlahan
muncul, dan harapan akan waktu berbuka yang semakin dekat. Kesamaan pengalaman
ini menciptakan ikatan sosial yang tidak selalu terlihat, tetapi sangat nyata.
Solidaritas dalam konteks ini tidak hanya lahir dari
empati terhadap orang lain, tetapi juga dari kesadaran bahwa banyak orang
sedang menjalani pengalaman yang sama.
Ketika seseorang menunggu waktu berbuka, ia tahu bahwa
jutaan orang lain juga menunggu momen yang sama. Kesadaran ini membangun rasa
kebersamaan yang luas.
Dalam masyarakat modern yang sering terpecah oleh
perbedaan gaya hidup, pekerjaan, dan kelas sosial, pengalaman kolektif seperti
ini sebenarnya sangat jarang terjadi.
Kebanyakan orang hidup dalam ritme yang berbeda.
Tetapi selama Ramadhan, puasa menyinkronkan kehidupan sehari-hari umat Muslim
dalam satu pola yang relatif seragam. Sinkronisasi sosial ini terlihat dalam
banyak aspek kehidupan.
Masjid menjadi ramai pada waktu-waktu tertentu.
Jalanan dipenuhi orang yang mencari makanan berbuka menjelang maghrib. Keluarga
berkumpul di meja makan pada waktu yang hampir sama. Bahkan percakapan
sehari-hari berubah mengikuti ritme puasa: orang saling bertanya tentang sahur,
berbuka, atau tarawih.
Semua ini memperlihatkan bagaimana puasa bukan hanya
praktik spiritual, tetapi juga mekanisme sosial yang menyatukan pengalaman
banyak orang.
Menariknya, solidaritas yang muncul dari pengalaman
bersama ini sering berkembang menjadi tindakan sosial yang nyata.
Karena merasakan kondisi yang sama, banyak orang
terdorong untuk berbagi. Tradisi membagikan takjil di jalan, menyediakan
makanan berbuka di masjid, atau mengadakan buka puasa bersama adalah contoh
bagaimana pengalaman puasa dapat melahirkan praktik solidaritas.
Namun inti dari solidaritas ini sebenarnya terletak
pada pengalaman yang dibagi bersama.
Ketika seseorang memberikan makanan berbuka kepada
orang lain, ia tahu persis apa arti makanan itu pada saat tersebut. Ia tahu
bagaimana rasanya menahan lapar sepanjang hari dan betapa berharganya makanan
ketika waktu berbuka tiba.
Pengalaman fisik yang sama menciptakan pemahaman yang
lebih konkret tentang kebutuhan orang lain. Di sinilah puasa berbeda dari
banyak bentuk ajaran moral lainnya.
Banyak nilai sosial diajarkan melalui nasihat atau
ajaran. Tetapi puasa mengajarkan solidaritas melalui pengalaman langsung yang
dirasakan tubuh. Ia membuat seseorang merasakan keterbatasan, menahan
keinginan, dan menunggu bersama orang lain.
Pengalaman seperti ini menciptakan dasar emosional
bagi solidaritas sosial. Dalam kerangka teori identitas sosial, pengalaman
kolektif seperti puasa memperkuat rasa keanggotaan dalam komunitas.
Orang tidak hanya merasa sebagai individu yang
beribadah, tetapi sebagai bagian dari kelompok besar yang menjalani pengalaman
yang sama. Kesadaran ini membuat Ramadhan terasa berbeda dari bulan-bulan
lainnya.
Puasa menyatukan pengalaman jutaan orang dalam satu ritme kehidupan yang serupa. Dari pengalaman yang dibagi bersama inilah solidaritas tumbuh, bukan hanya sebagai gagasan moral, tetapi sebagai rasa kebersamaan yang lahir dari pengalaman yang benar-benar dirasakan.
Dan mungkin di situlah salah satu kekuatan sosial
Ramadhan: ia membuat manusia menyadari bahwa dalam menjalani kehidupan, mereka
tidak sendirian. Puasa dengan demikian menciptakan semacam sinkronisasi sosial.
Rea Barat, 9 Maret 2026.

Komentar