Langsung ke konten utama

Ramadhan dan Kesenjangan Digital

 

Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)

Di sebuah desa yang jauh dari hiruk-pikuk kota, hiduplah seorang kakek bernama Pak Salim. Ia menjalani Ramadhan dengan cara yang ia kenal sejak kecil—bangun sahur mendengar suara beduk masjid, menunggu adzan maghrib di serambi rumah, dan mengaji dengan mushaf tua yang lembar-lembar halamannya mulai menguning.

Suatu hari cucunya, Rafi, datang dari kota untuk menghabiskan Ramadhan bersama. Rafi membawa smartphone canggih dan penuh semangat memperlihatkan berbagai aplikasi yang dapat digunakan untuk aktivitas Ramadhan.

"Kakek, sekarang sahur tidak perlu nunggu beduk. Ada alarm otomatis di aplikasi ini! Dan jadwal imsak juga bisa dicek langsung”! Katanya.

Pak Salim tersenyum, lalu bertanya, "Lalu bagaimana cara mengetahui kapan hilal muncul”?

"Oh, itu juga bisa dicek di media sosial. Ada siaran langsung pengamatan hilal. Bahkan ada aplikasi hilal"! Rafi menjawab dengan bangga.

Pak Salim mengangguk pelan. "Lalu, kalau listrik padam dan internet mati, apakah Ramadhan masih bisa dijalani"? Rafi terdiam.

Di malam harinya, listrik di desa itu benar-benar padam. Rumah menjadi gelap gulita. Pak Salim meraba-raba dan menyalakan lentera minyak. Ia berjalan ke luar rumah dan melihat bintang-bintang bertebaran di langit.

Rafi keluar dan duduk di sebelah kakeknya. "Aku tidak bisa melihat jadwal imsak sekarang", katanya. Pak Salim tersenyum sambil menunjuk langit. "Tapi kamu masih bisa melihat bulan".

Mereka duduk dalam diam, hanya ditemani cahaya lentera dan remang sinar bintang.

***

Di era digital ini, Ramadhan tidak hanya dirayakan di masjid-masjid dan rumah-rumah, tetapi juga di ruang virtual. Kajian keislaman tersedia dalam bentuk podcast, jadwal imsakiyah dapat diakses melalui aplikasi, dan donasi zakat bisa dilakukan dalam hitungan detik melalui platform digital.

Namun, tidak semua orang dapat menikmati kemudahan ini. Kesenjangan digital menciptakan pengalaman Ramadhan yang berbeda antara mereka yang memiliki akses teknologi dan mereka yang terbatas atau bahkan tidak memiliki akses sama sekali.

Kesenjangan digital merujuk pada perbedaan akses terhadap teknologi informasi dan komunikasi yang berdampak pada berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam menjalankan ibadah selama Ramadhan. Dan hal ini juga bisa berakibat pada kesenjangan virtual.

Bagi mereka yang memiliki akses internet dan perangkat canggih, Ramadhan menjadi semakin interaktif. Ceramah ulama bisa diikuti melalui live streaming, tadarus Al-Qur’an dilakukan bersama komunitas daring, dan berbagai diskusi keislaman berkembang pesat di media sosial.

Sebaliknya, bagi mereka yang berada di daerah tanpa infrastruktur digital memadai, Ramadhan masih dijalani secara tradisional, bergantung pada metode konvensional seperti pengumuman dari masjid dan kalender cetak. Mungkin masih seperti pak Salim, masih menunggu bunyi beduk untuk berbuka.

Fenomena ini tidak hanya mencerminkan kesenjangan dalam akses teknologi, tetapi juga dalam pemaknaan ibadah. Generasi muda yang akrab dengan teknologi mungkin merasa lebih dekat dengan sumber-sumber keislaman global melalui media digital. Sementara generasi tua lebih mengandalkan tradisi lisan dan pengalaman langsung dalam beribadah.

Perbedaan ini terkadang menciptakan ketegangan dalam keluarga dan masyarakat, di mana cara memahami dan menjalani Ramadhan menjadi beragam. Orang tua ingin anaknya ke masjid mengikuti ceramah dan tarwih, anaknya merasa cukup dengan mendengar ceramah live ustadz kondang dari sebuah masjid tersohor di ibu kota.

Selain itu, kesenjangan digital dalam Ramadhan juga terlihat dalam aspek ekonomi. Masyarakat yang memiliki akses ke layanan digital dapat dengan mudah membeli makanan sahur dan berbuka melalui aplikasi pesan antar, sedangkan mereka yang tidak memiliki akses masih harus bergantung pada pasar tradisional.

Demikian pula, program donasi online memungkinkan individu untuk bersedekah ke berbagai lembaga secara instan, sementara mereka yang tidak memiliki akses digital terbatas pada cara-cara konvensional dalam menyalurkan bantuan.

Namun, di balik perbedaan ini, Ramadhan tetap menjadi bulan kebersamaan dan refleksi. Baik melalui teknologi maupun cara-cara tradisional, esensi ibadah tidak berubah, yakni meningkatkan ketakwaan, memperbanyak amal, dan mempererat hubungan sosial.

Kesenjangan digital bisa menjadi tantangan, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk lebih memahami dan menghargai keberagaman cara dalam menjalani Ramadhan.

Ke depan, dalam konteks dakwah digital, mengurangi kesenjangan digital dalam praktik keagamaan menjadi tantangan penting. Pemerataan akses internet, peningkatan literasi digital, dan pendekatan inklusif dalam menyebarkan informasi keislaman dapat menjadi langkah alternatif untuk memastikan bahwa Ramadhan dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat, tanpa terhalang oleh batas teknologi.

Selain itu, langkah yang dapat dilakukan adalah menciptakan platform dakwah yang tidak hanya berbasis internet, tetapi juga dapat diakses melalui media konvensional seperti radio dan televisi. Selanjutnya, diperlukan program literasi digital bagi masyarakat yang belum terbiasa menggunakan teknologi, sehingga mereka dapat lebih mudah mengakses kajian-kajian keislaman secara daring.

Dakwah digital juga sebaiknya memperhatikan konten yang inklusif dan sederhana agar dapat dipahami oleh berbagai kalangan, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan dalam memahami teknologi. Pendekatan berbasis komunitas dapat menjadi solusi, di mana tokoh agama setempat dapat menjadi jembatan antara dakwah digital dan masyarakat yang belum terjangkau teknologi.

Dengan demikian, perkembangan dakwah digital tidak hanya menjadi alat bagi mereka yang melek teknologi, tetapi juga menjadi sarana inklusif yang merangkul seluruh umat, tanpa terkecuali.

Wallahu A’lam.

Banga, 17 Maret 2025.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahasiswi Komunikasi Unasman Raih Juara 1 Lomba Karya Ilmiah HUT Lalu Lintas Bayangkara Ke-69

  Artika Ananda Putri, Mahasiswa Ilmu Kounikasi Unasman andankji.com, Polman  ~~ Prestasi membanggakan diraih oleh mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Al Asyariah Mandar (FISIP Unasman). Artika Ananda Putri, berhasil meraih Juara 1 dalam Lomba Karya Ilmiah yang diselenggarakan oleh Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Sulawesi Barat, dalam rangka memperingati HUT Lalu Lintas Bhayangkara ke-69 tahun 2024. Lomba yang bertemakan "Polantas Presisi Hadir" ini diikuti oleh 40 peserta mahasiswa Perguruan Tinggi se-Sulbar dan mahasiswa dari berbagai universitas di luar Sulbar yang ber-KTP Sulbar. Artika Ananda Putri mengangkat karya ilmiah berjudul; “Menuju Sulbar Sejahtera: Optimalisasi Regional Traffic Management Centre (RTMC) melalui Gerakan Satu Hari Tanpa Pelanggaran”, yang dinilai unggul dari segi kreativitas gagasan, orisinalitas, analisis, dan sistematika penulisan. Kaprodi Ilmu Komunikasi, Dr. Hamdan, M.Ag, memandang bah...

Ahmadiyah, NII dan Candoleng-doleng

Oleh: Hamdan Akhir Mei 2011 lalu saya berada di sebuah pelosok kampung untuk beberapa waktu. Saat jumatan, sebelum azan dikumandangkan, Kades sebagai aparat dan tentunya mewakili Negara, menyampaikan pengumuman dari pemerintah kepada seluruh warga khususnya umat Islam untuk mewaspadai dua hal yang mengancam stabilitas kehidupan sosial warga, yakni: (1) tentang hadirnya aliran sesat Ahmadiyah yang mengajarkan adanya nabi setelah Muhammad saw, dan (2) hadirnya Negara Islam Indonesia (NII) yang menginginkan berdirinya Negara Islam secara terpisah dari Negara Kesatuan RI. Kedua hal di atas memfokuskan sasaran penyebaran misinya pada generasi muda. Karenanya jika warga menemukan hal-hal yang mencurigakan, kiranya segera melaporkan ke pemerintah setempat. Sekitar sepuluh hari kemudian, masih di kampong yang sama, saya terjaga saat dini hari pukul 01.30-an karena merasa lapar. Soalnya kemudian bukan soal terjaga, tetapi tak bias tidur setelah perut sudah terisi. Yang menganggu adalah dentuman...

TEOLOGI INTEGRALISTIK (Pendekatan Sejarah)

oleh: Prof. Dr. H.M. Saleh Putuhena Pendahuluan Sejak 1970-an dialog antar umat beragama mulai digiatkan oleh Departemen Agama. Ketika itu Menteri Agama (1972-1977) di jabat oleh Mukti Ali, professor perbandingan agama pada IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Sebagai seorang menteri yang berasal dari kalangan intelektual Muslim , ia sangat peduli pada dua hal penataan masalah pendidikan dan kerukunan umat beragama yang memang menjadi salah satu tugas Departemen Agama sejak didirikan 1946. Selama ini tugas pokok tersebut terkesan diabaikan. Meskipun secara sporadis terjadi konflik antara umat beragama di beberapa daerah terutama setelah 1965. Meskipun dialog atau pertemuan antar umat beragama tetap dilaksanakan secara intensif baik oleh Departemen Agama, maupun oleh organisasi keagamaan, tetapi tampaknya kurang berhasil dalam membina kerukunan antar umat beragama. Konflik antar umat beragama masih tetap juga terjadi. Rangkaian konflik yang terjadi pada penghujung abad XX berupa peri...