Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)
Ada sesuatu yang berubah dalam kehidupan sosial umat Islam ketika
bulan Ramadhan. Jam makan bergeser, aktivitas keseharian menyesuaikan waktu
berbuka dan sahur, masjid menjadi lebih ramai.
Dan percakapan sehari-hari juga dipenuhi ungkapan seperti:
“sudah berbuka?” atau “tarawih di mana malam ini?”. Bahkan di ruang publik yang
sekuler sekalipun, suasana Ramadhan terasa sebagai pengalaman bersama.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Ramadhan bukan hanya praktik
ibadah individual, tetapi juga pengalaman sosial yang membentuk identitas
kolektif.
Dalam teori identitas sosial yang dikembangkan oleh Henri
Tajfel, manusia memahami dirinya tidak hanya sebagai individu, tetapi juga
sebagai bagian dari kelompok tertentu.
Identitas sosial terbentuk ketika seseorang merasa menjadi
anggota suatu komunitas. Mungkin agama, bangsa, atau kelompok budaya. Di sana
mereka berbagi simbol, nilai, serta praktik yang sama dengan anggota lain.
Ramadhan menjadi salah satu momen paling kuat yang dapat
kita temukan sebagai pembentukan identitas kolektif Muslim.
Selama bulan ini, praktik yang biasanya bersifat pribadi
berubah menjadi pengalaman komunal. Puasa dilakukan oleh jutaan orang secara
serentak. Waktu berbuka menjadi momen yang ditunggu bersama. Masjid dan ruang
publik menjadi titik pertemuan yang memperkuat rasa kebersamaan.
Dalam perspektif komunikasi sosial, berbagai praktik
Ramadhan sebenarnya berfungsi sebagai simbol identitas. Adzan maghrib yang
disambut dengan berbuka, saf panjang dalam salat tarawih, tradisi berbagi
makanan, atau ucapan “marhaban ya Ramadhan” adalah tanda-tanda yang menegaskan
keanggotaan dalam komunitas yang sama.
Simbol-simbol ini bekerja secara halus tetapi kuat. Mereka
menciptakan "rasa kita” atau sebut saja “ke-kita-an”.
Menurut Tajfel, identitas kolektif muncul melalui proses
kategorisasi sosial. Manusia cenderung mengelompokkan dirinya dan orang lain ke
dalam kategori tertentu.
Dalam konteks ini, Ramadhan memperkuat kategori “kita
sebagai Muslim”. Orang yang berpuasa merasa terhubung dengan orang lain yang
menjalankan praktik yang sama, bahkan jika mereka tidak saling mengenal.
Rasa kebersamaan ini bisa dirasakan dalam banyak situasi
sederhana.Seorang musafir yang berbuka di masjid kota yang belum pernah ia
kunjungi tetap merasa berada di tengah komunitasnya. Seorang mahasiswa yang
merantau tetap merasakan suasana Ramadhan yang familiar ketika mendengar suara
tadarus di malam hari.
Identitas kolektif bekerja melalui pengalaman bersama yang
melampaui perbedaan latar belakang. Menariknya, identitas ini juga semakin
terlihat di ruang digital.
Media sosial dipenuhi dengan ucapan Ramadhan, foto berbuka
bersama, atau refleksi spiritual. Orang tidak hanya menjalankan ibadah, tetapi
juga mengekspresikan keanggotaannya dalam komunitas Muslim.
Dalam konteks komunikasi, unggahan seperti ini berfungsi
sebagai penanda identitas. Cara seseorang menunjukkan bahwa ia bagian dari
komunitas yang sedang menjalani momen yang sama.
Identitas kolektif yang kuat perlu diimbangi dengan sikap terbuka terhadap keberagaman di luar kelompok. Justru di sinilah potensi Ramadhan sebagai ruang sosial yang inklusif. Banyak tradisi Ramadhan yang secara alami membuka ruang bagi orang lain.
Berbagi makanan dengan tetangga, mengundang teman dari latar belakang berbeda untuk berbuka bersama, atau kegiatan sosial yang melibatkan komunitas yang lebih luas. Dalam praktik seperti ini, identitas kolektif tidak menjadi tembok, melainkan jembatan.
Dari sudut pandang teori identitas sosial, Ramadhan memperlihatkan
bagaimana praktik keagamaan dapat memperkuat rasa kebersamaan tanpa harus
menutup diri dari lingkungan yang lebih luas.
Puasa bukan hanya latihan spiritual, tetapi juga pengalaman
sosial yang mengingatkan manusia bahwa ia bagian dari komunitas yang lebih
besar.
Setiap kali seseorang berbuka bersama orang lain, berdiri
dalam saf salat tarawih, atau saling mengucapkan selamat menjalankan ibadah
puasa, ia sedang memperbarui ikatan simbolik dengan jutaan orang lain yang
melakukan hal yang sama.
Identitas kolektif ini memberi makna tambahan pada Ramadhan.
Ia membuat pengalaman spiritual tidak terasa sendirian. Ibadah menjadi bagian
dari cerita bersama yang dijalani oleh komunitas yang luas, melampaui batas
kota, negara, bahkan budaya.
Dan mungkin di situlah salah satu kekuatan Ramadhan. Ia bukan hanya bulan yang mengubah hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga bulan yang memperkuat hubungan manusia dengan sesamanya dalam sebuah identitas kolektif yang disebut umat.
Rea Barat, 8 Maret 2026

Komentar