Langsung ke konten utama

Spiritualitas di Era Pencitraan


Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)

Pada suatu sore di bulan Ramadhan, seorang pemuda berdiri di depan seorang penjual makanan kecil di pinggir jalan. Ia membeli beberapa bungkus takjil, lalu memberikannya kepada seorang pengemis tua yang duduk di dekat trotoar.

Adegan itu sebenarnya sederhana. Seseorang berbagi makanan dengan orang lain. Tetapi sebelum makanan itu berpindah tangan, seorang temannya sudah lebih dulu mengangkat ponsel dan merekam momen tersebut.

Beberapa jam kemudian, video itu muncul di media sosial. Musik latar yang menyentuh ditambahkan. Tulisan “berbagi di bulan suci” muncul di layar. Komentar pun berdatangan. Ada yang terharu, ada yang memuji, ada pula yang membagikannya kembali.

Kisah seperti ini semakin sering kita temui di era media digital. Banyak tindakan kebaikan tidak hanya dilakukan, tetapi juga ditampilkan. Kedermawanan, doa, tangis haru, bahkan momen ibadah sering hadir sebagai bagian dari narasi visual yang dibagikan kepada publik.

***

Dalam analisis media dari Jean Baudrillard, masyarakat modern hidup dalam dunia tanda dan citra yang sangat kuat. Realitas tidak hanya dialami secara langsung, tetapi juga dihadirkan kembali (representation).

Ia di hadirkan melalui gambar, simbol, dan lain sebagainya, secara terus menerus dan beredar melalui media. Dalam kondisi ini, citra sering kali menjadi cara utama manusia memahami realitas.

Ketika fenomena ini masuk ke dalam kehidupan keagamaan, muncul bentuk baru religiusitas, sebilah spiritualitas yang tampil melalui citra.

Hal ini bukan berarti orang yang membagikan konten religius tidak tulus. Banyak di antaranya mungkin ingin menyebarkan inspirasi atau mengajak orang lain berbuat baik. Namun logika media sosial sering bekerja dengan cara yang berbeda dari logika spiritualitas.

Media sosial menghargai apa yang terlihat. Konten yang emosional lebih mudah viral. Gambar yang menyentuh lebih cepat menyebar. Narasi yang dramatis lebih banyak menarik perhatian.

Akibatnya, tindakan religius yang dapat divisualkan cenderung mendapatkan ruang lebih besar dibandingkan pengalaman spiritual yang hening.

Memberi sedekah diam-diam hampir tidak pernah menjadi konten. Tetapi memberi sedekah sambil direkam kamera dapat dengan cepat menjadi cerita inspiratif.

Perlahan-lahan, muncul standar visual baru tentang bagaimana kesalehan tampak di ruang publik digital. Kesalehan memiliki bentuk tertentu. Wajah yang haru, doa yang diucapkan dengan suara bergetar, kisah hijrah yang dramatis, atau aksi berbagi yang direkam dengan sudut kamera yang tepat.

Di titik ini, spiritualitas tidak hanya dijalani; ia juga dipentaskan, dipertontonkan. Dalam bahasa komunikasi, fenomena ini dapat dipahami sebagai proses representasi.

Tindakan religius diubah menjadi tanda yang dapat dikonsumsi oleh publik. Foto, video, dan narasi menjadi medium yang membawa pesan spiritual kepada audiens yang lebih luas.

Namun ketika representasi menjadi terlalu dominan, risiko yang muncul adalah terciptanya jarak antara pengalaman dan citra.

Orang dapat terlihat sangat religius di layar, tetapi kehidupan batinnya tidak selalu dapat diukur dari tampilan itu. Sebaliknya, seseorang yang menjalani ibadah dengan sunyi mungkin tidak pernah muncul di ruang digital, meskipun pengalaman spiritualnya jauh lebih dalam.

Inilah yang dimaksud oleh Baudrillard sebagai dominasi citra dalam masyarakat media. Citra dapat menjadi lebih kuat daripada realitas yang diwakilinya.

Spiritualitas yang ditampilkan terus-menerus dapat membentuk persepsi sosial tentang apa itu kesalehan. Publik mulai mengenali agama melalui gambaran yang beredar di media. Kesalehan menjadi sesuatu yang dapat dilihat, dinilai, dan bahkan dibandingkan.

Padahal dalam tradisi spiritual, banyak nilai justru lahir dari keheningan.

Doa yang paling jujur sering diucapkan tanpa saksi. Kesabaran yang paling tulus sering terjadi dalam situasi yang tidak pernah direkam. Perjuangan menahan amarah, menahan ego, atau menahan keinginan tidak pernah menjadi tontonan.

Semua itu terjadi di ruang batin yang tidak membutuhkan kamera.

Kesadaran ini penting agar kita tidak keliru memahami relasi antara spiritualitas dan media. Media dapat menjadi sarana komunikasi yang baik untuk menyebarkan pesan kebaikan. Ia dapat menghubungkan pengalaman seseorang dengan orang lain yang mungkin membutuhkan inspirasi.

Namun media tetaplah ruang representasi. Apa yang terlihat di layar hanyalah potongan dari realitas yang lebih luas. Ia adalah cerita yang dipilih, disusun, dan dibagikan kepada publik. Sementara kehidupan spiritual yang sebenarnya berlangsung dalam ruang yang jauh lebih kompleks dan sering kali tidak terlihat.

Karena itu, tantangan spiritualitas di era pencitraan bukanlah menolak media, tetapi menjaga agar citra tidak menggantikan pengalaman.

Sebab ketika spiritualitas hanya hadir sebagai tampilan, ia berisiko kehilangan kedalaman. Ia menjadi sesuatu yang dilihat orang lain, bukan sesuatu yang sungguh dialami oleh diri sendiri.

Dan mungkin di situlah ujian paling halus dalam kehidupan religius di zaman digital. Ketika manusia harus terus mengingat bahwa tidak semua kebaikan perlu disaksikan oleh kamera. Sebagian darinya cukup diketahui oleh Tuhan.

Rea Barat, 7 Maret 2026.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahasiswi Komunikasi Unasman Raih Juara 1 Lomba Karya Ilmiah HUT Lalu Lintas Bayangkara Ke-69

  Artika Ananda Putri, Mahasiswa Ilmu Kounikasi Unasman andankji.com, Polman  ~~ Prestasi membanggakan diraih oleh mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Al Asyariah Mandar (FISIP Unasman). Artika Ananda Putri, berhasil meraih Juara 1 dalam Lomba Karya Ilmiah yang diselenggarakan oleh Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Sulawesi Barat, dalam rangka memperingati HUT Lalu Lintas Bhayangkara ke-69 tahun 2024. Lomba yang bertemakan "Polantas Presisi Hadir" ini diikuti oleh 40 peserta mahasiswa Perguruan Tinggi se-Sulbar dan mahasiswa dari berbagai universitas di luar Sulbar yang ber-KTP Sulbar. Artika Ananda Putri mengangkat karya ilmiah berjudul; “Menuju Sulbar Sejahtera: Optimalisasi Regional Traffic Management Centre (RTMC) melalui Gerakan Satu Hari Tanpa Pelanggaran”, yang dinilai unggul dari segi kreativitas gagasan, orisinalitas, analisis, dan sistematika penulisan. Kaprodi Ilmu Komunikasi, Dr. Hamdan, M.Ag, memandang bah...

Ahmadiyah, NII dan Candoleng-doleng

Oleh: Hamdan Akhir Mei 2011 lalu saya berada di sebuah pelosok kampung untuk beberapa waktu. Saat jumatan, sebelum azan dikumandangkan, Kades sebagai aparat dan tentunya mewakili Negara, menyampaikan pengumuman dari pemerintah kepada seluruh warga khususnya umat Islam untuk mewaspadai dua hal yang mengancam stabilitas kehidupan sosial warga, yakni: (1) tentang hadirnya aliran sesat Ahmadiyah yang mengajarkan adanya nabi setelah Muhammad saw, dan (2) hadirnya Negara Islam Indonesia (NII) yang menginginkan berdirinya Negara Islam secara terpisah dari Negara Kesatuan RI. Kedua hal di atas memfokuskan sasaran penyebaran misinya pada generasi muda. Karenanya jika warga menemukan hal-hal yang mencurigakan, kiranya segera melaporkan ke pemerintah setempat. Sekitar sepuluh hari kemudian, masih di kampong yang sama, saya terjaga saat dini hari pukul 01.30-an karena merasa lapar. Soalnya kemudian bukan soal terjaga, tetapi tak bias tidur setelah perut sudah terisi. Yang menganggu adalah dentuman...

TEOLOGI INTEGRALISTIK (Pendekatan Sejarah)

oleh: Prof. Dr. H.M. Saleh Putuhena Pendahuluan Sejak 1970-an dialog antar umat beragama mulai digiatkan oleh Departemen Agama. Ketika itu Menteri Agama (1972-1977) di jabat oleh Mukti Ali, professor perbandingan agama pada IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Sebagai seorang menteri yang berasal dari kalangan intelektual Muslim , ia sangat peduli pada dua hal penataan masalah pendidikan dan kerukunan umat beragama yang memang menjadi salah satu tugas Departemen Agama sejak didirikan 1946. Selama ini tugas pokok tersebut terkesan diabaikan. Meskipun secara sporadis terjadi konflik antara umat beragama di beberapa daerah terutama setelah 1965. Meskipun dialog atau pertemuan antar umat beragama tetap dilaksanakan secara intensif baik oleh Departemen Agama, maupun oleh organisasi keagamaan, tetapi tampaknya kurang berhasil dalam membina kerukunan antar umat beragama. Konflik antar umat beragama masih tetap juga terjadi. Rangkaian konflik yang terjadi pada penghujung abad XX berupa peri...