Langsung ke konten utama

Membaca Puasa sebagai Peristiwa Semiotika Komunikasi

 

Oleh: Hamdan eSA

Seorang manajer di perusahaan multinasional, bercerita tentang pengalaman Ramadhannya yang terasa berbeda. Ia terbiasa hidup dalam ritme cepat. Ada rapat daring sejak pagi, kopi yang nyaris tanpa jeda, makan siang bisnis, dan notifikasi yang tak pernah berhenti berbunyi. Dalam dunianya, waktu adalah produktivitas, dan produktivitas adalah harga diri.

Hari pertama puasa tahun lalu, ia tetap menjalani ritme yang sama. Bedanya hanya satu: tidak ada kopi, tidak ada camilan, tidak ada makan siang.

Menjelang pukul dua siang, ia mulai merasakan pusing ringan. Tangannya refleks membuka aplikasi online pesan-antar makanan. Lalu tiba-tiba terdiam. Ia tersenyum kecil. “Oh ya, saya sedang puasa,” gumamnya.

Tetapi yang menarik bukan itu. Yang paling mengganggunya bukanlah rasa lapar, melainkan kesadaran baru tentang tubuhnya sendiri. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia benar-benar merasakan detak jantungnya saat lelah. Ia menyadari betapa sering ia makan bukan karena lapar, tetapi karena jeda rapat. Betapa sering ia minum kopi bukan karena butuh, tetapi karena kebiasaan.

“Rasanya seperti tubuh saya sedang berbicara,” katanya.

***

Setiap Ramadhan, jutaan manusia menjalani pengalaman yang sama. Bangun sebelum fajar, makan secukupnya, lalu menahan lapar dan dahaga hingga matahari tenggelam. Menjelang siang, tubuh mulai memberi sinyal. Lambung terasa kosong bahkan berbumyi, energi menurun, dan fokus sedikit terganggu. Namun di balik pengalaman biologis itu, ada sesuatu yang jarang kita tanyakan. Apakah rasa lapar hanya sekedar sensasi fisik, atau ia sedang “mengatakan” sesuatu?

Jika kita mendekatinya dari perspektif semiotika, khususnya pemikiran Charles Sanders Peirce, realitas dapat dibaca sebagai jaringan tanda. Bagi Peirce, tanda (sign) adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain dalam benak seseorang. Ia tidak berdiri sendiri, melainkan selalu melibatkan tiga unsur: representament (yang tampak atau terasa), object (yang dirujuk), dan interpretant (makna yang muncul dalam kesadaran).

Dalam kerangka ini, lapar saat puasa adalah representamen. Ia adalah sesuatu yang hadir secara konkret dalam tubuh. Namun ia menunjuk pada object yang lebih luas: keterbatasan manusia, ketergantungan pada rezeki, dan realitas bahwa hidup tidak sepenuhnya berada dalam kontrol kita. Sementara interpretant-nya adalah kesadaran yang lahir dari pengalaman itu, yakni kesadaran spiritual yang dalam tradisi Islam disebut taqwa.

Dengan demikian, puasa bukan sekadar praktik menahan makan. Ia juga adalah proses komunikasi simbolik. Tuhan tidak “berbicara” melalui suara yang terdengar, tetapi melalui pengalaman eksistensial yang dialami tubuh. Lapar menjadi bahasa. Haus menjadi medium. Tubuh menjadi teks yang harus dibaca.

Di sinilah perbedaan mendasar antara puasa dan diet. Diet berbicara tentang manajemen kalori dan kesehatan. Puasa berbicara tentang makna. Diet berhenti pada tubuh. Puasa melampaui tubuh menuju kesadaran.

Ada konteks yang lebih besar yang membuat refleksi puasa ini relevan. Peradaban modern adalah peradaban anti-lapar. Ia dibangun di atas logika pemenuhan hasrat secepat mungkin. Industri makanan berkembang tanpa henti. Layanan pesan-antar beroperasi dua puluh empat jam. Iklan mengajarkan bahwa keinginan harus segera dipenuhi. Bahkan rasa sedikit tidak nyaman dianggap gangguan yang harus segera diselesaikan.

Dalam dunia seperti itu, lapar dipersepsikan sebagai kegagalan sistem. Sesuatu yang memalukan, yang harus ditutup atau diatasi dengan cepat.

Ramadhan datang sebagai interupsi terhadap logika tersebut. Selama sebulan, manusia diperintahkan untuk menunda pemenuhan kebutuhan paling dasar. Ini bukan sekadar latihan fisik, melainkan kritik simbolik terhadap budaya instan. Puasa memaksa manusia mengalami jeda. Ia mematahkan ritme konsumsi yang biasanya tak terbendung.

Jika menggunakan kategori Peirce lebih lanjut, lapar dalam puasa bisa dibaca sebagai qualisign yang menunjuk pada kualitas rasa yang langsung dialami; sebagai sinsig yang menunjuk pada peristiwa konkret lapar pada hari tertentu; dan sebagai legisign yang menunjuk pada aturan normatif yang memerintahkan praktik tersebut selama sebulan penuh. Artinya, puasa bekerja pada tiga level sekaligus: pengalaman personal, peristiwa aktual, dan sistem nilai kolektif.

Tetapi tanda tidak pernah otomatis bermakna. Ia membutuhkan interpretasi. Di sinilah letak perbedaan antara puasa yang hidup dan puasa yang mekanis. Jika lapar hanya ditunggu agar segera berakhir saat azan magrib, maka ia berhenti sebagai sensasi biologis. Namun jika ia direnungkan sebagai pesan, maka ia menjadi pengalaman transformasional.

Dalam kerangka komunikasi, Ramadhan dapat dipahami sebagai pesan yang dikirim melalui pengalaman, bukan melalui retorika. Ia tidak hadir sebagai ceramah panjang, melainkan sebagai praktik harian yang memproduksi makna. Setiap jam menjelang magrib adalah ruang interpretasi; apakah kita membaca lapar sebagai beban, atau sebagai pengingat?

Jika dibaca sebagai pengingat, maka puasa menjadi kritik halus terhadap peradaban hasrat. Dunia modern berkata: “kamu adalah apa yang kamu konsumsi”. Ramadhan berkata: “kamu adalah apa yang mampu kamu kendalikan”.

Di titik inilah puasa menjadi komunikasi peradaban. Ia tidak sekadar membentuk individu saleh, tetapi menawarkan alternatif logika hidup. Logika yang tidak berbasis pemuasan tanpa batas, melainkan pada pengendalian diri. Logika yang tidak mengagungkan kepemilikan, tetapi kesadaran.

Barangkali, pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah apakah kita menahan lapar, tetapi apakah kita memahami apa yang sedang dikomunikasikan oleh lapar itu sendiri. Karena mungkin, di saat perut kosong, justru ruang batin menjadi lebih terbuka untuk membaca pesan-pesan yang selama ini tertutup oleh kenyang.

Dan mungkin pula, di tengah peradaban yang terlalu bising oleh iklan dan notifikasi, Tuhan memilih bahasa yang paling sunyi, yaitu rasa lapar, agar manusia kembali belajar membaca dirinya sendiri.

 

Banga, 18 Februari 2026.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahasiswi Komunikasi Unasman Raih Juara 1 Lomba Karya Ilmiah HUT Lalu Lintas Bayangkara Ke-69

  Artika Ananda Putri, Mahasiswa Ilmu Kounikasi Unasman andankji.com, Polman  ~~ Prestasi membanggakan diraih oleh mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Al Asyariah Mandar (FISIP Unasman). Artika Ananda Putri, berhasil meraih Juara 1 dalam Lomba Karya Ilmiah yang diselenggarakan oleh Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Sulawesi Barat, dalam rangka memperingati HUT Lalu Lintas Bhayangkara ke-69 tahun 2024. Lomba yang bertemakan "Polantas Presisi Hadir" ini diikuti oleh 40 peserta mahasiswa Perguruan Tinggi se-Sulbar dan mahasiswa dari berbagai universitas di luar Sulbar yang ber-KTP Sulbar. Artika Ananda Putri mengangkat karya ilmiah berjudul; “Menuju Sulbar Sejahtera: Optimalisasi Regional Traffic Management Centre (RTMC) melalui Gerakan Satu Hari Tanpa Pelanggaran”, yang dinilai unggul dari segi kreativitas gagasan, orisinalitas, analisis, dan sistematika penulisan. Kaprodi Ilmu Komunikasi, Dr. Hamdan, M.Ag, memandang bah...

Ahmadiyah, NII dan Candoleng-doleng

Oleh: Hamdan Akhir Mei 2011 lalu saya berada di sebuah pelosok kampung untuk beberapa waktu. Saat jumatan, sebelum azan dikumandangkan, Kades sebagai aparat dan tentunya mewakili Negara, menyampaikan pengumuman dari pemerintah kepada seluruh warga khususnya umat Islam untuk mewaspadai dua hal yang mengancam stabilitas kehidupan sosial warga, yakni: (1) tentang hadirnya aliran sesat Ahmadiyah yang mengajarkan adanya nabi setelah Muhammad saw, dan (2) hadirnya Negara Islam Indonesia (NII) yang menginginkan berdirinya Negara Islam secara terpisah dari Negara Kesatuan RI. Kedua hal di atas memfokuskan sasaran penyebaran misinya pada generasi muda. Karenanya jika warga menemukan hal-hal yang mencurigakan, kiranya segera melaporkan ke pemerintah setempat. Sekitar sepuluh hari kemudian, masih di kampong yang sama, saya terjaga saat dini hari pukul 01.30-an karena merasa lapar. Soalnya kemudian bukan soal terjaga, tetapi tak bias tidur setelah perut sudah terisi. Yang menganggu adalah dentuman...

TEOLOGI INTEGRALISTIK (Pendekatan Sejarah)

oleh: Prof. Dr. H.M. Saleh Putuhena Pendahuluan Sejak 1970-an dialog antar umat beragama mulai digiatkan oleh Departemen Agama. Ketika itu Menteri Agama (1972-1977) di jabat oleh Mukti Ali, professor perbandingan agama pada IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Sebagai seorang menteri yang berasal dari kalangan intelektual Muslim , ia sangat peduli pada dua hal penataan masalah pendidikan dan kerukunan umat beragama yang memang menjadi salah satu tugas Departemen Agama sejak didirikan 1946. Selama ini tugas pokok tersebut terkesan diabaikan. Meskipun secara sporadis terjadi konflik antara umat beragama di beberapa daerah terutama setelah 1965. Meskipun dialog atau pertemuan antar umat beragama tetap dilaksanakan secara intensif baik oleh Departemen Agama, maupun oleh organisasi keagamaan, tetapi tampaknya kurang berhasil dalam membina kerukunan antar umat beragama. Konflik antar umat beragama masih tetap juga terjadi. Rangkaian konflik yang terjadi pada penghujung abad XX berupa peri...