Langsung ke konten utama

Ritme Ramadhan: Ketika Waktu Menjadi Bahasa

 

Hamdan eSA 

Seorang pegawai kantor pernah berkata bahwa ia baru benar-benar “mendengar” jam dinding saat Ramadhan. Pada bulan-bulan biasa, ia jarang memperhatikan waktu selain untuk rapat atau tenggat pekerjaan. Tetapi ketika berpuasa, terutama menjelang magrib, detik terasa lebih panjang. Ia beberapa kali melirik jam, bukan karena takut terlambat, melainkan karena menunggu satu momen yang sama setiap hari: adzan.

Suatu sore, listrik di kantornya sempat padam. Jam digital mati. Ia merasa gelisah, seolah kehilangan pegangan. “Ternyata saya tidak hanya menunggu makanan,” katanya, “saya menunggu tanda.”

Sejak itu ia sadar, selama Ramadhan, waktu bukan sekadar angka. Ia menjadi bahasa yang ia dengarkan dengan lebih peka.

***

Pada bulan-bulan biasa, waktu berjalan tanpa banyak kita sadari. Pagi dimulai dengan tergesa, siang dipenuhi pekerjaan, malam ditutup dengan kelelahan. Jam hanya alat ukur produktivitas. Ia netral, datar, dan mekanis.

Namun ketika Ramadhan datang, waktu berubah karakter. Ia tidak lagi sekadar hitungan menit dan jam, tetapi menjadi penanda makna. Ada waktu sahur yang sunyi, ada siang yang terasa panjang, ada detik-detik menjelang magrib yang sarat penantian, dan ada malam yang hidup oleh tarawih. Seolah-olah Ramadhan tidak hanya mengubah kebiasaan makan, tetapi mengubah struktur pengalaman kita terhadap waktu.

Di sinilah puasa dapat dibaca sebagai peristiwa komunikasi semiotik dalam arti yang lebih luas, sebagaimana dapat ditelusuri dalam kerangka pemikiran Charles Sanders Peirce. Jika pada refleksi sebelumnya kita membaca lapar sebagai tanda yang melekat pada tubuh, maka kini kita dapat melihat bahwa waktu dalam Ramadhan juga bekerja sebagai sistem tanda sosial.

Dalam semiotika Peirce, tanda tidak hanya berupa kata atau simbol visual. Ia bisa berupa peristiwa, kebiasaan, bahkan ritme yang berulang. Sahur, misalnya, bukan sekadar aktivitas makan sebelum fajar. Ia adalah tanda kolektif bahwa sebuah komunitas sedang memasuki fase disiplin spiritual. Adzan magrib bukan sekadar penanda masuknya waktu berbuka, tetapi simbol pelepasan, izin, sekaligus kebersamaan.

Setiap bunyi adzan selama Ramadhan membawa makna yang berbeda dibanding bulan lainnya. Ia tidak hanya memanggil untuk salat, tetapi juga menandai akhir dari penahanan diri. Di banyak tempat, masyarakat berbuka hampir serempak, mengikuti satu tanda yang sama. Di situ, waktu bukan lagi pengalaman individual, melainkan pengalaman kolektif.

Jika menggunakan kategori Peirce, ritme Ramadhan dapat dipahami sebagai legisign—tanda yang berfungsi karena aturan sosial dan religius yang disepakati. Bahwa makan dihentikan saat fajar dan dimulai kembali saat magrib bukan sekadar kebiasaan, tetapi norma simbolik yang diinternalisasi. Ia membentuk pola hidup, mengatur tubuh, dan sekaligus membangun solidaritas.

Menariknya, perubahan ritme ini terasa hingga level sosial yang lebih luas. Jam kerja disesuaikan. Aktivitas malam meningkat. Kota-kota besar berubah wajahnya. Jalanan yang biasanya lengang dini hari menjadi hidup saat sahur. Masjid yang mungkin sepi di bulan lain menjadi pusat aktivitas. Ramadhan menciptakan reorganisasi tanda dalam ruang publik.

Waktu, yang dalam kehidupan modern sering direduksi menjadi alat efisiensi, dalam Ramadhan menjadi bahasa spiritual. Detik menjelang magrib tidak lagi sekadar hitungan matematis, tetapi momen penuh makna. Orang-orang menatap jam dengan kesadaran berbeda. Bahkan anak-anak belajar membaca waktu bukan dari angka, tetapi dari adzan.

Dalam konteks ini, Ramadhan menghadirkan kritik halus terhadap peradaban yang memaknai waktu semata-mata sebagai produktivitas. Dunia modern mengajarkan bahwa waktu adalah uang. Setiap menit harus menghasilkan sesuatu. Tidak heran  jika banyak orang merasa bersalah ketika tidak “produktif”.

Ramadhan menawarkan logika lain. Ia memperlambat ritme siang, memperpanjang malam dalam ibadah, dan menghadirkan jeda yang reflektif. Waktu tidak lagi hanya untuk menghasilkan, tetapi untuk menghayati. Puasa mengajarkan bahwa nilai sebuah jam tidak selalu terletak pada output, tetapi pada kesadaran yang menyertainya.

Namun, seperti semua tanda, ritme Ramadhan juga rentan terhadap reduksi makna. Ketika sahur hanya menjadi rutinitas tanpa kesadaran, atau ketika magrib semata-mata menjadi momen pesta makanan, maka bahasa waktu itu kehilangan kedalaman simboliknya. Ia tetap berjalan, tetapi tidak lagi dibaca.

Di era digital, pengalaman terhadap waktu bahkan semakin terfragmentasi. Notifikasi tidak mengenal sahur atau magrib. Media sosial tetap bergerak dalam ritme global yang tak pernah tidur. Dalam situasi ini, Ramadhan menjadi semacam “pulau waktu” yang mencoba mempertahankan ritme berbeda di tengah arus percepatan.

Pertanyaannya: apakah kita benar-benar masuk ke dalam ritme itu, atau sekadar menyesuaikan jadwal makan?

Jika Ramadhan adalah sistem tanda, maka ia menuntut pembacaan aktif. Ia mengajak kita menyadari bahwa waktu bukan hanya kronologi, tetapi simbol. Bahwa detik menjelang berbuka bukan hanya menunggu makanan, tetapi momen kontemplasi tentang kesabaran. Bahwa malam tarawih bukan hanya rangkaian rakaat, tetapi produksi makna kolektif tentang kebersamaan.

Dalam perspektif komunikasi, Ramadhan tidak hanya menyampaikan pesan melalui kata-kata, tetapi melalui struktur waktu itu sendiri. Ia mengomunikasikan nilai pengendalian diri, solidaritas, dan keteraturan melalui ritme yang diulang setiap hari selama sebulan.

Barangkali inilah salah satu keistimewaan Ramadhan: ia menjadikan waktu berbicara. Ia mengubah jam dinding menjadi penanda spiritual. Ia menjadikan adzan sebagai titik temu antara tubuh, masyarakat, dan makna.

Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin kehilangan ritme karena dikejar kecepatan, Ramadhan hadir untuk mengingatkan bahwa tidak semua waktu harus dikejar. Ada waktu yang perlu ditunggu. Ada waktu yang perlu dihayati. Dan ada waktu yang justru mengajarkan kita untuk berhenti, agar kita kembali mampu membaca makna hidup dengan lebih jernih.


Banga, 19 Februari 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahasiswi Komunikasi Unasman Raih Juara 1 Lomba Karya Ilmiah HUT Lalu Lintas Bayangkara Ke-69

  Artika Ananda Putri, Mahasiswa Ilmu Kounikasi Unasman andankji.com, Polman  ~~ Prestasi membanggakan diraih oleh mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Al Asyariah Mandar (FISIP Unasman). Artika Ananda Putri, berhasil meraih Juara 1 dalam Lomba Karya Ilmiah yang diselenggarakan oleh Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Sulawesi Barat, dalam rangka memperingati HUT Lalu Lintas Bhayangkara ke-69 tahun 2024. Lomba yang bertemakan "Polantas Presisi Hadir" ini diikuti oleh 40 peserta mahasiswa Perguruan Tinggi se-Sulbar dan mahasiswa dari berbagai universitas di luar Sulbar yang ber-KTP Sulbar. Artika Ananda Putri mengangkat karya ilmiah berjudul; “Menuju Sulbar Sejahtera: Optimalisasi Regional Traffic Management Centre (RTMC) melalui Gerakan Satu Hari Tanpa Pelanggaran”, yang dinilai unggul dari segi kreativitas gagasan, orisinalitas, analisis, dan sistematika penulisan. Kaprodi Ilmu Komunikasi, Dr. Hamdan, M.Ag, memandang bah...

Ahmadiyah, NII dan Candoleng-doleng

Oleh: Hamdan Akhir Mei 2011 lalu saya berada di sebuah pelosok kampung untuk beberapa waktu. Saat jumatan, sebelum azan dikumandangkan, Kades sebagai aparat dan tentunya mewakili Negara, menyampaikan pengumuman dari pemerintah kepada seluruh warga khususnya umat Islam untuk mewaspadai dua hal yang mengancam stabilitas kehidupan sosial warga, yakni: (1) tentang hadirnya aliran sesat Ahmadiyah yang mengajarkan adanya nabi setelah Muhammad saw, dan (2) hadirnya Negara Islam Indonesia (NII) yang menginginkan berdirinya Negara Islam secara terpisah dari Negara Kesatuan RI. Kedua hal di atas memfokuskan sasaran penyebaran misinya pada generasi muda. Karenanya jika warga menemukan hal-hal yang mencurigakan, kiranya segera melaporkan ke pemerintah setempat. Sekitar sepuluh hari kemudian, masih di kampong yang sama, saya terjaga saat dini hari pukul 01.30-an karena merasa lapar. Soalnya kemudian bukan soal terjaga, tetapi tak bias tidur setelah perut sudah terisi. Yang menganggu adalah dentuman...

TEOLOGI INTEGRALISTIK (Pendekatan Sejarah)

oleh: Prof. Dr. H.M. Saleh Putuhena Pendahuluan Sejak 1970-an dialog antar umat beragama mulai digiatkan oleh Departemen Agama. Ketika itu Menteri Agama (1972-1977) di jabat oleh Mukti Ali, professor perbandingan agama pada IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Sebagai seorang menteri yang berasal dari kalangan intelektual Muslim , ia sangat peduli pada dua hal penataan masalah pendidikan dan kerukunan umat beragama yang memang menjadi salah satu tugas Departemen Agama sejak didirikan 1946. Selama ini tugas pokok tersebut terkesan diabaikan. Meskipun secara sporadis terjadi konflik antara umat beragama di beberapa daerah terutama setelah 1965. Meskipun dialog atau pertemuan antar umat beragama tetap dilaksanakan secara intensif baik oleh Departemen Agama, maupun oleh organisasi keagamaan, tetapi tampaknya kurang berhasil dalam membina kerukunan antar umat beragama. Konflik antar umat beragama masih tetap juga terjadi. Rangkaian konflik yang terjadi pada penghujung abad XX berupa peri...