Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)
Undangan itu biasanya datang sederhana: sebuah pesan singkat di grup WhatsApp, poster digital berwarna hijau keemasan, atau kalimat ringan, “Bukber, yuk. Sudah lama tidak kumpul.”
Tidak ada kewajiban formal untuk hadir. Namun ada dorongan yang sulit dijelaskan, seolah Ramadhan belum lengkap tanpa satu atau dua pertemuan berbuka bersama.
Menjelang magrib, ruang-ruang publik berubah fungsi. Restoran yang biasanya menjadi tempat makan biasa, mendadak menjadi ruang temu yang penuh tawa. Masjid-masjid menyiapkan takjil dalam jumlah besar.
Rumah-rumah membuka pintu lebih lebar. Orang-orang datang dengan pakaian
terbaiknya, sebagian dengan aroma parfum yang terasa lebih istimewa dari hari
biasa. Ada suasana yang terasa dirancang, meski tanpa skenario tertulis.
Bukber sering dipahami sekadar sebagai aktivitas makan bersama setelah seharian berpuasa. Namun jika dilihat melalui perspektif James W. Carey tentang komunikasi sebagai ritual, bukber jauh melampaui fungsi biologis berbuka. Ia adalah praktik simbolik yang menghadirkan kembali kebersamaan dalam ruang dan waktu tertentu.
Komunikasi, dalam pandangan Carey,
bukan semata transmisi pesan, melainkan partisipasi dalam makna bersama yang
dipelihara melalui pengulangan.
Dalam bukber, yang dipertukarkan bukan hanya cerita atau kabar terbaru. Yang sedang diproduksi adalah rasa kebersamaan itu sendiri.
Orang-orang yang mungkin jarang bertemu sepanjang tahun, pada bulan Ramadhan
merasa perlu duduk dalam satu meja, menunggu azan magrib dalam hitungan detik
yang sama. Momen meneguk air pertama setelah azan bukan hanya tindakan
individual, melainkan pengalaman kolektif yang terjadi serentak.
Ada dramaturgi yang bekerja secara halus. Seseorang mengambil peran sebagai penggagas acara. Yang lain menjadi penghubung lokasi. Ada yang datang paling awal dan menyapa satu per satu. Ada yang tiba terlambat dan menjadi pusat perhatian.
Di media sosial, foto-foto kebersamaan segera
diunggah dengan keterangan penuh kehangatan. Tanpa disadari, setiap orang
sedang tampil dalam panggung sosial Ramadhan. Ini menunjukkan bahwa mereka adalah bagian
dari komunitas yang tetap terhubung.
Namun dalam kerangka Carey, dramaturgi ini bukan sekadar soal penampilan, melainkan tentang bagaimana simbol-simbol kebersamaan dipertontonkan dan dihidupi bersama. Meja panjang yang dipenuhi makanan menjadi simbol kelimpahan.
Doa sebelum berbuka menjadi simbol keserentakan spiritual.
Tawa yang pecah setelah tegukan pertama menjadi simbol pelepasan yang dibagi
bersama.
Bukber juga memiliki struktur waktu yang khas. Ia selalu bergerak menuju satu titik klimaks: azan magrib. Seluruh percakapan, candaan, dan obrolan ringan berlangsung dalam penantian.
Ketika azan terdengar, suasana
berubah dalam hitungan detik. Hening sejenak, lalu gerakan serempak mengambil
air atau kurma. Momen itu adalah inti ritual—sebuah peristiwa komunikasi yang
tidak memerlukan banyak kata, tetapi sarat makna.
Menariknya, bukber sering kali mempertemukan identitas yang beragam. Teman lama dengan latar pekerjaan berbeda, alumni dari angkatan berbeda, rekan kerja lintas jabatan. Semua duduk dalam posisi yang relatif setara.
Di meja berbuka, status sosial menjadi kurang menonjol dibanding
identitas sebagai sesama yang sedang menjalani puasa. Ada penyederhanaan peran
sosial yang menciptakan ruang interaksi lebih cair.
Dalam kehidupan modern yang cenderung terfragmentasi, bukber menjadi mekanisme penyambung. Ia memperbarui jaringan sosial yang mungkin renggang oleh kesibukan. Ia menghadirkan kembali rasa memiliki terhadap kelompok tertentu.
Mungkin itu keluarga besar, komunitas kampus, kantor, atau lingkungan
tempat tinggal. Dalam istilah Carey, ritual seperti ini menjaga masyarakat
tetap “hadir” bagi anggotanya.
Tentu, tidak semua bukber berjalan ideal. Ada yang terasa formal, ada yang diwarnai basa-basi, bahkan ada yang lebih sibuk mengatur foto daripada percakapan.
Tapi justru di situlah tampak bahwa bukber adalah
panggung sosial: ada negosiasi citra, ada upaya mempertahankan relasi, ada
usaha menunjukkan eksistensi. Ritual tidak selalu murni dan khusyuk; ia sering
kali bercampur dengan dinamika sosial yang kompleks.
Meski demikian, daya tarik bukber tetap kuat karena ia
menyediakan ruang perjumpaan yang terjadwal dan bermakna. Ia bukan pertemuan
acak, melainkan pertemuan yang diberi konteks spiritual oleh Ramadhan. Puasa
sepanjang hari menjadi latar emosional yang sama bagi semua peserta. Ketika
makanan akhirnya disantap, ada rasa syukur kolektif yang menyertai.
Pada akhirnya, bukber bukan tentang menu apa yang disajikan
atau lokasi seberapa mewah yang dipilih. Ia adalah ritual komunikasi yang
memperbarui kebersamaan melalui partisipasi simbolik. Setiap tahun, ia diulang.
Setiap tahun, orang-orang kembali duduk dalam lingkaran yang mungkin berubah
wajahnya, tetapi tetap membawa semangat yang serupa.
Bukber mengajarkan bahwa kebersamaan tidak selalu dibangun melalui percakapan mendalam. Kadang ia lahir dari duduk bersama, menunggu bersama, dan berbuka dalam detik yang sama. Dalam pengulangan itulah, komunitas dipelihara, bukan melalui kata-kata besar, tetapi melalui ritual kecil yang dilakukan bersama.
Banga, 23 Februari 2026

Komentar