Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)
Suatu malam pertengahan Ramadhan, saya datang ke masjid sedikit terlambat. Saf sudah hampir penuh. Saya berdiri di barisan paling belakang, di antara seorang anak kecil yang masih mengenakan peci kebesaran dan seorang lelaki tua yang tongkatnya disandarkan di dinding. Kami bertiga tidak saling mengenal.
Ketika imam memulai bacaan, anak kecil di samping saya beberapa kali menguap dan hampir kehilangan keseimbangan. Sesekali ia melihat ke arah ayahnya di saf depan.
Di sisi lain, lelaki tua itu berdiri dengan napas
yang terdengar berat, tetapi tetap tegak setiap kali takbir berpindah ke
gerakan berikutnya. Pada rakaat-rakaat terakhir, saya melihat tangan tuanya
sedikit bergetar ketika mengangkatnya untuk berdoa.
Tidak ada percakapan di antara kami. Tidak ada perkenalan.
Namun ketika imam membaca doa qunut witir dan suara “amin” menggema panjang,
saya merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan.
Malam itu saya pulang dengan langkah yang berbeda. Saya
tidak membawa apa-apa selain rasa hangat yang aneh. Saf tadi mungkin akan
berubah esok malam. Anak kecil itu bisa saja berdiri di tempat lain. Lelaki tua
itu mungkin tak lagi datang.
***
Malam Ramadhan selalu membawa perubahan yang terasa, bahkan
sebelum azan isya berkumandang. Jalanan yang biasanya sunyi mulai dipenuhi
langkah-langkah pelan menuju masjid.
Anak-anak mengenakan pakaian terbaiknya. Para orang tua
berjalan berdampingan, sebagian membawa sajadah, sebagian lagi membawa harapan
yang tak pernah diucapkan dengan kata-kata. Lampu-lampu masjid menyala lebih
terang, seolah memberi isyarat bahwa malam bukan lagi ruang istirahat,
melainkan ruang perjumpaan.
Di antara kerumunan itu, saya sering bertanya dalam hati: mengapa tarawih terasa berbeda dibanding salat wajib lainnya? Bukankah secara hukum ia sunnah? Bukankah ia tidak membawa konsekuensi dosa bila ditinggalkan?
Namun faktanya, justru pada ibadah inilah masjid menjadi paling hidup. Saf-saf
penuh, bahkan kadang meluber hingga ke teras.
Secara personal, tarawih menghadirkan pengalaman yang tak sepenuhnya dapat dijelaskan dengan logika formal ibadah. Berdiri dalam barisan yang rapat, bahu bersentuhan dengan tetangga yang mungkin jarang saya sapa di luar Ramadhan, saya merasakan komunikasi yang melampaui kata.
Tidak ada dialog
panjang. Tidak ada perkenalan resmi. Tetapi ada kesadaran yang tumbuh, bahwa kami
berdiri dalam tujuan yang sama.
Gerakan yang serempak —rukuk bersama, sujud bersama, duduk di antara dua sujud— membangun ritme kolektif. Tubuh-tubuh yang berbeda latar belakang sosialnya bergerak dalam satu pola yang sama.
Pada saat itulah saya
merasakan bahwa tarawih bukan sekadar ibadah individual yang dilakukan secara
massal, melainkan ritual sosial yang memproduksi kebersamaan.
Dalam perspektif sosiologis, fenomena ini mengingatkan saya pada gagasan Émile Durkheim tentang solidaritas sosial. Ia menjelaskan bahwa masyarakat tradisional dipersatukan oleh solidaritas mekanik, suatu ikatan yang lahir dari kesamaan nilai dan keyakinan.
Tarawih adalah contoh konkret bagaimana
kesamaan iman menciptakan kohesi sosial yang kuat. Orang-orang yang sehari-hari
sibuk dengan urusannya masing-masing, pada malam Ramadhan melebur dalam
identitas kolektif sebagai umat.
Durkheim juga berbicara tentang apa yang ia sebut sebagai collective effervescence, suatu ledakan energi emosional yang muncul ketika individu-individu berkumpul dalam ritual yang sama.
Dalam tarawih, momen itu
sering terasa ketika bacaan imam menyentuh hati, ketika doa dipanjatkan dengan
suara yang bergetar, atau ketika saf tetap kokoh meski waktu berdiri terasa
panjang. Energi itu tidak terlihat, tetapi dapat dirasakan. Ia memperkuat
keyakinan sekaligus mempererat hubungan sosial.
Masjid menjadi ruang produksi solidaritas. Seusai salat, percakapan kecil bermunculan. Ada yang berbagi cerita tentang pekerjaan, ada yang membicarakan kondisi kampung, ada pula yang sekadar tersenyum dan menanyakan kabar.
Bahkan pembagian takjil atau konsumsi sederhana selepas
tarawih memiliki fungsi sosial yang lebih dalam daripada sekadar mengenyangkan.
Ia menciptakan rasa memiliki.
Menariknya, solidaritas ini tidak lahir dari paksaan struktural, melainkan dari partisipasi sukarela. Tarawih bukan kewajiban mutlak. Namun justru karena sifatnya yang sukarela itulah, kehadiran dalam saf menjadi ekspresi kesadaran kolektif yang otentik.
Orang datang bukan karena
takut sanksi, melainkan karena merasa menjadi bagian dari komunitas makna.
Dalam kerangka teori komunikasi ritual yang dikemukakan
James W. Carey, praktik seperti tarawih tidak dapat dipahami hanya sebagai
penyampaian pesan keagamaan, melainkan sebagai proses pemeliharaan realitas
sosial.
Komunikasi dalam perspektif ritual bukan terutama soal
transmisi informasi, tetapi tentang partisipasi bersama dalam simbol-simbol
yang dimaknai kolektif. Tarawih adalah komunikasi tanpa banyak kata. Ia menghadirkan
makna melalui kehadiran, pengulangan, dan keterlibatan tubuh dalam ritme yang
sama.
Dunia di luar sering menekankan kompetisi, pencapaian
pribadi, dan keberhasilan individual. Namun di dalam saf tarawih, status sosial
melebur. Tidak ada kursi khusus bagi yang kaya. Tidak ada saf istimewa bagi
yang berpangkat. Semua berdiri sejajar, menghadap kiblat yang sama.
Kesetaraan simbolik ini memiliki dampak psikologis yang dalam. Ia menumbuhkan empati. Ia meruntuhkan jarak sosial. Ia mengingatkan bahwa pada dasarnya manusia berbagi kelemahan dan harapan yang sama.
Dalam
doa-doa panjang yang dipanjatkan imam, suara “amin” yang menggema bukan sekadar
respons liturgis, tetapi gema solidaritas emosional yang menyatukan pengalaman
batin banyak orang dalam satu resonansi kolektif.
Mungkin inilah sebabnya Ramadhan selalu terasa lebih hangat. Bukan semata karena suasana religiusnya, tetapi karena tarawih menghadirkan ruang perjumpaan yang intens dan teratur.
Ia menjadi mekanisme sosial yang
menata kembali hubungan antarindividu, memperbarui ikatan yang mungkin renggang
oleh kesibukan hidup.
Tarawih bukan hanya ibadah malam. Ia adalah proses sosial
yang terus diperbarui setiap tahun. Ia memproduksi solidaritas, memelihara
kebersamaan, dan meneguhkan identitas kolektif.
Dan ketika Ramadhan usai, yang sering kita rindukan
sebenarnya bukan hanya suasana ibadahnya, tetapi rasa kebersamaan yang tumbuh
di antara saf-saf yang rapat itu.
Banga, 22 Februari 2026

Komentar