Hamdan eSA Seorang pegawai kantor pernah berkata bahwa ia baru benar-benar “mendengar” jam dinding saat Ramadhan. Pada bulan-bulan biasa, ia jarang memperhatikan waktu selain untuk rapat atau tenggat pekerjaan. Tetapi ketika berpuasa, terutama menjelang magrib, detik terasa lebih panjang. Ia beberapa kali melirik jam, bukan karena takut terlambat, melainkan karena menunggu satu momen yang sama setiap hari: adzan. Suatu sore, listrik di kantornya sempat padam. Jam digital mati. Ia merasa gelisah, seolah kehilangan pegangan. “Ternyata saya tidak hanya menunggu makanan,” katanya, “saya menunggu tanda.” Sejak itu ia sadar, selama Ramadhan, waktu bukan sekadar angka. Ia menjadi bahasa yang ia dengarkan dengan lebih peka. *** Pada bulan-bulan biasa, waktu berjalan tanpa banyak kita sadari. Pagi dimulai dengan tergesa, siang dipenuhi pekerjaan, malam ditutup dengan kelelahan. Jam hanya alat ukur produktivitas. Ia netral, datar, dan mekanis. Namun ketika Ramadhan datang, waktu ber...