Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)
Setiap Ramadhan, ada perubahan yang tidak hanya terasa pada tubuh, tetapi juga pada ruang sosial. Percakapan menjadi lebih hati-hati. Nada suara lebih lembut. Ungkapan “maaf” lebih mudah terucap.
Bahkan di ruang-ruang
digital yang biasanya keras dan reaktif, muncul ajakan untuk menjaga lisan dan
tulisan. Seolah-olah bulan ini bukan hanya mengatur jam makan, tetapi juga mengatur
cara berbicara.
Dalam percakapan publik, simbol visual kerap dibaca secara tergesa-gesa dan dilekati makna ideologis tertentu.
Misalnya, jenggot sering
diasosiasikan dengan posisi politik atau keberpihakan tertentu, seolah-olah ia
secara inheren mengandung pesan ideologis yang tegas. Namun realitas tidak
selalu mengikuti logika simbolik yang disederhanakan itu.
Ada figur yang secara visual diasumsikan sebagai “lawan
keras” suatu entitas politik, tetapi dalam praktik justru berada dalam relasi
kemitraan. Bahkan dalam pengalaman personal, seseorang bisa saja dicurigai
berpandangan ekstrem hanya karena atribut visual yang kebetulan melekat.
Fenomena ini menarik jika dibaca melalui pemikiran Jürgen
Habermas tentang ranah publik (public sphere) dan tindakan komunikatif (communicative
action). Habermas membayangkan ranah publik sebagai arena di mana warga
berdiskusi secara rasional, setara, dan bebas dari dominasi untuk mencapai
pemahaman bersama.
Komunikasi ideal bukanlah komunikasi yang bertujuan menang,
melainkan komunikasi yang berorientasi pada konsensus melalui argumentasi yang
masuk akal.
Dalam kehidupan sehari-hari, ruang publik sering kali
tercemar oleh kepentingan politik, ekonomi, atau ego personal. Percakapan
berubah menjadi ajang saling serang. Media sosial dipenuhi opini yang lebih
ingin viral daripada benar.
Diskusi publik lebih sering menjadi tindakan strategis yang bertujuan
memengaruhi atau mengalahkan daripada tindakan komunikatif yang tulus mencari
pengertian bersama.
Ramadhan menghadirkan interupsi terhadap pola itu. Puasa
melatih pengendalian diri, bukan hanya terhadap lapar dan dahaga, tetapi juga
terhadap dorongan emosional.
Ketika seseorang menahan diri untuk tidak membalas komentar
dengan kemarahan karena ia sedang berpuasa, di situlah dimensi etis komunikasi
bekerja. Puasa menjadi fondasi moral yang menopang praktik diskursus.
Habermas menyebut bahwa tindakan komunikatif menuntut empat
klaim validitas, yakni kebenaran, ketepatan normatif, kejujuran, dan kejelasan.
Menariknya, nilai-nilai ini sejalan dengan etika Ramadhan.
Kejujuran menjadi inti ibadah puasa yang tak terlihat.
Ketepatan normatif tercermin dalam anjuran menjaga adab. Kejelasan dan
kebenaran menjadi bagian dari tanggung jawab moral dalam berbicara.
Dengan kata lain, Ramadhan menyediakan kondisi kultural yang
mendekati situasi tutur ideal yang dibayangkan Habermas.
Ranah publik selama Ramadhan juga mengalami transformasi
simbolik. Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang diskusi,
kajian, dan dialog.
Orang-orang duduk bersama setelah tarawih, membicarakan
persoalan sosial, ekonomi, bahkan politik, dalam suasana yang relatif lebih
tenang. Ada kesadaran bahwa bulan ini menuntut kesantunan. Percakapan yang
biasanya tajam menjadi lebih reflektif.
Di ruang digital, kita juga melihat fenomena serupa.
Tagar-tagar bernuansa religius, kutipan ayat, dan pesan moral membanjiri lini
masa. Memang tidak semuanya bebas dari performativitas, tetapi tetap ada upaya
kolektif untuk menciptakan atmosfer yang lebih beradab.
Ajakan seperti “jaga jempol” atau “hindari debat kusir saat
puasa” menunjukkan bahwa masyarakat menyadari pentingnya kualitas komunikasi.
Pertanyaannya, apakah Ramadhan benar-benar memperbaiki ranah publik, atau hanya menahannya sementara? Habermas mengingatkan bahwa ranah publik yang sehat tidak bergantung pada momen emosional sesaat, melainkan pada
struktur komunikasi yang konsisten. Jika etika diskursus hanya bertahan selama
tiga puluh hari, maka ia belum menjadi budaya, melainkan sekadar musim.
Di sinilah refleksi menjadi penting. Ramadhan dapat dipahami
sebagai laboratorium moral bagi ranah publik. Ia menguji kemungkinan
terciptanya komunikasi yang lebih rasional dan etis dalam masyarakat yang
plural. Ketika orang berbeda pandangan tetapi tetap menjaga adab karena
kesadaran spiritual, maka praktik itu mendekati cita-cita tindakan komunikatif.
Lebih jauh lagi, puasa menghadirkan pengalaman kesetaraan
yang mendukung prinsip ruang publik. Lapar dan dahaga dirasakan oleh semua,
tanpa memandang status sosial. Kesetaraan pengalaman ini dapat menjadi dasar
empati dalam diskursus. Seseorang yang merasakan rapuhnya tubuhnya sendiri
mungkin lebih mudah memahami kelemahan orang lain. Dari empati itulah dialog
yang beradab bisa tumbuh.
Tapi tantangan tetap ada. Komersialisasi Ramadhan,
polarisasi politik, dan algoritma media sosial sering kali menarik percakapan
kembali ke logika strategis. Diskursus publik mudah tergelincir menjadi ajang
pencitraan atau propaganda. Dalam situasi ini, Ramadhan diuji, apakah ia hanya
simbol religius, atau benar-benar sumber etika komunikasi?
Pada akhirnya, Ramadhan menawarkan kemungkinan. Ia membuka
ruang bagi praktik komunikasi yang lebih reflektif, lebih sabar, dan lebih
berorientasi pada pemahaman bersama. Ia menunjukkan bahwa ruang publik yang
beradab bukan utopia. Ia bisa muncul ketika individu-individu menahan ego,
memeriksa niat, dan berbicara dengan kesadaran moral.
Mungkin itulah makna terdalam puasa dalam konteks sosial. Bukan hanya menahan lapar, tetapi menahan dominasi; bukan hanya mengosongkan perut, tetapi membersihkan cara kita berargumentasi. Jika semangat ini dapat melampaui bulan Ramadhan, maka ranah publik tidak lagi sekadar arena perdebatan, melainkan ruang perjumpaan yang rasional dan bermartabat.

Komentar