Langsung ke konten utama

Retorika Komando dan Implikasinya pada Ruang Publik

Iilustrasi Retorika Komando

Oleh Hamdan eSA

Kehadiran Presiden Prabowo Subianto di puncak hierarki politik Indonesia menandai babak baru dalam dinamika komunikasi publik pasca-Reformasi. Sebagai purnawirawan jenderal dengan latar belakang pasukan elite, beliau membawa habitus militer yang sangat pekat ke dalam ekosistem sipil.

Fenomena pidato tanpa teks (unscripted) yang kerap melahirkan pernyataan spontan —yang oleh sebagian pengamat dinilai "sembrono" atau reduksionis— sebenarnya merupakan cerminan dari budaya komunikasi lapangan yang mengutamakan intuisi seketika (gut-feeling).

Akan tetapi, ketika logika militer yang monolitik ini diproyeksikan ke dalam ruang publik demokrasi yang plural, dampaknya tidak bisa lagi dilihat sekadar sebagai masalah "salah ucap".

Ucapan-ucapan spontan tersebut menciptakan efek riak (ripple effect) yang mendalam secara sosio-kultural dan politik, dan secara fundamental mengubah lanskap komunikasi di ruang publik kita hari ini.

Secara sosio-kultural, gaya komunikasi Presiden Prabowo yang meledak-ledak dan blak-blakan itu nampak memanfaatkan kejenuhan masyarakat terhadap kosmetika politik sipil selama ini. Di era media sosial yang penuh dengan pencitraan buatan, pernyataan yang terkesan tanpa filter justru melahirkan the authenticity paradox (paradoks autentisitas).

Bagi sebagian besar masyarakat, ucapan yang dinilai sembrono oleh kaum elitis sipil justru ditafsirkan sebagai lambang kejujuran, keberanian, dan penolakan untuk berpura-pura. Budaya politik yang santun namun korup di masa lalu membuat ruang publik merindukan figur yang tampil apa adanya seperti Presiden Prabowo.

Namun, di balik pemujaan terhadap autentisitas ini, terdapat dampak kultural yang mengkhawatirkan, yakni terjadinya normalisasi terhadap simplifikasi atau penyederhanaan masalah kompleks. Ketika seorang kepala negara mengeluarkan pernyataan reduksionis terkait variabel ekonomi atau sosial, nalar publik ikut tereduksi.

Ruang publik kultural kita, yang seharusnya diisi oleh perdebatan berbasis data dan argumen yang bernuansa, perlahan bergeser menjadi ruang yang digerakkan oleh sentimen emosional. Akibatnya, batas antara ketegasan seorang pemimpin dan kesembronoan artikulasi menjadi kabur, menciptakan standar baru di mana "bicara apa adanya" dianggap lebih bernilai daripada "bicara dengan akurasi ilmiah".

Di ranah politik, implikasi dari retorika komando ini berdampak langsung pada kualitas demokrasi di ruang publik. Sifat dasar komunikasi militer adalah direktif dan asimetris (top-down), di mana perintah tidak membuka ruang untuk negosiasi atau debat. 

Ketika gaya ini dibawa ke panggung politik nasional, pernyataan spontan Presiden yang cenderung defensif-ofensif saat merespons kritik —seperti memberikan label negatif atau menggunakan diksi yang memojokkan oposisi— memperlebar jurang polarisasi di tingkat akar rumput.

Ruang publik politik yang sehat membutuhkan dialektika yang setara antara pemerintah dan warga negara. Ketika ucapan spontan seorang pemimpin tertinggi dipenuhi oleh metafora kepungan (siege mentality) —seolah-olah setiap kritik adalah ancaman terhadap kedaulatan negara— muncul efek psikologis berupa pembatasan diri (chilling effect).

Masyarakat sipil, akademisi, dan kelompok kritis mengalami kecemasan sosial untuk menyuarakan pendapat karena khawatir dicap "tidak patriotik" atau "antek asing".

Implikasi politik jangka panjangnya adalah penyusutan ruang dialektika sipil. Ruang publik tidak lagi menjadi arena diskursus yang rasional, melainkan ruang konformitas di mana kepatuhan verbal menjadi tolok ukur utama kesetiaan pada negara.

Dampak politik di ruang publik ini secara otomatis beririsan dengan dinamika ekonomi makro. Pasar, baik domestik maupun internasional, membaca setiap ucapan seorang presiden sebagai sinyal kebijakan resmi (policy signal).

Ketika pernyataan yang keluar bersifat impulsif dan meremehkan indikator teknis (seperti fluktuasi nilai tukar atau kondisi kesejahteraan riil), ruang publik ekonomi menangkap adanya ketidakpastian (uncertainty).

Investor global bergerak di atas kepastian hukum dan prediktabilitas. Kesembroran retorika dalam ruang publik dapat memicu volatilitas jangka pendek karena pasar mendeteksi adanya risiko komunikasi (communication risk) dari otoritas tertinggi negara.

Di satu sisi, ketegasan khas militer menawarkan stabilitas keamanan yang disukai pasar. Namun di sisi lain, ketidakpastian yang lahir dari ucapan-ucapan spontan yang tidak terukur justru mengikis kepercayaan terhadap kedalaman analisis teknis pemerintah dalam mengelola krisis ekonomi modern yang sangat kompleks.

Gaya komunikasi Presiden Prabowo yang kerap memicu kontroversi di ruang publik bukanlah sekadar masalah teknis kebahasaan, melainkan benturan sosiologis antara kultur militer lapangan dan ekosistem sipil demokratis.

Secara sosio-kultural, gaya ini berhasil meredefinisi makna autentisitas politik di mata publik, meski harus dibayar dengan penurunan kualitas nalar publik yang cenderung menyukai simplifikasi.

Secara politik, retorika komando yang dominan berisiko menyusutkan ruang dialektika warga negara dan menciptakan volatilitas persepsi di mata pelaku ekonomi.

Pada akhirnya, masa depan ruang publik Indonesia akan sangat bergantung pada apakah masyarakat sipil mampu mempertahankan daya kritisnya, atau justru larut dalam normalisasi retorika komando yang menuntut kepatuhan mutlak atas nama stabilitas.

 

Polman, 4 Agustus 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahasiswi Komunikasi Unasman Raih Juara 1 Lomba Karya Ilmiah HUT Lalu Lintas Bayangkara Ke-69

  Artika Ananda Putri, Mahasiswa Ilmu Kounikasi Unasman andankji.com, Polman  ~~ Prestasi membanggakan diraih oleh mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Al Asyariah Mandar (FISIP Unasman). Artika Ananda Putri, berhasil meraih Juara 1 dalam Lomba Karya Ilmiah yang diselenggarakan oleh Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Sulawesi Barat, dalam rangka memperingati HUT Lalu Lintas Bhayangkara ke-69 tahun 2024. Lomba yang bertemakan "Polantas Presisi Hadir" ini diikuti oleh 40 peserta mahasiswa Perguruan Tinggi se-Sulbar dan mahasiswa dari berbagai universitas di luar Sulbar yang ber-KTP Sulbar. Artika Ananda Putri mengangkat karya ilmiah berjudul; “Menuju Sulbar Sejahtera: Optimalisasi Regional Traffic Management Centre (RTMC) melalui Gerakan Satu Hari Tanpa Pelanggaran”, yang dinilai unggul dari segi kreativitas gagasan, orisinalitas, analisis, dan sistematika penulisan. Kaprodi Ilmu Komunikasi, Dr. Hamdan, M.Ag, memandang bah...

TEOLOGI INTEGRALISTIK (Pendekatan Sejarah)

oleh: Prof. Dr. H.M. Saleh Putuhena Pendahuluan Sejak 1970-an dialog antar umat beragama mulai digiatkan oleh Departemen Agama. Ketika itu Menteri Agama (1972-1977) di jabat oleh Mukti Ali, professor perbandingan agama pada IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Sebagai seorang menteri yang berasal dari kalangan intelektual Muslim , ia sangat peduli pada dua hal penataan masalah pendidikan dan kerukunan umat beragama yang memang menjadi salah satu tugas Departemen Agama sejak didirikan 1946. Selama ini tugas pokok tersebut terkesan diabaikan. Meskipun secara sporadis terjadi konflik antara umat beragama di beberapa daerah terutama setelah 1965. Meskipun dialog atau pertemuan antar umat beragama tetap dilaksanakan secara intensif baik oleh Departemen Agama, maupun oleh organisasi keagamaan, tetapi tampaknya kurang berhasil dalam membina kerukunan antar umat beragama. Konflik antar umat beragama masih tetap juga terjadi. Rangkaian konflik yang terjadi pada penghujung abad XX berupa peri...

Ahmadiyah, NII dan Candoleng-doleng

Oleh: Hamdan Akhir Mei 2011 lalu saya berada di sebuah pelosok kampung untuk beberapa waktu. Saat jumatan, sebelum azan dikumandangkan, Kades sebagai aparat dan tentunya mewakili Negara, menyampaikan pengumuman dari pemerintah kepada seluruh warga khususnya umat Islam untuk mewaspadai dua hal yang mengancam stabilitas kehidupan sosial warga, yakni: (1) tentang hadirnya aliran sesat Ahmadiyah yang mengajarkan adanya nabi setelah Muhammad saw, dan (2) hadirnya Negara Islam Indonesia (NII) yang menginginkan berdirinya Negara Islam secara terpisah dari Negara Kesatuan RI. Kedua hal di atas memfokuskan sasaran penyebaran misinya pada generasi muda. Karenanya jika warga menemukan hal-hal yang mencurigakan, kiranya segera melaporkan ke pemerintah setempat. Sekitar sepuluh hari kemudian, masih di kampong yang sama, saya terjaga saat dini hari pukul 01.30-an karena merasa lapar. Soalnya kemudian bukan soal terjaga, tetapi tak bias tidur setelah perut sudah terisi. Yang menganggu adalah dentuman...