Langsung ke konten utama

Hiburan Ramadhan: Religiusitas atau Komodifikasi?

Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Unasman) 

Suatu malam di bulan Ramadhan, Ibu Aisyah melirik jam dinding di ruang tamu. Jarum pendek hampir menyentuh angka delapan, pertanda salat tarawih sudah dimulai di masjid dekat rumah. Namun, dari ruang tengah, suara televisi masih terdengar nyaring. Di layar, seorang ustaz kondang sedang berbicara penuh semangat tentang keutamaan shalat malam.

Ibu Aisyah menoleh ke arah anaknya, Fadli, yang duduk bersila di lantai dengan tatapan fokus ke layar. “Nak, sudah tarawih” ? Tanyanya dengan basa-basi lembut.

Fadli, tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi, menjawab, “Nanti, Bu. Habis acara ini, ya. Ustaz favoritku lagi bicara tentang pahala shalat malam”.

Ibu Aisyah menghela napas. Ia ingin menegur, tapi ragu. Bukankah anaknya sedang menyimak ceramah agama? Bukankah ini lebih baik daripada sekadar bermain game atau menonton acara tak bermanfaat? Tapi hatinya tetap gelisah.

Beberapa menit berlalu. Acara belum selesai. Tayangan beralih ke sesi iklan yang menampilkan paket umrah spesial Ramadhan, promo makanan berbuka, dan busana muslim terbaru. Fadli masih terpaku di tempatnya, tak beranjak.

Di masjid, jamaah sedang khusyuk menunaikan rakaat keempat. Sementara di rumah, Fadli masih duduk di depan layar, menyimak sesi tanya jawab dengan ustaz. “Nanti setelah ini aku salat”, gumamnya.

Tapi setelah sesi tanya jawab, program lain dimulai —drama religi spesial Ramadhan yang dibintangi aktor kesukaannya. “Sebentar lagi, Bu. Ini juga tentang perjuangan seorang pemuda dalam mencari jalan hidayah”, katanya ketika ibunya kembali menegurnya.

Ibu Aisyah hanya bisa menggeleng. Ironis, pikirnya. Media mengajarkan agama, tapi justru membuat orang menunda ibadah. Program televisi dan media digital saat Ramadhan dipenuhi acara berlabel “religi” yang sering kali lebih berorientasi pada rating dan keuntungan, bukan pada nilai-nilai spiritualitas sejati.

***

Ada paradox dalam hiburan Ramadhan pada anekdot di atas. Industri hiburan Ramadhan yang mengalir melalui kanal media, dalam satu sisi memberikan ajaran agama kepada khalayak, namun dalam waktu yang sama juga menghalang untuk beribadah. Mengajak namun menghalang.

Demikianlah, di hadapan industri hiburan, segalanya menjadi sama rata. Agama? Ya, agama adalah hiburan. Agama dikemas dan dihadirkan kembali (representasi) menjadi hal yang dapat menghibur di ruang khalayak melalui berbagai media.

Jika seseorang merasa terhibur dengan tayangan ibadah, maka ia akan menonton tayangan beribadah dengan duduk manis, berbaring, atau bersandar di sofa sambil ngemil serta menyeruput minuman favorit, dan mungkin sambil bercengkrama dengan pasangan. Tetapi dia sendiri belum atau tidak beribadah sama sekali.

Dalam konteks industri hiburan Ramadhan —meminjam istilah Baudrillard, banyak acara yang menayangkan atau menyuguhkan narasi keislaman tetapi lebih sebagai “simulasi spiritualitas” daripada pengalaman religius yang otentik.

Program televisi, sinetron religi, dan iklan-iklan bertema Ramadhan, sesungguhnya tidak lagi tentang ibadah itu sendiri, tetapi lebih tentang menampilkan citra religius untuk kepentingan komersial. Praktik keagamaan tidak lebih dari sekedar estetika dan konsumsi media.

Fadli dalam anekdot di atas, tidak hanya sekedar menonton dan menunda ibadah. Di sana, kata Foucault, dalam alir kanal industri hiburan itu, ada mekanisme kontrol dari kapitalisme media. Hiburan bertema Ramadhan sering kali membentuk norma religius yang terstandarisasi oleh pihaknya sendiri, misalnya bagaimana seorang Muslim seharusnya berperilaku selama bulan suci.

Industri hiburan Ramadhan menjadi alat disiplin budaya, yang mengatur bagaimana masyarakat memahami religiusitas, bukan berdasarkan pengalaman spiritual yang personal, tetapi melalui narasi yang dikendalikan oleh media dan pasar.

Dalam kacamata Fredric Jameson, industri hiburan Ramadhan adalah contoh dari bagaimana agama dikomodifikasi: nilai religi diolah menjadi nilai tukar. Acara TV, iklan, dan musik religi tidak lagi sekadar sarana dakwah, tetapi juga produk yang dijual untuk kepentingan ekonomi.

Fadli bukan sekedar peristiwa menonton ustaz favoritnya di ruang tengah. Tetapi juga tentang ruang besar industri hiburan Ramadhan sebagai bagian dari simulasi, kontrol budaya, dan komodifikasi agama. Eksistensinya bukan hanya tentang refleksi nilai-nilai spiritual, tetapi juga tentang bagaimana kapitalisme dan media menggiring dan mengkonstruk pengalaman religius dalam masyarakat modern.

Ramadhan dan industri hiburan memiliki hubungan yang kompleks, di mana nilai-nilai spiritual bertemu dengan kepentingan ekonomi dan budaya populer. Di satu sisi, Ramadhan adalah bulan yang diidentikkan dengan peningkatan ibadah, introspeksi, kesederhanaan, keberkahan, dan hikmah. Namun, di sisi lain, industri hiburan melihatnya sebagai peluang emas untuk menarik audiens yang lebih besar dan meningkatkan konsumsi media serta produk komersial.

Ramadhan adalah momentum terbaik untuk memproduksi dan mengkonsumsi hiburan. Selama bulan Ramadhan, pola aktivitas masyarakat berubah. Orang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, terutama pada malam hari setelah berbuka. Televisi, media sosial, dan platform streaming memanfaatkan momen ini dengan menghadirkan konten spesial Ramadhan, mulai dari sinetron religi, talk show islami, hingga komedi sahur. Tayangan ini sering kali menggabungkan unsur spiritualitas dengan hiburan ringan agar tetap menarik bagi penonton dari berbagai latar belakang.

Banyak program hiburan tayang di jam-jam krusial seperti menjelang berbuka, setelah tarawih, atau bahkan saat sahur. Tayangan ini sering kali lebih menarik daripada kegiatan ibadah, sehingga banyak orang lebih memilih memplototi tayangan itu daripada mengikuti kajian, berzikir, atau tadarrus.

Solusi yang dapat ditawarkan adalah membangun kesadaran kritis dalam mengonsumsi tayangan media selama Ramadhan. Literasi bermedia semakin urgen. Masyarakat muslim perlu memahami bahwa menonton ceramah atau program religi bukanlah pengganti ibadah yang sebenarnya.

Ada beberapa langkah yang bisa diterapkan: Pertama, menetapkan prioritas. Jika media digunakan sebagai sarana belajar agama, maka harus ada batasan waktu yang jelas. Misalnya, menonton ceramah bisa dilakukan sebelum atau setelah ibadah utama seperti tarawih dan tadarrus, bukan menggantikannya.

Kedua, menerapkan disiplin dalam memanfaatkan teknologi. Penggunaan alarm pengingat waktu shalat atau aplikasi jadwal ibadah bisa membantu agar seseorang tidak larut dalam tontonan hingga melewatkan ibadah utama.

Ketiga, orang tua dan tokoh masyarakat perlu berperan dalam mengedukasi anak-anak dan keluarga tentang pentingnya keseimbangan antara belajar agama dari media dan menjalankan ibadah secara langsung.

Keempat, mendorong media untuk lebih bertanggung jawab. Stasiun televisi dan platform digital bisa menyesuaikan jadwal tayangan mereka agar tidak bertabrakan dengan waktu-waktu ibadah utama atau menampilkan pengingat untuk salat di sela-sela program.

Intinya, media seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengalih perhatian dari praktik spiritual yang lebih esensial dalam Ramadhan.

Suatu ketika, seseorang bertanya kepadaku, “mengapa di jaman Nabi belum ada media secanggih saat ini”? Aku tersentak, blank sejenak. Tapi aku berusaha menjawab dengan cepat; “agar Nabi tidak menjadi selebriti dan bintang iklan dalam industri hiburan”.

Wallahu A’lam.

Banga, 3 Maret 2025.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MTs Ma'arif NU Pulau Salamaq Semarakkan HUT RI ke-80 dengan Penuh Antusias

Aktivitas Latihan Gerak Jalan, MTs Ma'arif NU Pulau Salamaq andankji.com - Polewali Mandar . ~   Memasuki usia ke-80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, MTs Maarif NU Pulau Salamaq menyambut hari bersejarah ini dengan semangat dan kebanggaan. Seperti sekolah-sekolah lain di Kabupaten Polewali Mandar, bahkan di seluruh Indonesia, MTs Ma'arif NU Pulau Salamaq turut memeriahkan peringatan HUT RI melalui berbagai kegiatan. Para guru dengan tekun melatih siswa mengikuti beragam perlombaan khas Agustusan, salah satunya lomba gerak jalan. Persiapan upacara bendera pun dilakukan secara khidmat, untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air di kalangan siswa. Marsyud Husain Dawai, guru MTs Pulau Salamaq, menjelaskan:  " Selain sebagai bentuk syukur atas kemerdekaan, gerak jalan ini juga mengajarkan kepada siswa tentang perjuangan para pahlawan yang berjalan jauh dalam merebut kemerdekaan". Marsyud Husain Dawai,  guru MTS Pulau Salamaq Kepala Sekolah MTs Ma'arif NU Pulau Salama...

Seminar dan Dialog di Pantai Babatoa: Menguatkan Kearifan Lokal dan Komitmen Lingkungan

Suasana Pembukaan Seminar dan Dialog a ndankji.com ~ Polewali Mandar — Mahasiswa dan komunitas pecinta alam serta pemerhati lingkungan menggelar Seminar dan Dialog bertema "Ekosistem, Manusia Pesisir, dan Kearifan Lokal", Sabtu pagi, 21 Juni 2025, di Pantai Babatoa, Kecamatan Campalagian, Polewali Mandar. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman) bersama Komunitas Laut Biru. Hadir sebagai narasumber utama, Muhammad Syariat Tajuddin, seorang akademisi sekaligus pakar budaya lokal, serta Muh. Putra Ardiansyah, pendiri Komunitas Laut Biru. Keduanya berbagi pandangan tentang pentingnya pelestarian ekosistem pesisir dengan pendekatan berbasis kearifan lokal. Dalam sambutannya, Camat Campalagian, Muhdar, menyampaikan dukungan penuh terhadap kegiatan ini, yang selaras dengan program 100 hari kerja Bupati Polewali Mandar, khususnya dalam isu penanganan stunting, kesehatan untuk semua, pengurangan sampah dan banjir, sert...

Idul Fitri sebagai Peristiwa Sosial dan Budaya

Oleh Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman)   Suatu ketika sekitar saat mahasiswa awal, menjelang libur Ramadhan, saya ajukan tantangan pada teman-teman kos; “ayo, siapa berani memutuskan sedikit “urat rindu” dengan cara tidak pulang kampung sampai lebaran”? Meski tidak ada jawaban tegas, tapi akhirnya, memasuki Ramadhan ada dua teman yang nampaknya tidak mudik.   Demikianlah, sekitar sepuluh pertama Ramadhan kami telah kehabisan amunisi; uang, minyak tanah, dan bahan makanan. Wesel Pos tak datang-datang. Kami belum begitu terbiasa menjalani hidup di kota sebagai mahasiswa rantau masih besar malunya. Kami harus survival ke masjid untuk buka puasa. Berbuka sekaligus juga sebagai sahur.   Kami punya sebuah gitar milik teman yang mudik, tetapi tanpa senar 1, 2 dan 3. Saya berinisiatif menggunakan tali kopling motor sebagai pengganti senar agar dapat digunakan. Dengan gitar itu, setiap sore saya bernyanyi beberapa lagu yang itu-itu saja, berulang. Tetapi kadang air mata...