Langsung ke konten utama

Mudik: Mengurai Makna "Kembali"

Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)

Di sebuah terminal bus yang padat menjelang Lebaran, Rudi duduk sambil memeriksa ponselnya. Di sebelahnya, seorang bapak tua tersenyum, melihat hiruk-pikuk orang-orang yang ingin pulang ke kampung halaman.

“Mudik, Nak?” tanya si bapak.

Rudi mengangguk. “Iya, Pak. Setiap tahun pulang, tapi anehnya, rasanya diri ini tetap sama saja.”

Bapak itu tertawa kecil. “Nak, mudik bukan cuma soal kembali ke rumah, tapi juga soal kembali ke hati yang bersih. Di kota, kita sibuk mengejar dunia, sering lupa pada yang hakiki. Mudik itu bukan sekadar perjalanan fisik, tapi juga momen kembali ke fitrah. Menyegarkan hubungan kita dengan keluarga, sesama, dan terutama dengan Allah.”

Rudi terdiam. Ia teringat bagaimana selama ini hidupnya penuh kesibukan, sering melupakan hal-hal esensial.

***

Mudik telah menjadi semacam ritual tahunan yang melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Setiap tahun, jutaan perantau meninggalkan kota-kota besar untuk kembali ke kampung halaman, berkumpul bersama keluarga, dan merayakan Idulfitri.

Fenomena ini lebih dari sekadar perjalanan fisik. Ia adalah simbol dari kerinduan akan akar budaya, keluarga, dan identitas yang mungkin memudar dalam hiruk-pikuk kehidupan urban. Jika kita telaah lebih dalam, mudik juga memiliki makna spiritual yang sejajar dengan esensi Lebaran: kembali ke fitrah.

Secara etimologis, kata "mudik" ada yang mengartikan pergi ke udik, atau pulang ke kampung halaman. Ada mengatakan berasal dari bahasa Jawa, yakni "mulih dilik" yang berarti "pulang sebentar". Makna ini berkembang menjadi fenomena massal di mana masyarakat urban kembali ke desa asalnya menjelang Lebaran. Mudik seolah menjadi pengingat bahwa di tengah modernisasi dan tuntutan kehidupan kota, ada “ruang asal” yang tetap menunggu dan memberi rasa aman serta kebersamaan.

Dalam konteks religius, Idulfitri mengandung makna "kembali ke fitrah", yakni kondisi kesucian setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh. Pada puncaknya, Idulfitri menjadi momentum untuk membersihkan hati, memaafkan, dan memulai kembali dengan semangat yang lebih baik.

Dua konsep ini—mudik dan fitrah—menjadi cerminan satu sama lain. Jika mudik adalah perjalanan fisik “kembali” ke kampung halaman, maka Idulfitri adalah perjalanan batin “kembali” menuju kondisi yang lebih suci dan bersih. Keduanya sama-sama mengandung unsur kembali, baik secara literal maupun filosofis.

Lebih dari itu, mudik juga bisa dimaknai sebagai refleksi kehidupan manusia yang lebih dalam. Sebagaimana perantau yang meninggalkan kota untuk kembali ke kampung asalnya, manusia pun menjalani perjalanan batin yang membawanya kembali mendekat kepada Sang Pencipta. Setelah dalam kondisi fitrah, ibarat smartphone, jiwa kita kembali dalam setelan pabrik (hard reset).

Seperti halnya perantau yang merindukan suasana rumah dan kehangatan keluarga, jiwa manusia pada akhirnya mendambakan ketenangan sejati, merasakan hubungan yang lebih utuh dan segar dengan Allah. Mudik menjadi momen spiritual di mana hati yang mungkin telah tercerai-berai oleh hiruk-pikuk dunia materil, kembali terkoneksi sepenuhnya kepada Allah.

Namun, di tengah euforia mudik dan perayaan Lebaran, muncul pula pertanyaan reflektif: apakah kita benar-benar kembali ke fitrah, atau sekadar menjalani tradisi tanpa perubahan mendasar?

Mudik mengajarkan kita tentang akar dan asal-usul, tetapi seharusnya juga menjadi momentum untuk menata ulang makna kehidupan. Begitu pula dengan Lebaran, yang semestinya tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga sarana untuk meneguhkan kembali nilai-nilai kebaikan dalam diri kita dan masyarakat.

Dengan demikian, mudik dan Lebaran bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan perjalanan menuju pemahaman yang lebih dalam tentang diri kita sendiri. Keduanya mengajarkan bahwa sejauh apa pun kita pergi, baik dalam kehidupan dunia maupun dalam perjalanan spiritual, pada akhirnya kita selalu mencari jalan untuk kembali—kembali ke rumah, kembali ke keluarga, dan yang paling penting, kembali kepada fitrah kemanusiaan kita.

Lalu bagaimana makna kembali dalam konteks yang lebih luas, yakni perspektif politik? Dalam politik, konsep "kembali" selalu menghadirkan paradoks: antara restorasi dan kemunduran, antara refleksi dan repetisi, antara kemajuan dan nostalgia. Sejarah mencatat bahwa setiap masyarakat pada titik tertentu akan merindukan kejayaan masa lalu, sekaligus terperangkap dalam dilema apakah masa lalu benar-benar lebih baik atau hanya romantisasi semata.

Di banyak negara, narasi politik sering menggunakan imaji "kembali ke masa keemasan" sebagai alat mobilisasi. Slogan “Make America Great Again” di Amerika Serikat. Seruan kembali ke UUD 1945 yang murni di Indonesia. Atau keinginan beberapa negara untuk kembali ke sistem pemerintahan lama. Hal ini menunjukkan bahwa gagasan tentang “kembali” selalu menjadi bagian dari dinamika kekuasaan. Mungkin kembali itu berarti perbaikan, atau justru pengulangan kesalahan.

Politik selalu bergerak dalam siklus. Demokrasi memberikan ruang bagi pemimpin lama untuk kembali berkuasa, reformasi membuka peluang untuk kembali mengevaluasi sistem yang dianggap usang, dan kebijakan yang gagal bisa saja kembali diterapkan dengan kemasan berbeda. Dalam konteks ini, "kembali" bukan sekadar rute menuju stabilitas, tetapi juga jebakan stagnasi jika tidak diiringi kesadaran kritis.

Seperti halnya mudik yang membawa seseorang kembali ke kampung halaman untuk menemukan akar dan jati diri, politik juga membutuhkan momentum “kembali” untuk menakar apakah perjalanan yang telah ditempuh masih setia pada cita-cita awal.

Namun, jika kembali hanya menjadi alat legitimasi bagi status quo tanpa perubahan substantif, maka itu bukan kemajuan, melainkan pengulangan sejarah yang kembali dalam wajah berbeda. 

Wallahu a’lam.

Madatte Polman, 24 Maret 2025.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahasiswi Komunikasi Unasman Raih Juara 1 Lomba Karya Ilmiah HUT Lalu Lintas Bayangkara Ke-69

  Artika Ananda Putri, Mahasiswa Ilmu Kounikasi Unasman andankji.com, Polman  ~~ Prestasi membanggakan diraih oleh mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Al Asyariah Mandar (FISIP Unasman). Artika Ananda Putri, berhasil meraih Juara 1 dalam Lomba Karya Ilmiah yang diselenggarakan oleh Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Sulawesi Barat, dalam rangka memperingati HUT Lalu Lintas Bhayangkara ke-69 tahun 2024. Lomba yang bertemakan "Polantas Presisi Hadir" ini diikuti oleh 40 peserta mahasiswa Perguruan Tinggi se-Sulbar dan mahasiswa dari berbagai universitas di luar Sulbar yang ber-KTP Sulbar. Artika Ananda Putri mengangkat karya ilmiah berjudul; “Menuju Sulbar Sejahtera: Optimalisasi Regional Traffic Management Centre (RTMC) melalui Gerakan Satu Hari Tanpa Pelanggaran”, yang dinilai unggul dari segi kreativitas gagasan, orisinalitas, analisis, dan sistematika penulisan. Kaprodi Ilmu Komunikasi, Dr. Hamdan, M.Ag, memandang bah...

Ahmadiyah, NII dan Candoleng-doleng

Oleh: Hamdan Akhir Mei 2011 lalu saya berada di sebuah pelosok kampung untuk beberapa waktu. Saat jumatan, sebelum azan dikumandangkan, Kades sebagai aparat dan tentunya mewakili Negara, menyampaikan pengumuman dari pemerintah kepada seluruh warga khususnya umat Islam untuk mewaspadai dua hal yang mengancam stabilitas kehidupan sosial warga, yakni: (1) tentang hadirnya aliran sesat Ahmadiyah yang mengajarkan adanya nabi setelah Muhammad saw, dan (2) hadirnya Negara Islam Indonesia (NII) yang menginginkan berdirinya Negara Islam secara terpisah dari Negara Kesatuan RI. Kedua hal di atas memfokuskan sasaran penyebaran misinya pada generasi muda. Karenanya jika warga menemukan hal-hal yang mencurigakan, kiranya segera melaporkan ke pemerintah setempat. Sekitar sepuluh hari kemudian, masih di kampong yang sama, saya terjaga saat dini hari pukul 01.30-an karena merasa lapar. Soalnya kemudian bukan soal terjaga, tetapi tak bias tidur setelah perut sudah terisi. Yang menganggu adalah dentuman...

TEOLOGI INTEGRALISTIK (Pendekatan Sejarah)

oleh: Prof. Dr. H.M. Saleh Putuhena Pendahuluan Sejak 1970-an dialog antar umat beragama mulai digiatkan oleh Departemen Agama. Ketika itu Menteri Agama (1972-1977) di jabat oleh Mukti Ali, professor perbandingan agama pada IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Sebagai seorang menteri yang berasal dari kalangan intelektual Muslim , ia sangat peduli pada dua hal penataan masalah pendidikan dan kerukunan umat beragama yang memang menjadi salah satu tugas Departemen Agama sejak didirikan 1946. Selama ini tugas pokok tersebut terkesan diabaikan. Meskipun secara sporadis terjadi konflik antara umat beragama di beberapa daerah terutama setelah 1965. Meskipun dialog atau pertemuan antar umat beragama tetap dilaksanakan secara intensif baik oleh Departemen Agama, maupun oleh organisasi keagamaan, tetapi tampaknya kurang berhasil dalam membina kerukunan antar umat beragama. Konflik antar umat beragama masih tetap juga terjadi. Rangkaian konflik yang terjadi pada penghujung abad XX berupa peri...