Langsung ke konten utama

Tubuh Berbicara, Puasa dan Etika Kehadiran

 

Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)

Seorang dosen dikenal tegas dan cepat berbicara saat di kelas. Ia jarang memberi jeda, penjelasannya mengalir seperti deret poin yang harus segera selesai. Saat Ramadhan, mahasiswanya merasakan sesuatu yang berbeda. Ia berbicara lebih pelan, memberi ruang tanya lebih panjang, bahkan beberapa kali tersenyum sebelum menjawab.

Suatu hari seorang mahasiswa datang terlambat. Biasanya ia langsung menegur. Kali itu ia hanya berkata, “Silakan duduk. Lain kali lebih awal, ya”.

Seusai kelas, seorang mahasiswa berbisik, “Bapak kelihatan lebih tenang bulan ini”.

Mungkin bukan hanya kata-katanya yang berubah. Cara ia berdiri, menatap, dan memberi jeda, semuanya seperti sedang menyampaikan pesan tanpa suara.

***

Puasa sering dipahami sebagai praktik menahan lapar dan dahaga. Ia ditempatkan dalam kerangka disiplin spiritual yang bersifat internal; hubungan antara manusia dan Tuhan. Namun jika kita melihat lebih jernih, puasa tidak berhenti pada wilayah batin. Ia menjalar ke tubuh, mengubah cara seseorang berdiri, berjalan, berbicara, dan merespons. Puasa, pada akhirnya, adalah latihan tentang bagaimana "meng-hadir".

Tubuh adalah medium komunikasi paling awal dan paling jujur. Bahkan sebelum kata-kata diucapkan, tubuh sudah menyampaikan pesan. Nada suara, kecepatan bicara, sorot mata, jarak berdiri, hingga cara seseorang menarik napas, semuanya adalah tanda.

Dalam kehidupan sehari-hari, tanda-tanda itu sering muncul secara spontan, bahkan impulsif. Kita berbicara cepat ketika ingin menguasai percakapan. Kita meninggikan nada suara ketika merasa terancam. Kita memotong pembicaraan ketika merasa pendapat kita lebih penting.

Kebiasaan-kebiasaan kecil itu jarang disadari sebagai persoalan etis. Ia dianggap bagian dari karakter atau temperamen. Namun puasa menginterupsi pola tersebut.

Dengan menahan diri dari kebutuhan paling dasar, puasa menciptakan jarak antara dorongan dan tindakan. Ada jeda yang didesakkan. Ada ruang yang tidak boleh langsung diisi. Jeda itulah yang perlahan membentuk kesadaran baru terhadap tubuh.

Ketika seseorang lapar, ia menjadi lebih peka terhadap dirinya sendiri. Tubuh terasa lebih hadir. Setiap gerakan tidak lagi otomatis. Energi yang terbatas membuat seseorang memilih cara bergerak dan berbicara. Dalam kondisi seperti itu, tindakan menjadi lebih terukur. Bukan karena lemah, tetapi karena sadar.

Kesadaran ini tidak berhenti pada relasi dengan diri sendiri. Ia meluas ke relasi sosial. Puasa mengajarkan bahwa kehadiran bukan sekadar keberadaan fisik, melainkan sikap terhadap ruang bersama (publik).

Seseorang yang berpuasa belajar menahan respons emosional yang berlebihan. Ia belajar bahwa tidak semua dorongan harus segera diekspresikan. Tidak semua ketidaksukaan harus dilontarkan. Tidak semua perbedaan harus dipertajam.

Di sinilah puasa menjadi latihan etika kehadiran. Etika kehadiran berarti kesediaan untuk tidak mendominasi ruang. Ia adalah kemampuan untuk berbicara tanpa menguasai, mendengar tanpa tergesa menyela, dan hadir tanpa membuat orang lain mengecil.

Dalam keseharian, kita sering tidak sadar bahwa tubuh kita bisa menjadi alat dominasi: gestur yang terlalu keras, tatapan yang meremehkan, atau nada yang menyudutkan. Semua itu adalah bahasa.

Puasa melunakkan bahasa tubuh tersebut. Lapar dan haus menghadirkan pengalaman keterbatasan. Dalam keterbatasan, seseorang belajar rendah hati. Ia menyadari bahwa dirinya tidak sepenuhnya otonom. Ada batas-batas biologis yang tidak bisa dilampaui. 

Kesadaran akan batas ini sering kali menghasilkan empati. Jika tubuh kita sendiri rapuh, maka tubuh orang lain pun demikian. Dari kesadaran inilah lahir sikap lebih hati-hati dalam bertindak.

Lebih jauh lagi, puasa mengubah relasi kita dengan waktu, dan perubahan itu berdampak pada cara tubuh bergerak. Ritme harian tidak lagi sama. Ada momen sahur, ada penantian magrib, ada tarawih di malam hari. Pola ini membentuk irama baru yang lebih teratur dan reflektif. Dalam ritme tersebut, tubuh tidak lagi bergerak semata-mata mengikuti tuntutan produktivitas, tetapi mengikuti kesadaran spiritual.

Tubuh yang biasanya sibuk mengejar efisiensi menjadi tubuh yang belajar menunggu. Menunggu adalah sikap etis. Ia menuntut kesabaran dan pengakuan bahwa tidak semua hal berada dalam kendali kita. Dalam menunggu adzan, seseorang tidak bisa mempercepat waktu. Ia hanya bisa hadir di dalamnya. Dan dalam kehadiran itulah tubuh belajar tenang.

Ketenangan ini berdampak pada relasi sosial. Cara seseorang menanggapi kritik menjadi lebih lunak. Cara ia menghadapi perbedaan menjadi lebih sabar. Bahkan dalam situasi konflik, puasa menyediakan ruang untuk menimbang sebelum bereaksi. Reaksi yang tertunda sering kali lebih bijak daripada respons spontan.

Jika pada esai sebelumnya waktu dibaca sebagai bahasa, maka dalam konteks ini tubuh adalah aksara yang menuliskan makna puasa dalam ruang sosial. Ia adalah teks hidup yang dapat dibaca oleh orang lain. Ketika seseorang lebih sabar, orang lain merasakannya. Ketika ia lebih lembut dalam berbicara, suasana berubah. Ketika ia memilih diam daripada memperpanjang perdebatan, ruang menjadi lebih teduh.

Puasa, dengan demikian, tidak hanya membentuk individu yang saleh secara ritual, tetapi juga pribadi yang etis secara sosial. Ia mendidik tubuh untuk menjadi medium kedamaian, bukan alat agresi. Ia melatih gestur agar lebih berempati, bukan lebih mendominasi.

Etika kehadiran yang dibentuk oleh puasa bukanlah sesuatu yang spektakuler. Ia tampak dalam hal-hal kecil seperti cara memberi salam, cara duduk berdampingan, cara memberi kesempatan orang lain berbicara. Namun justru dalam detail-detail kecil itulah kualitas kemanusiaan diuji.

Ramadhan mengingatkan bahwa tubuh tidak netral. Ia selalu berbicara. Pertanyaannya bukan apakah tubuh kita menyampaikan pesan, melainkan pesan apa yang sedang ia kirimkan.

Dan mungkin, setelah sebulan berlatih menahan diri, kita menyadari satu hal sederhana namun mendasar, bahwa menjadi manusia yang baik bukan hanya soal apa yang kita yakini, tetapi juga meyadari dengan tubuh ini, bagaimana kita hadir di antara orang lain.

Oh iya, bukankah di hari persaksian akhirat nanti mulut dibungkam sebungkam-bungkamnya, dan organ tubuh lain akan memberi kesaksian (QS 24:24, 36:65, 41:20-21)?

 

Banga, 20 Februari 2026.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahasiswi Komunikasi Unasman Raih Juara 1 Lomba Karya Ilmiah HUT Lalu Lintas Bayangkara Ke-69

  Artika Ananda Putri, Mahasiswa Ilmu Kounikasi Unasman andankji.com, Polman  ~~ Prestasi membanggakan diraih oleh mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Al Asyariah Mandar (FISIP Unasman). Artika Ananda Putri, berhasil meraih Juara 1 dalam Lomba Karya Ilmiah yang diselenggarakan oleh Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Sulawesi Barat, dalam rangka memperingati HUT Lalu Lintas Bhayangkara ke-69 tahun 2024. Lomba yang bertemakan "Polantas Presisi Hadir" ini diikuti oleh 40 peserta mahasiswa Perguruan Tinggi se-Sulbar dan mahasiswa dari berbagai universitas di luar Sulbar yang ber-KTP Sulbar. Artika Ananda Putri mengangkat karya ilmiah berjudul; “Menuju Sulbar Sejahtera: Optimalisasi Regional Traffic Management Centre (RTMC) melalui Gerakan Satu Hari Tanpa Pelanggaran”, yang dinilai unggul dari segi kreativitas gagasan, orisinalitas, analisis, dan sistematika penulisan. Kaprodi Ilmu Komunikasi, Dr. Hamdan, M.Ag, memandang bah...

Ahmadiyah, NII dan Candoleng-doleng

Oleh: Hamdan Akhir Mei 2011 lalu saya berada di sebuah pelosok kampung untuk beberapa waktu. Saat jumatan, sebelum azan dikumandangkan, Kades sebagai aparat dan tentunya mewakili Negara, menyampaikan pengumuman dari pemerintah kepada seluruh warga khususnya umat Islam untuk mewaspadai dua hal yang mengancam stabilitas kehidupan sosial warga, yakni: (1) tentang hadirnya aliran sesat Ahmadiyah yang mengajarkan adanya nabi setelah Muhammad saw, dan (2) hadirnya Negara Islam Indonesia (NII) yang menginginkan berdirinya Negara Islam secara terpisah dari Negara Kesatuan RI. Kedua hal di atas memfokuskan sasaran penyebaran misinya pada generasi muda. Karenanya jika warga menemukan hal-hal yang mencurigakan, kiranya segera melaporkan ke pemerintah setempat. Sekitar sepuluh hari kemudian, masih di kampong yang sama, saya terjaga saat dini hari pukul 01.30-an karena merasa lapar. Soalnya kemudian bukan soal terjaga, tetapi tak bias tidur setelah perut sudah terisi. Yang menganggu adalah dentuman...

TEOLOGI INTEGRALISTIK (Pendekatan Sejarah)

oleh: Prof. Dr. H.M. Saleh Putuhena Pendahuluan Sejak 1970-an dialog antar umat beragama mulai digiatkan oleh Departemen Agama. Ketika itu Menteri Agama (1972-1977) di jabat oleh Mukti Ali, professor perbandingan agama pada IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Sebagai seorang menteri yang berasal dari kalangan intelektual Muslim , ia sangat peduli pada dua hal penataan masalah pendidikan dan kerukunan umat beragama yang memang menjadi salah satu tugas Departemen Agama sejak didirikan 1946. Selama ini tugas pokok tersebut terkesan diabaikan. Meskipun secara sporadis terjadi konflik antara umat beragama di beberapa daerah terutama setelah 1965. Meskipun dialog atau pertemuan antar umat beragama tetap dilaksanakan secara intensif baik oleh Departemen Agama, maupun oleh organisasi keagamaan, tetapi tampaknya kurang berhasil dalam membina kerukunan antar umat beragama. Konflik antar umat beragama masih tetap juga terjadi. Rangkaian konflik yang terjadi pada penghujung abad XX berupa peri...