Langsung ke konten utama

Negara yang Kembali ke Fitrah

Oleh Hamdan eSA (Dosun Ilmu Komunikasi Unasman)

Di sebuah negeri bernama Fitrahilia, rakyatnya dulu hidup damai dan sejahtera. Pemimpinnya jujur, hukum ditegakkan tanpa pandang bulu, dan tak ada yang kelaparan. Negeri itu seperti rumah yang selalu bersih, rapi, dan penuh kasih sayang.

Seiring berjalannya waktu, para pemimpin mulai lupa janji mereka. Sebagian pejabat sibuk mengisi kantong sendiri, hukum mulai condong kepada mereka yang berkuasa, dan rakyat kecil semakin sulit hidup. Negeri yang dulu terang benderang berubah menjadi kelam, seperti rumah yang dipenuhi debu dan sarang laba-laba.

Suatu hari, seorang anak kecil bertanya kepada ayahnya, "Ayah, mengapa negeri kita seperti ini"?

Sang ayah menghela napas, "Karena kita lupa jalan pulang, Nak".

"Jalan pulang ke mana"? Tanya sang anak.

"Ke fitrah. Ke tempat di mana kejujuran, keadilan, dan kasih sayang menjadi dasar segalanya".

Anak itu berpikir sejenak lalu berkata, "Kalau lupa jalan pulang, kenapa kita tidak bertanya arah"?

Sang ayah tersenyum. "Benar, Nak. Tapi masalahnya, mereka yang memimpin kita sudah tidak ingin kembali. Mereka sudah terlalu nyaman dengan jalannya saat ini. Mungkin rakyatnya harus sadar bahwa agar negara kembali ke fitrah, mereka harus berjalan sendiri—mengingatkan pemimpin, menegakkan keadilan, dan membersihkan negeri mereka seperti rumah yang sudah lama tak disapu”.

***

Setiap individu memiliki fitrah, yaitu kesucian dan kecenderungan pada kebaikan. Konsep fitrah selama ini hanya berlaku bagi manusia secara personal. Mestinya ia juga dapat diterapkan dalam kehidupan bernegara. Gagasan saya ini bukan sekadar idealisme moral, tetapi sebuah kebutuhan mendasar bagi negara yang ingin bertahan dan berkembang secara harmonis.

Negara mengalami penyimpangan dari fitrah ketika terjadi korupsi, ketidakadilan sosial, dan ketimpangan ekonomi. Pemerintahan yang tidak transparan, hukum yang tajam ke bawah namun tumpul ke atas, serta eksploitasi sumber daya untuk kepentingan segelintir elite adalah tanda-tanda bahwa sebuah negara telah jauh dari nilai-nilai fitrah. Hal ini menciptakan jurang ketidakpercayaan antara rakyat dan pemerintah, yang pada akhirnya mengancam stabilitas sosial dan politik.

Kembali ke fitrah bagi negara, merupakan upaya strategis untuk membangun negara yang lebih berkeadaban. Negara yang kembali ke fitrah adalah negara yang menjalankan pemerintahan berdasarkan nilai-nilai kejujuran, keadilan, dan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya.

Dalam konteks ini, fitrah dapat dimaknai sebagai kondisi ideal di mana negara berfungsi sebagaimana mestinya—sebagai pelindung dan pelayan rakyat, bukan sebagai alat kepentingan segelintir kelompok. Negara yang berfitrah akan menempatkan hukum sebagai panglima, menjunjung tinggi transparansi, serta memastikan distribusi sumber daya yang adil.

Sebaliknya, ketika negara melenceng dari fitrah, berbagai masalah sistemik muncul. Korupsi menjadi budaya, hukum hanya menguntungkan yang berkuasa, dan kesenjangan sosial semakin melebar. Negara yang jauh dari fitrah sering kali lebih mementingkan stabilitas kekuasaan dibanding kesejahteraan rakyatnya. Akibatnya, ketidakpercayaan publik meningkat, dan konflik sosial menjadi ancaman nyata.

Kembali ke fitrah berarti mengembalikan peran negara sebagaimana mestinya—menegakkan keadilan tanpa pandang bulu, memastikan kesejahteraan merata, dan membangun sistem pemerintahan yang berlandaskan nilai moral serta akuntabilitas. Tentu bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat agar negara benar-benar dapat kembali pada jalur yang benar.

Meskipun gagasan negara yang kembali ke fitrah terdengar ideal, realisasinya menghadapi berbagai tantangan yang kompleks. Salah satu hambatan terbesar adalah korupsi yang telah mengakar dalam sistem pemerintahan.

Korupsi tidak hanya terjadi di tingkat elite, tetapi juga di level birokrasi yang lebih rendah, menciptakan budaya yang sulit diberantas. Ketika korupsi menjadi norma, reformasi menuju negara yang berintegritas akan menghadapi perlawanan dari pihak-pihak yang diuntungkan oleh sistem yang korup.

Selain itu, ketimpangan struktural dalam ekonomi dan hukum menjadi penghalang utama. Di banyak negara, hukum sering kali tidak diterapkan secara adil. Orang-orang kaya dan berkuasa cenderung mendapatkan perlakuan istimewa, sementara masyarakat kecil harus menghadapi ketidakadilan. Sikap demikian semakin memperkuat ketidakpercayaan terhadap institusi negara dan menghambat upaya kembali ke prinsip keadilan.

Faktor lain yang menghambat adalah pengaruh sistem global. Negara-negara berkembang sering kali harus menyesuaikan kebijakan mereka dengan tekanan ekonomi dan politik internasional. Ketika kepentingan asing lebih diutamakan daripada kesejahteraan rakyat, maka upaya untuk kembali ke nilai-nilai dasar keadilan dan moralitas menjadi semakin sulit.

Mengatasi tantangan ini memerlukan komitmen kuat dari pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat. Tanpa perubahan sistemik dan budaya politik yang lebih sehat, negara akan terus bergerak menjauh dari fitrahnya.

Agar sebuah negara dapat kembali ke fitrah, diperlukan strategi yang mencakup perubahan sistemik, reformasi birokrasi, dan penguatan nilai-nilai moral dalam kehidupan bernegara.

Salah satu langkah utama adalah menegakkan hukum yang adil dan tidak tebang pilih. Penegakan hukum yang kuat akan menciptakan efek jera bagi para pelaku korupsi dan penyalahguna kekuasaan, sehingga membangun kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara.

Selain itu, reformasi birokrasi menjadi kunci dalam menciptakan pemerintahan yang bersih dan efektif. Digitalisasi layanan publik, transparansi anggaran, serta peningkatan akuntabilitas pejabat negara dapat mengurangi potensi penyalahgunaan wewenang. Negara-negara seperti Estonia dan Finlandia telah membuktikan bahwa birokrasi yang transparan mampu mengurangi korupsi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Di sisi ekonomi, pemerataan kesejahteraan harus menjadi prioritas. Sistem pajak yang lebih adil, dukungan terhadap usaha kecil dan menengah, serta kebijakan yang memastikan akses pendidikan dan kesehatan bagi semua warga akan membantu mengurangi kesenjangan sosial.

Pendidikan karakter dan kesadaran moral juga harus diperkuat, baik dalam sistem pendidikan formal maupun dalam kebijakan publik. Pemimpin yang berintegritas harus menjadi teladan, dan masyarakat harus didorong untuk aktif mengawasi jalannya pemerintahan.

Dengan kombinasi reformasi hukum, birokrasi, ekonomi, dan pendidikan, negara dapat secara bertahap kembali ke fitrah, menjalankan perannya sebagai pelayan rakyat dengan penuh keadilan dan tanggung jawab.

Saat seperti itulah, negara layak mengatakan kepada warganya; “minal aidin wal faidzin, taqabbalallahu minna waminkum”.

Wallahu a’lam.

Madatte Polman, 27 Maret 2025.









Komentar

Postingan populer dari blog ini

MTs Ma'arif NU Pulau Salamaq Semarakkan HUT RI ke-80 dengan Penuh Antusias

Aktivitas Latihan Gerak Jalan, MTs Ma'arif NU Pulau Salamaq andankji.com - Polewali Mandar . ~   Memasuki usia ke-80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, MTs Maarif NU Pulau Salamaq menyambut hari bersejarah ini dengan semangat dan kebanggaan. Seperti sekolah-sekolah lain di Kabupaten Polewali Mandar, bahkan di seluruh Indonesia, MTs Ma'arif NU Pulau Salamaq turut memeriahkan peringatan HUT RI melalui berbagai kegiatan. Para guru dengan tekun melatih siswa mengikuti beragam perlombaan khas Agustusan, salah satunya lomba gerak jalan. Persiapan upacara bendera pun dilakukan secara khidmat, untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air di kalangan siswa. Marsyud Husain Dawai, guru MTs Pulau Salamaq, menjelaskan:  " Selain sebagai bentuk syukur atas kemerdekaan, gerak jalan ini juga mengajarkan kepada siswa tentang perjuangan para pahlawan yang berjalan jauh dalam merebut kemerdekaan". Marsyud Husain Dawai,  guru MTS Pulau Salamaq Kepala Sekolah MTs Ma'arif NU Pulau Salama...

HMTI Unasman Selenggarakan Malam Inagurasi Enc24ption Angkatan 24

MC sedang Memandu Acara Inagurasi  Enc24ption andankji.com~Polman. Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Al Asyariah Mandar (HMTI UNASMAN) menggelar Malam Inagurasi Enc24ption di Gedung Auditorium Universitas Al Asyariah Mandar, Kabupaten Polewali Mandar, Sabtu 22 Febuari 2025. Menurut Dwi Candra, Ketua Umum HMTI, malam inagurasi ini merupakan penyambutan mahasiswa baru dan perkenalan kepada orang tua dan pihak kampus. Sekaligus menjadi wadah bagi pengurus HMTI untuk menyalurkan bakat mereka. Kegiatan ini dibuka langsung oleh Wakil Rektor 1 Unasman, Bapak Dr. Ahmad Al-Yakin, S.Ag., M.Pd., dan dihadiri oleh Kepala Biro Aksi, Kaprodi Teknik Informatika dan Kaprodi Ilmu Komunikasi Unasman. Kegiatan ini juga turut dihadiri oleh orang tua mahasiswa Angkatan 24 Teknik Informatika. Di tempat yang sama, Adil Islam selaku ketua panitia menyatakan harapannya terhadap HMTI Unasman, agar semakin berkembang dan sukses selalu.  "Harapan saya semoga HMTI ini semakin berkembang d...

Seminar dan Dialog di Pantai Babatoa: Menguatkan Kearifan Lokal dan Komitmen Lingkungan

Suasana Pembukaan Seminar dan Dialog a ndankji.com ~ Polewali Mandar — Mahasiswa dan komunitas pecinta alam serta pemerhati lingkungan menggelar Seminar dan Dialog bertema "Ekosistem, Manusia Pesisir, dan Kearifan Lokal", Sabtu pagi, 21 Juni 2025, di Pantai Babatoa, Kecamatan Campalagian, Polewali Mandar. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman) bersama Komunitas Laut Biru. Hadir sebagai narasumber utama, Muhammad Syariat Tajuddin, seorang akademisi sekaligus pakar budaya lokal, serta Muh. Putra Ardiansyah, pendiri Komunitas Laut Biru. Keduanya berbagi pandangan tentang pentingnya pelestarian ekosistem pesisir dengan pendekatan berbasis kearifan lokal. Dalam sambutannya, Camat Campalagian, Muhdar, menyampaikan dukungan penuh terhadap kegiatan ini, yang selaras dengan program 100 hari kerja Bupati Polewali Mandar, khususnya dalam isu penanganan stunting, kesehatan untuk semua, pengurangan sampah dan banjir, sert...