Penulis: Nuryadi, S.H, M.M
Beberapa hari terakhir, media sosial dan portal berita dipenuhi
kemarahan soal kasus keracunan program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Wajarlah, tak
ada yang bisa menoleransi anak-anak yang jatuh sakit karena makanan yang
seharusnya menyehatkan mereka. Tapi di tengah gelombang kemarahan ini, kita
juga perlu jujur dan waras dengan
mencoba melihat pada skala makro.
Kasus keracunan memang
nyata, tapi tidak boleh menyamaratakan semua program, ada kurang lebih 10.000
lebih siswa yang dilaporkan terdampak keracunan. Itu angka besar, tapi kita
juga harus jujur bahwa lebih dari 60 juta penerima MBG tidak mengalami hal
serupa. Artinya, masalah ini bukan soal konsep programnya, melainkan soal
pelaksanaan di titik-titik tertentu.
Masalah keamanan pangan bukan hal sepele, tapi bisa diperbaiki tanpa
harus mematikan program yang menyelamatkan jutaan anak dari kelaparan dan
stunting. Menyalahkan
pemerintah itu mudah, tapi mewujudkan
solusi butuh kerja nyata. Program
sebesar MBG tidak bisa disamakan dengan proyek kecil. Ribuan sekolah, ratusan
ribu pemasok, dan jutaan paket makanan disalurkan setiap hari.
Dalam skala sebesar ini, risiko human error memang ada, tapi
yang lebih penting adalah bagaimana pemerintah merespons. Dan faktanya, tim
inspeksi lapangan, Dinas Kesehatan, hingga BPOM langsung turun untuk menelusuri
penyebab kasus ini. Evaluasi penyedia makanan dan sistem distribusi sedang
diperketat. Artinya, pemerintah tidak diam. Kalau program dihentikan, anak-anak
siapa yang rugi?
Jika MBG dihentikan hari ini, jutaan anak dari keluarga kurang mampu akan
kembali ke sekolah dengan perut kosong. Itu bukan drama, melainkan realitas. Kritik boleh, tapi mengorbankan gizi dan masa depan
anak-anak demi kemarahan sesaat bukan solusi. Yang dibutuhkan bukan pembubaran,
tapi perbaikan sistem dan penegakan sanksi bagi pelaksana yang lalai. Kesalahan harus dihukum,
tapi jangan kubur kebaikan di baliknya, ada pihak yang harus bertanggung jawab
dan itu sedang diusut. Tapi menuntut program dihentikan total sama saja dengan
mengubur kebaikan hanya karena segelintir kesalahan.
Sebagian kemarahan publik muncul karena kurangnya kepercayaan terhadap pemerintah. Tapi cara memperbaikinya bukan dengan membuat kerusakan baru, melainkan membangun pengawasan bersama. Masyarakat, sekolah, dan pemerintah harus berdiri di sisi yang sama, menjaga agar MBG benar-benar bergizi, aman, dan berkelanjutan.

Komentar