Langsung ke konten utama

Ramadhan, Kerja, dan Makna Hidup

 

Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)
 
Di sebuah ruangan kantor yang dingin, seorang pegawai masih menatap layar komputernya, menyelesaikan laporan sebelum tenggat waktu. Jarum jam menunjukkan pukul 17.30, dan di luar jendela, langit senja mulai berpendar jingga. Beberapa rekan kerjanya sudah berkemas, bersiap untuk pulang dan berbuka bersama keluarga. Namun, ia masih harus menunda perjalanan pulang.
 
"Lembur lagi?" tanya seorang rekan yang sedang mengenakan jaket.
 
Pegawai itu hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Ia tahu, jika pulang sekarang, ia akan dihantui perasaan bersalah karena pekerjaannya belum selesai. Jika tetap tinggal, ia harus rela berbuka sendirian dengan air putih dan roti di laci mejanya.
 
Bulan puasa harusnya lebih tenang, pikirnya. Tapi kenyataannya, beban kerja justru makin bertambah. Ia mulai bertanya dalam hati, "Apakah hidup ini hanya tentang mengejar target dan angka-angka? Apakah pekerjaan yang aku lakukan setiap hari ini benar-benar bermakna, atau aku hanya sekadar menjalani rutinitas tanpa arah?"
 
Di kejauhan, ia mendengar azan berkumandang dari masjid dekat kantor. Ia menatap layar komputernya sejenak, lalu mengambil napas panjang. "Mungkin ini saatnya berhenti sejenak dan bertanya: untuk apa aku bekerja?"
 
***
 
Selain sebagai bulan ibadah, Ramadhan juga menjadi momen refleksi bagi banyak orang, terutama dalam konteks kerja dan makna hidup. Dalam kehidupan modern yang sarat dengan tuntutan ekonomi, Ramadhan menjadi ruang untuk mempertanyakan esensi kerja: apakah ia sekadar kewajiban demi kelangsungan hidup, ataukah memiliki dimensi spiritual yang lebih dalam?
 
Dalam Islam, kerja tidak hanya dipandang sebagai aktivitas ekonomi, tetapi juga sebagai bentuk ibadah. Konsep ikhlas dan barakah mengajarkan bahwa pekerjaan yang dilakukan dengan niat baik dan penuh tanggung jawab dapat bernilai ibadah. Dalam bulan Ramadhan, dimensi ini semakin ditekankan, mengingat kerja dilakukan dalam keadaan berpuasa, yang menguji kesabaran dan ketahanan fisik.
 
Namun, pertanyaan yang muncul adalah: apakah semua bentuk pekerjaan memberi ruang bagi individu untuk menjalankan ibadah dengan optimal? Para pekerja informal seperti buruh, ojek online, dan pekerja harian menghadapi dilema antara memenuhi kebutuhan ekonomi dan menjaga keseimbangan spiritual.
 
Pertanyaan di atas menyentuh dilema nyata yang dihadapi banyak pekerja, terutama mereka yang berada di sektor informal. Untuk menjawabnya, perlu menimbang beberapa perspektif.
 
Islam adalah agama yang memberikan kemudahan dalam beribadah, terutama bagi mereka yang memiliki kondisi tertentu. Dalam konteks pekerjaan yang menuntut waktu dan tenaga besar, Islam menyediakan berbagai keringanan (rukhsah).
 
Misalnya saja dalam hal jamak dan qashar shalat. Bagi pekerja yang mobilitasnya tinggi, seperti ojek online atau sopir, Islam memperbolehkan shalat dijamak (digabung) atau diqashar (diringkas). Islam juga membolehkan berbuka puasa bagi yang kesulitan. Jika seseorang benar-benar mengalami kesulitan luar biasa saat berpuasa, ia diperbolehkan untuk berbuka dan menggantinya di lain waktu (QS. Al-Baqarah: 184).
 
Dengan pemahaman ini, tidak ada pekerjaan yang sepenuhnya menghalangi ibadah, karena Islam telah menyediakan solusi agar ibadah tetap bisa dijalankan.
 
Meski Islam memberikan kelonggaran, realitas sosial dan ekonomi sering kali membuat pekerja kesulitan menjalankan ibadah dengan optimal. Di sinilah pentingnya kebijakan yang berpihak pada keseimbangan antara kerja dan spiritualitas.
 
Perusahaan atau penyedia layanan (seperti aplikasi ojek online) sebaiknya memberikan kesempatan bagi pekerjanya untuk menunaikan ibadah tanpa takut kehilangan pendapatan. Regulasi memastikan waktu kerja tidak menindas hak pekerja untuk beristirahat dan beribadah. Dalam perspektif keadilan sosial Islam, keseimbangan ini sangat penting agar manusia tetap bisa bekerja dengan martabat tanpa kehilangan aspek spiritualnya.
 
Jadi, meskipun seseorang mungkin tidak bisa menjalankan ibadah dengan optimal seperti yang diinginkan, selama ia bekerja dengan niat yang benar dan cara yang halal, ia tetap mendapatkan pahala di sisi Allah.
 
Ramadhan menyoroti aspek keadilan sosial dalam dunia kerja. Dalam ajaran Islam, keadilan dalam distribusi kesejahteraan sangat ditekankan. Namun, dalam realitas kapitalisme modern, banyak pekerja masih menghadapi kondisi kerja yang tidak adil, seperti jam kerja panjang, upah rendah, dan minimnya jaminan sosial.
 
Dalam konteks Ramadhan, sistem ekonomi idealnya memungkinkan setiap orang untuk bekerja dengan lebih bermartabat. Kebijakan perusahaan dan pemerintah sebaiknya mendukung keseimbangan antara kerja dan ibadah selama bulan suci ini.
 
Ironisnya, pekerja di sektor perdagangan, logistik, dan jasa menghadapi lonjakan permintaan saat Ramadhan yang sering kali menambah beban kerja mereka. Lonjakan permintaan ini disebabkan masyarakat sudah terjebak dalam budaya konsumtif yang bertentangan dengan semangat Ramadhan.
 
Dalam filsafat eksistensialisme, Sartre menekankan pentingnya authentic existence—hidup yang dijalani dengan kesadaran penuh, bukan sekadar mengikuti arus sosial. Ramadhan seharusnya menjadi momentum bagi individu untuk mempertanyakan apakah mereka bekerja demi nilai yang bermakna, atau sekadar terjebak dalam rutinitas tanpa makna.
 
Ramadhan memberikan kesempatan untuk meninjau kembali relasi kita dengan kerja. Apakah kita bekerja hanya untuk bertahan hidup, ataukah pekerjaan kita memiliki nilai lebih yang selaras dengan kebajikan dan keadilan?
 
Dalam dunia yang semakin menuntut produktivitas, Ramadhan mengingatkan kita bahwa kerja bukan hanya soal materi, tetapi juga tentang bagaimana kita menemukan makna dan kontribusi dalam kehidupan ini. Momentum ini seharusnya tidak hanya berakhir pada bulan suci, tetapi menjadi refleksi jangka panjang dalam memaknai hidup dan kerja.
 
Wallahu A’lam.
 
Banga, 16 Maret 2025.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahasiswi Komunikasi Unasman Raih Juara 1 Lomba Karya Ilmiah HUT Lalu Lintas Bayangkara Ke-69

  Artika Ananda Putri, Mahasiswa Ilmu Kounikasi Unasman andankji.com, Polman  ~~ Prestasi membanggakan diraih oleh mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Al Asyariah Mandar (FISIP Unasman). Artika Ananda Putri, berhasil meraih Juara 1 dalam Lomba Karya Ilmiah yang diselenggarakan oleh Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Sulawesi Barat, dalam rangka memperingati HUT Lalu Lintas Bhayangkara ke-69 tahun 2024. Lomba yang bertemakan "Polantas Presisi Hadir" ini diikuti oleh 40 peserta mahasiswa Perguruan Tinggi se-Sulbar dan mahasiswa dari berbagai universitas di luar Sulbar yang ber-KTP Sulbar. Artika Ananda Putri mengangkat karya ilmiah berjudul; “Menuju Sulbar Sejahtera: Optimalisasi Regional Traffic Management Centre (RTMC) melalui Gerakan Satu Hari Tanpa Pelanggaran”, yang dinilai unggul dari segi kreativitas gagasan, orisinalitas, analisis, dan sistematika penulisan. Kaprodi Ilmu Komunikasi, Dr. Hamdan, M.Ag, memandang bah...

Ahmadiyah, NII dan Candoleng-doleng

Oleh: Hamdan Akhir Mei 2011 lalu saya berada di sebuah pelosok kampung untuk beberapa waktu. Saat jumatan, sebelum azan dikumandangkan, Kades sebagai aparat dan tentunya mewakili Negara, menyampaikan pengumuman dari pemerintah kepada seluruh warga khususnya umat Islam untuk mewaspadai dua hal yang mengancam stabilitas kehidupan sosial warga, yakni: (1) tentang hadirnya aliran sesat Ahmadiyah yang mengajarkan adanya nabi setelah Muhammad saw, dan (2) hadirnya Negara Islam Indonesia (NII) yang menginginkan berdirinya Negara Islam secara terpisah dari Negara Kesatuan RI. Kedua hal di atas memfokuskan sasaran penyebaran misinya pada generasi muda. Karenanya jika warga menemukan hal-hal yang mencurigakan, kiranya segera melaporkan ke pemerintah setempat. Sekitar sepuluh hari kemudian, masih di kampong yang sama, saya terjaga saat dini hari pukul 01.30-an karena merasa lapar. Soalnya kemudian bukan soal terjaga, tetapi tak bias tidur setelah perut sudah terisi. Yang menganggu adalah dentuman...

TEOLOGI INTEGRALISTIK (Pendekatan Sejarah)

oleh: Prof. Dr. H.M. Saleh Putuhena Pendahuluan Sejak 1970-an dialog antar umat beragama mulai digiatkan oleh Departemen Agama. Ketika itu Menteri Agama (1972-1977) di jabat oleh Mukti Ali, professor perbandingan agama pada IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Sebagai seorang menteri yang berasal dari kalangan intelektual Muslim , ia sangat peduli pada dua hal penataan masalah pendidikan dan kerukunan umat beragama yang memang menjadi salah satu tugas Departemen Agama sejak didirikan 1946. Selama ini tugas pokok tersebut terkesan diabaikan. Meskipun secara sporadis terjadi konflik antara umat beragama di beberapa daerah terutama setelah 1965. Meskipun dialog atau pertemuan antar umat beragama tetap dilaksanakan secara intensif baik oleh Departemen Agama, maupun oleh organisasi keagamaan, tetapi tampaknya kurang berhasil dalam membina kerukunan antar umat beragama. Konflik antar umat beragama masih tetap juga terjadi. Rangkaian konflik yang terjadi pada penghujung abad XX berupa peri...