Langsung ke konten utama

Ramadhan sebagai Ritual Komunikasi Kolektif


Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)

 

Di sebuah perumahan kecil, setiap sore selama Ramadhan, seorang bapak pensiunan selalu duduk di teras rumahnya lima belas menit sebelum magrib. Ia tidak banyak berbicara. Di mejanya hanya segelas air dan beberapa butir kurma. Tetangganya melakukan hal yang sama di rumah masing-masing.

Mereka tidak saling memberi aba-aba. Tidak ada pengumuman khusus. Namun setiap hari, pada waktu yang hampir sama, pintu-pintu rumah terbuka, kursi-kursi ditarik ke depan, dan wajah-wajah menoleh ke arah masjid di ujung jalan.

Ketika adzan berkumandang, hampir serentak gelas-gelas terangkat.

Tidak ada percakapan panjang. Tetapi dalam gerakan yang sama itu, mereka seperti sedang mengatakan sesuatu bersama, tanpa perlu saling menjelaskan.

***

Dalam pandangan James W. Carey, komunikasi tidak selalu tentang pengiriman pesan dari pengirim ke penerima. Model transmisi yang menekankan informasi, efisiensi, dan akurasi, bukan satu-satunya cara memahami komunikasi. 

Carey menawarkan model lain yakni apa yang disebutnya sebagai model ritual. Dalam model ini, komunikasi dipahami sebagai praktik simbolik yang memelihara masyarakat dari waktu ke waktu. Ia bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi membangun dan merawat dunia bersama.

Jika kerangka ini digunakan untuk membaca Ramadhan, maka puasa bukan hanya ibadah individual, melainkan sebuah ritual komunikasi kolektif.

Setiap hari selama Ramadhan, jutaan orang bangun pada waktu yang hampir sama untuk sahur. Mereka menahan diri sepanjang hari dalam kerangka waktu yang sama. Mereka menunggu adzan magrib dengan kesadaran yang serempak. Dalam perspektif transmisi, tidak ada “informasi baru” yang signifikan dalam tindakan-tindakan itu. Namun dalam perspektif ritual, justru di situlah maknanya.

Ramadhan adalah pengulangan bermakna

Ritual bekerja melalui repetisi. Ia tidak bertujuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, tetapi untuk memperbarui komitmen lama. Ketika umat Islam berpuasa setiap tahun, yang diperbarui bukan hanya ketaatan pribadi, melainkan juga “perasaan menjadi bagian” dari komunitas yang sama. Pengulangan itu menciptakan kontinuitas sejarah. Ia menghubungkan generasi sekarang dengan generasi sebelumnya.

Dalam logika Carey, komunikasi ritual memelihara realitas sosial. Dunia bersama tidak berdiri dengan sendirinya; ia dipertahankan melalui praktik simbolik yang terus diulang. Ramadhan adalah salah satu praktik tersebut. Ia menyatukan individu dalam kalender yang sama, ritme yang sama, dan simbol yang sama.

Adzan magrib, misalnya, bukan hanya penanda waktu berbuka. Ia adalah sinyal kolektif yang menyatukan tindakan. Ketika suara itu terdengar, tindakan berbuka dilakukan serentak di banyak tempat. Ada sinkronisasi sosial yang melampaui ruang fisik. Orang-orang yang tidak saling mengenal tetap terhubung dalam tindakan yang sama.

Saya teringat saat anak-anak, sejak pukul 5 sore kami telah ramai berkumpul di depan halaman masjid, kami bermain sambil menunggu waktu berbuka puasa. Beberapa orang terlambat datang karena masih menunggu kue yang sedang dibuat oleh ibunya yang bertugas membawa hidangan buka puasa.

Wujud komunikasi sebagai partisipasi

Dalam model ritual, komunikasi tidak diukur dari seberapa banyak pesan dipahami, tetapi dari seberapa dalam keterlibatan terjadi. Ramadhan melibatkan tubuh, waktu, makanan, ruang, dan relasi sosial. Ia adalah komunikasi yang tidak hanya diucapkan, tetapi dijalani.

Buka puasa bersama adalah contoh lain. Secara fungsional, makan bersama tidak selalu efisien. Ia memerlukan waktu dan pengaturan. Namun secara ritual, ia memperkuat ikatan. Duduk melingkar, berbagi hidangan, menunggu adzan bersama. Semuanya adalah tindakan simbolik yang meneguhkan rasa kebersamaan.

Carey menekankan bahwa ritual komunikasi menciptakan rasa “kita”. Ramadhan menghasilkan rasa itu melalui pengalaman kolektif menahan diri. Lapar yang dirasakan bukan hanya pengalaman pribadi, tetapi pengalaman yang disadari bersama. Kesadaran bahwa orang lain juga sedang menahan diri menciptakan solidaritas simbolik.

Menariknya, ritual tidak selalu spektakuler. Ia justru bekerja melalui tindakan sederhana yang diulang. Menahan makan. Mengurangi amarah. Membaca doa sebelum berbuka. Tarawih di malam hari. Semua ini membentuk jaringan makna yang meneguhkan identitas bersama.

Jika komunikasi transmisi bertanya, “Apa pesan yang dikirim”, maka komunikasi ritual bertanya, “Dunia seperti apa yang sedang kita bangun bersama”? Ramadhan membangun dunia yang berporos pada kesabaran, disiplin, dan empati. Dunia itu mungkin tidak sempurna, tetapi ia dipraktikkan selama sebulan penuh.

Pertanyaan yang lebih jauh adalah; apakah dunia simbolik yang dibangun selama Ramadhan bertahan setelahnya? Dalam kerangka Carey, ritual yang efektif adalah ritual yang berhasil memelihara makna dalam jangka panjang. Jika nilai-nilai Ramadhan hanya berhenti pada bulan itu, maka komunikasi ritualnya belum sepenuhnya bertransformasi menjadi budaya.

Jika kesabaran, empati, dan solidaritas yang dilatih selama sebulan itu terus dibawa ke bulan-bulan berikutnya, maka Ramadhan telah berhasil sebagai praktik komunikasi kolektif. Ia bukan hanya peristiwa tahunan, tetapi mekanisme pembaruan sosial.

Dengan demikian, membaca Ramadhan melalui perspektif James W. Carey membantu kita melihat bahwa puasa bukan hanya kewajiban spiritual, melainkan juga praktik simbolik yang merawat masyarakat. Ia adalah bahasa kolektif yang diucapkan melalui tubuh, waktu, dan tindakan bersama.

Dan mungkin di situlah kekuatannya. Ramadhan tidak hanya menghubungkan manusia dengan Tuhan, tetapi juga manusia dengan manusia, dalam ritme yang sama, dalam simbol yang sama, dalam dunia yang terus diperbarui melalui ritual.

 

Banga, 21 Februari 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahasiswi Komunikasi Unasman Raih Juara 1 Lomba Karya Ilmiah HUT Lalu Lintas Bayangkara Ke-69

  Artika Ananda Putri, Mahasiswa Ilmu Kounikasi Unasman andankji.com, Polman  ~~ Prestasi membanggakan diraih oleh mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Al Asyariah Mandar (FISIP Unasman). Artika Ananda Putri, berhasil meraih Juara 1 dalam Lomba Karya Ilmiah yang diselenggarakan oleh Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Sulawesi Barat, dalam rangka memperingati HUT Lalu Lintas Bhayangkara ke-69 tahun 2024. Lomba yang bertemakan "Polantas Presisi Hadir" ini diikuti oleh 40 peserta mahasiswa Perguruan Tinggi se-Sulbar dan mahasiswa dari berbagai universitas di luar Sulbar yang ber-KTP Sulbar. Artika Ananda Putri mengangkat karya ilmiah berjudul; “Menuju Sulbar Sejahtera: Optimalisasi Regional Traffic Management Centre (RTMC) melalui Gerakan Satu Hari Tanpa Pelanggaran”, yang dinilai unggul dari segi kreativitas gagasan, orisinalitas, analisis, dan sistematika penulisan. Kaprodi Ilmu Komunikasi, Dr. Hamdan, M.Ag, memandang bah...

Ahmadiyah, NII dan Candoleng-doleng

Oleh: Hamdan Akhir Mei 2011 lalu saya berada di sebuah pelosok kampung untuk beberapa waktu. Saat jumatan, sebelum azan dikumandangkan, Kades sebagai aparat dan tentunya mewakili Negara, menyampaikan pengumuman dari pemerintah kepada seluruh warga khususnya umat Islam untuk mewaspadai dua hal yang mengancam stabilitas kehidupan sosial warga, yakni: (1) tentang hadirnya aliran sesat Ahmadiyah yang mengajarkan adanya nabi setelah Muhammad saw, dan (2) hadirnya Negara Islam Indonesia (NII) yang menginginkan berdirinya Negara Islam secara terpisah dari Negara Kesatuan RI. Kedua hal di atas memfokuskan sasaran penyebaran misinya pada generasi muda. Karenanya jika warga menemukan hal-hal yang mencurigakan, kiranya segera melaporkan ke pemerintah setempat. Sekitar sepuluh hari kemudian, masih di kampong yang sama, saya terjaga saat dini hari pukul 01.30-an karena merasa lapar. Soalnya kemudian bukan soal terjaga, tetapi tak bias tidur setelah perut sudah terisi. Yang menganggu adalah dentuman...

TEOLOGI INTEGRALISTIK (Pendekatan Sejarah)

oleh: Prof. Dr. H.M. Saleh Putuhena Pendahuluan Sejak 1970-an dialog antar umat beragama mulai digiatkan oleh Departemen Agama. Ketika itu Menteri Agama (1972-1977) di jabat oleh Mukti Ali, professor perbandingan agama pada IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Sebagai seorang menteri yang berasal dari kalangan intelektual Muslim , ia sangat peduli pada dua hal penataan masalah pendidikan dan kerukunan umat beragama yang memang menjadi salah satu tugas Departemen Agama sejak didirikan 1946. Selama ini tugas pokok tersebut terkesan diabaikan. Meskipun secara sporadis terjadi konflik antara umat beragama di beberapa daerah terutama setelah 1965. Meskipun dialog atau pertemuan antar umat beragama tetap dilaksanakan secara intensif baik oleh Departemen Agama, maupun oleh organisasi keagamaan, tetapi tampaknya kurang berhasil dalam membina kerukunan antar umat beragama. Konflik antar umat beragama masih tetap juga terjadi. Rangkaian konflik yang terjadi pada penghujung abad XX berupa peri...