Langsung ke konten utama

HALTE YANG HUJAN

 

Cerita Mini (Cermin)
Hamdan

Biasanya pagi begini aku menunggumu di halte kecil dekat Jalan Pettarani. Kota Makassar belum sepenuhnya terjaga. Aspal masih lembab oleh sisa embun malam, dan pedagang buroncong sedang menyalakan pembakarannya. Aku hafal ritmenya, seperti aku hafal caramu datang. Langkah ringan, rambut ikal terikat sederhana, dan senyum yang entah kenapa selalu membuat pagi terasa lebih hidup.

Tapi pagi ini berbeda. Hujan turun deras sejak subuh. Redah sebentar, menjadi spasi, lalu deras lagi. Titik air menumbuk atap halte seperti ingin mengusir siapa pun yang menyimpan harapan. Aku tetap di sini menanti dia, memeluk tas, menatap jalan yang mulai dipenuhi pete-pete warna merah dan biru. 

Biasanya, di jam begini, Wulan sudah muncul dari mulut lorong, datang menyapaku dengan senyum dan lambaian kecil seolah kami baru saja bertemu. Ya, keistimewaan Wulan adalah setiap kali saat bertemu, ia mampu membuat suasana seperti baru pertama bertemu.

Sekarang, setengah jam berlalu. Aku mencoba menenangkan diri. “Mungkin hujan membuatmu terlambat”, gumamku dalam hati. Deras hujan masih konsisten, tapi angin membuat terasa lebih dingin.

Satu jam. Langit masih kelabu. Ingatanku ke jauh ke Losari. Pantai Losari pasti sepi juga di pagi yang hujan begini, pikirku. Kita pernah di sana pada suatu sore yang juga hujan. Tak ada matahari yang memantul di laut, tak ada warna jingga yang biasa kau ceritakan sambil tertawa kecil. 

Aku membuka ponsel, tak ada pesan darimu. Aku menatap jalan, berharap salah satu siluet itu adalah kamu.

“Wulan…” gumamku, hampir tak terdengar oleh hujan.

Ingatan lain datang bertubi-tubi. Tentang suatu ketika di halte ini, kita habiskan waktu berbincang tanpa arah. Kadang tentang kuliah, tentang mimpi sederhana, tentang ingin berjalan ke Fort Rotterdam suatu hari nanti. Kau selalu berkata, “Menunggu itu tak apa, asal tahu siapa yang ditunggu.”

Aku tersenyum kecil. Meski agak gelisah menatap titik air depan halte. 

Kini aku tahu siapa yang kutunggu, tapi tak tahu apakah ia masih akan datang.

Dua jam. Hujan mulai reda, menyisakan gerimis tipis. Kota Makassar perlahan hidup kembali. Pengendara motor mulai ramai menerobos. Klakson bersahutan, orang-orang berlalu-lalang dengan tujuan masing-masing. Aku berdiri, menyadari sesuatu yang sejak tadi aku khawatirkan.

Mungkin pagi ini aku harus rela. Bukan merelakan hujan, bukan merelakan waktu, tapi merelakan kenyataan bahwa tidak semua yang biasa terjadi akan selalu sama di lain waktu.

Aku melangkah pergi dari halte. Di belakangku, kota tetap berjalan. Aku berhenti sejenak di bawah pohon, menoleh ke arah halte yang kini kosong. 

Ada pesan masuk akhirnya, satu baris singkat darimu: “maaf, aku tak bisa datang saat ini”. Tak ada penjelasan, tak ada janji selanjutnya. 

Aku menarik napas panjang, merasakan Makassar yang lembap menyusup ke paru-paru. Aku paham, beginilah cara kota mengajarkan bahwa ketidak-hadiran bukanlah ketiadaan.

Hujan menyisakan bau tanah dan suara ban melintas. Esok Aku akan menunggumu seperti biasa. Yakin kau akan datang lagi dengan senyum itu. Dan jika tidak, aku hanya akan mengingat bahwa kita sering di halte itu. 

Meski seratus pagi pun kau belum sempat datang, tapi di hatiku masih berakar namamu, Wulan.


Pinrang, 28 Desember 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MTs Ma'arif NU Pulau Salamaq Semarakkan HUT RI ke-80 dengan Penuh Antusias

Aktivitas Latihan Gerak Jalan, MTs Ma'arif NU Pulau Salamaq andankji.com - Polewali Mandar . ~   Memasuki usia ke-80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, MTs Maarif NU Pulau Salamaq menyambut hari bersejarah ini dengan semangat dan kebanggaan. Seperti sekolah-sekolah lain di Kabupaten Polewali Mandar, bahkan di seluruh Indonesia, MTs Ma'arif NU Pulau Salamaq turut memeriahkan peringatan HUT RI melalui berbagai kegiatan. Para guru dengan tekun melatih siswa mengikuti beragam perlombaan khas Agustusan, salah satunya lomba gerak jalan. Persiapan upacara bendera pun dilakukan secara khidmat, untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air di kalangan siswa. Marsyud Husain Dawai, guru MTs Pulau Salamaq, menjelaskan:  " Selain sebagai bentuk syukur atas kemerdekaan, gerak jalan ini juga mengajarkan kepada siswa tentang perjuangan para pahlawan yang berjalan jauh dalam merebut kemerdekaan". Marsyud Husain Dawai,  guru MTS Pulau Salamaq Kepala Sekolah MTs Ma'arif NU Pulau Salama...

HMTI Unasman Selenggarakan Malam Inagurasi Enc24ption Angkatan 24

MC sedang Memandu Acara Inagurasi  Enc24ption andankji.com~Polman. Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Al Asyariah Mandar (HMTI UNASMAN) menggelar Malam Inagurasi Enc24ption di Gedung Auditorium Universitas Al Asyariah Mandar, Kabupaten Polewali Mandar, Sabtu 22 Febuari 2025. Menurut Dwi Candra, Ketua Umum HMTI, malam inagurasi ini merupakan penyambutan mahasiswa baru dan perkenalan kepada orang tua dan pihak kampus. Sekaligus menjadi wadah bagi pengurus HMTI untuk menyalurkan bakat mereka. Kegiatan ini dibuka langsung oleh Wakil Rektor 1 Unasman, Bapak Dr. Ahmad Al-Yakin, S.Ag., M.Pd., dan dihadiri oleh Kepala Biro Aksi, Kaprodi Teknik Informatika dan Kaprodi Ilmu Komunikasi Unasman. Kegiatan ini juga turut dihadiri oleh orang tua mahasiswa Angkatan 24 Teknik Informatika. Di tempat yang sama, Adil Islam selaku ketua panitia menyatakan harapannya terhadap HMTI Unasman, agar semakin berkembang dan sukses selalu.  "Harapan saya semoga HMTI ini semakin berkembang d...

Seminar dan Dialog di Pantai Babatoa: Menguatkan Kearifan Lokal dan Komitmen Lingkungan

Suasana Pembukaan Seminar dan Dialog a ndankji.com ~ Polewali Mandar — Mahasiswa dan komunitas pecinta alam serta pemerhati lingkungan menggelar Seminar dan Dialog bertema "Ekosistem, Manusia Pesisir, dan Kearifan Lokal", Sabtu pagi, 21 Juni 2025, di Pantai Babatoa, Kecamatan Campalagian, Polewali Mandar. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman) bersama Komunitas Laut Biru. Hadir sebagai narasumber utama, Muhammad Syariat Tajuddin, seorang akademisi sekaligus pakar budaya lokal, serta Muh. Putra Ardiansyah, pendiri Komunitas Laut Biru. Keduanya berbagi pandangan tentang pentingnya pelestarian ekosistem pesisir dengan pendekatan berbasis kearifan lokal. Dalam sambutannya, Camat Campalagian, Muhdar, menyampaikan dukungan penuh terhadap kegiatan ini, yang selaras dengan program 100 hari kerja Bupati Polewali Mandar, khususnya dalam isu penanganan stunting, kesehatan untuk semua, pengurangan sampah dan banjir, sert...