Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Suatu malam, dalam sebuah diskusi daring yang rasa-rasanya kian “memanas”, seorang peserta begitu yakin pada argumennya. Data telah ia siapkan, kutipan telah ia susun, dan dukungan dari pengikutnya terus berdatangan. Setiap sanggahan dibalasnya cepat, bahkan lebih menusuk. Ia merasa menang. Namun sebelum menekan tombol “kirim” untuk komentar berikutnya, ia terdiam sejenak. Ada satu data yang belum ia periksa ulang. Ada satu kemungkinan bahwa ia bisa saja keliru. Tidak ada yang akan tahu jika ia mengabaikannya. Algoritma tetap akan berpihak pada kepercayaan dirinya. Tetapi ia memilih menunda, membuka kembali sumber rujukan, dan menemukan bahwa memang ada bagian yang ia salah pahami. Komentarnya pun ia ubah. Tidak sekeras sebelumnya, tidak seangkuh sebelumnya. Dalam ruang yang tak terlihat, tak ada tepuk tangan untuk keputusan itu. Tetapi mungkin, ia masih memiliki konsistensi meski pada setitik kesadaran, bahwa ini bukan soal keme...