Oleh: Hamdan eSA Seorang manajer di perusahaan multinasional, bercerita tentang pengalaman Ramadhannya yang terasa berbeda. Ia terbiasa hidup dalam ritme cepat. Ada rapat daring sejak pagi, kopi yang nyaris tanpa jeda, makan siang bisnis, dan notifikasi yang tak pernah berhenti berbunyi. Dalam dunianya, waktu adalah produktivitas, dan produktivitas adalah harga diri. Hari pertama puasa tahun lalu, ia tetap menjalani ritme yang sama. Bedanya hanya satu: tidak ada kopi, tidak ada camilan, tidak ada makan siang. Menjelang pukul dua siang, ia mulai merasakan pusing ringan. Tangannya refleks membuka aplikasi online pesan-antar makanan. Lalu tiba-tiba terdiam. Ia tersenyum kecil. “Oh ya, saya sedang puasa,” gumamnya. Tetapi yang menarik bukan itu. Yang paling mengganggunya bukanlah rasa lapar, melainkan kesadaran baru tentang tubuhnya sendiri. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia benar-benar merasakan detak jantungnya saat lelah. Ia menyadari betapa sering ia makan bukan karen...