Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Di tengah riuhnya media sosial, Ramadan sering kali hadir sebagai paradoks. Di satu sisi, ia disebut bulan pengendalian diri, bulan penyucian lisan dan batin. Di sisi lain, linimasa tetap dipenuhi amarah, sindiran tajam, debat yang kehilangan adab, bahkan saling cela atas nama kebenaran. Seolah-olah puasa berhenti pada perut, tetapi tidak sampai pada kata-kata. Padahal, inti puasa bukan semata menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan menunda dorongan. Menahan respons spontan. Mengendalikan impuls untuk segera membalas. Dalam tradisi keagamaan, lisan bahkan ditempatkan sebagai medan ujian yang lebih berat daripada rasa lapar. Menahan kata sering kali lebih sulit daripada menahan haus. Di titik inilah puasa bisa dibaca sebagai latihan etika diskursus. Dalam kerangka pemikiran Jürgen Habermas, ruang publik ideal dibangun melalui tindakan komunikatif, yakni komunikasi yang berorientasi pada saling pengertian, bukan pada kemenangan sepihak....