Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)
Di tengah riuhnya media sosial, Ramadan sering kali hadir sebagai paradoks. Di satu sisi, ia disebut bulan pengendalian diri, bulan penyucian lisan dan batin.
Di sisi lain, linimasa tetap dipenuhi amarah,
sindiran tajam, debat yang kehilangan adab, bahkan saling cela atas nama
kebenaran. Seolah-olah puasa berhenti pada perut, tetapi tidak sampai pada
kata-kata.
Padahal, inti puasa bukan semata menahan lapar dan dahaga.
Ia adalah latihan menunda dorongan. Menahan respons spontan. Mengendalikan
impuls untuk segera membalas.
Dalam tradisi keagamaan, lisan bahkan ditempatkan sebagai
medan ujian yang lebih berat daripada rasa lapar. Menahan kata sering kali
lebih sulit daripada menahan haus. Di titik inilah puasa bisa dibaca sebagai
latihan etika diskursus.
Dalam kerangka pemikiran Jürgen Habermas, ruang publik ideal
dibangun melalui tindakan komunikatif, yakni komunikasi yang berorientasi pada
saling pengertian, bukan pada kemenangan sepihak.
Diskursus yang sehat menuntut kesediaan untuk diuji secara
rasional, membuka diri terhadap argumen lawan, serta menghindari dominasi
simbolik maupun tekanan emosional. Setiap klaim kebenaran harus bisa
dipertanggungjawabkan, bukan diteriakkan.
Namun media sosial sering kali bergerak dalam logika
sebaliknya. Algoritma menyukai reaksi cepat. Kemarahan menyebar lebih cepat
daripada klarifikasi. Opini yang tajam dan provokatif lebih mudah menjadi viral
daripada argumen yang tenang dan berlapis.
Dalam situasi seperti ini, komunikasi cenderung berubah
menjadi tindakan strategis: berbicara bukan untuk mencapai pengertian, tetapi
untuk memperoleh dukungan, atensi, atau kemenangan simbolik.
Puasa seharusnya memotong logika itu. Jika puasa adalah
latihan menahan diri, maka ia semestinya juga menjadi latihan menahan “klik
kirim.” Menahan diri untuk tidak segera berkomentar sebelum membaca utuh.
Menunda respons sampai emosi mereda. Memilih diksi yang menjaga martabat,
bahkan ketika berbeda pandangan. Dalam arti ini, puasa bukan hanya ibadah
vertikal, tetapi juga disiplin komunikasi horizontal.
Etika diskursus menuntut tiga hal: kejujuran, rasionalitas,
dan penghormatan terhadap pihak lain sebagai subjek setara. Puasa, pada
dasarnya, melatih ketiganya.
Ia mengajarkan kejujuran terhadap diri misalnya dalam bentuk
mengakui dorongan marah dan ego, lalu menahannya. Ia menuntut rasionalitas
misalnya tidak bertindak berdasarkan ledakan sesaat. Ia membentuk penghormatan
dengan tidak merendahkan orang lain hanya karena berbeda posisi.
Masalahnya, kita sering memisahkan kesalehan personal dari
perilaku publik. Puasa dianggap selesai ketika azan magrib terdengar, bukan
ketika diskursus menjadi lebih beradab. Akibatnya, ruang digital tetap menjadi
arena polarisasi, bahkan di bulan yang disebut sebagai bulan pengendalian diri.
Padahal, jika dibawa lebih jauh, puasa bisa menjadi fondasi
moral bagi ruang publik yang lebih sehat. Ia melatih jeda, dan jeda adalah
syarat berpikir. Ia melatih kesabaran, dan kesabaran adalah syarat dialog. Ia
melatih kerendahan hati, dan kerendahan hati adalah syarat untuk mengakui
kemungkinan bahwa kita bisa saja keliru.
Dalam konteks masyarakat digital, barangkali yang kita
butuhkan bukan sekadar kebebasan berbicara, melainkan kedewasaan untuk
membatasi diri dalam berbicara.
Bukan sekadar keberanian menyampaikan opini, tetapi kesiapan
mempertanggungjawabkannya secara rasional. Puasa, jika dipahami secara etis,
menawarkan latihan itu setiap hari selama sebulan penuh.
Ruang publik tidak akan pernah sepenuhnya sunyi dari
perbedaan. Perbedaan adalah kodrat sosial. Namun perbedaan tidak harus berubah
menjadi permusuhan. Diskursus tidak harus berubah menjadi penghukuman.
Di sinilah puasa menemukan relevansi sosialnya, ia
mengingatkan bahwa pengendalian diri adalah prasyarat kebebasan yang
bermartabat.
Barangkali persoalan kita bukan kurangnya suara, melainkan
berlebihnya reaksi. Bukan kurangnya argumentasi, melainkan kurangnya kesediaan
untuk mendengar. Jika puasa hanya berhenti pada tubuh, ia kehilangan dimensi
sosialnya.
Tetapi jika ia menjelma menjadi etika diskursus, maka
Ramadan bukan hanya momentum spiritual, melainkan juga kesempatan memperbaiki
kualitas ruang publik kita.
Dan mungkin, dalam dunia yang terlalu cepat bereaksi,
kemampuan untuk menahan diri adalah bentuk rasionalitas yang paling langka.
Rea, 25 Februari 2026

Komentar