Langsung ke konten utama

Ayah, Anak, dan Keledainya

Suatu ketika di pagi buta seorang ayah bersama anaknya yang masih berusia 17 tahunan, melakukan perjalanan ke suatu daerah yang cukup jauh melintasi beberapa gurun dan perkampungan. Untuk membantu perjalanan, mereka berdua duduk di atas punggung keledainya dan sang ayah mengendalikan keledai.

Hampir di penghujung sore mereka tiba di perkampungan pertama di sisi sebuah perbukitan gersang. Beberapa orang menegur dan mencibir mereka berdua; “ huh... dasar manusia tak berperasaan, masa keledai sekecil itu jauh-jauh dinaiki oleh dua orang.” Lalu si ayah dan anak segera turun dari keledainya, lalu mereka berjalan menarik keledainya mencari penginapan.

Keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan. Si anak naik di atas punggung keledai dan si ayah menarik keledai. Jarak ke perkampungan kedua sangat tidak begitu jauh tetapi tingkat kesusahannya cukup tinggi. Si ayah terus menarik keledai dengan keringat bercucuran hingga mereka tiba di perkampungan kedua. Para warga di kampung itu lagi-lagi menegur dan mencibir; “dasar anak durhaka, tega betul menyiksa bapaknya menarik keledai sementara dia duduk santai di atas keledai”.

Setelah istirahat yang cukup perjalanan dilanjutkan, tapi si anak tidak mau jadi anak durhaka. Maka ia menarik keledai dan ayahnya duduk di punggung keledai. Mereka harus sampai di perkampungan ketiga tepat sore hari. Rute perjalanan agak ringan dari sebelumnya dan si anak menikmati perjalanannya menarik keledai hingga sampai ke perkampungan ketiga. Cibiran tidak berhenti datang dari warga yang masih ramai nongkrong di pinggir jalan yang mereka lewati. “dasar orang tua bodoh... jahat.. masa anaknya sendiri disiksa menarik keledai dan sedang ia sendiri duduk asyik di atas keledai...?” Sang ayah sangat malu dan secepatnya masuk ke sebuah penginapan.

Pagi-pagi mereka bergegas menuju perkampungan terakhir agar dapat sampai lebih awal menjelang sore. Dengan begitu mereka bisa sudah sampai di rumah keluarga, cukup istrahat, mandi, dan bisa menikmati senja. Agar tidak mendapat protes, mereka berdua berjalan dan keledainya ditarik bergantian. Meski sangat melelahkan tetapi perjalanan yang terasa semakin dekat cukup menimbulkan semangat berapi-api. Dan seperti yang telah direncanakan, masuklah mereka di perkampungan terakhir. Betapa bahagia rasanya. Tetapi kebahagiaan itu hampir hilang tak terasa, karena akhirnya mereka ditertawai dan dicela; “dasar orang tua dan anak sama saja bodohnya. Masa keledai hanya ditarik sementara mereka kelelahan berjalan...?”

Setelah mereka menikmati istirahat dan senja hari, masih ada yang mereka berdua pikirkan; “saat pulang nanti, apakah mereka akan memikul keledainya sampai di rumah?”

Pesan cerita;

Jika anda selalu ingin menyenangkan semua orang, anda tidak akan menyenangkan siapa pun.

Apakah anda menangkap pesan lain? Samapikanlah pada kolom komentar...
Thanks...

Komentar

hamdan mengatakan…
hehehe... hati-hati naiki unta betina

Postingan populer dari blog ini

Mahasiswi Komunikasi Unasman Raih Juara 1 Lomba Karya Ilmiah HUT Lalu Lintas Bayangkara Ke-69

  Artika Ananda Putri, Mahasiswa Ilmu Kounikasi Unasman andankji.com, Polman  ~~ Prestasi membanggakan diraih oleh mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Al Asyariah Mandar (FISIP Unasman). Artika Ananda Putri, berhasil meraih Juara 1 dalam Lomba Karya Ilmiah yang diselenggarakan oleh Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Sulawesi Barat, dalam rangka memperingati HUT Lalu Lintas Bhayangkara ke-69 tahun 2024. Lomba yang bertemakan "Polantas Presisi Hadir" ini diikuti oleh 40 peserta mahasiswa Perguruan Tinggi se-Sulbar dan mahasiswa dari berbagai universitas di luar Sulbar yang ber-KTP Sulbar. Artika Ananda Putri mengangkat karya ilmiah berjudul; “Menuju Sulbar Sejahtera: Optimalisasi Regional Traffic Management Centre (RTMC) melalui Gerakan Satu Hari Tanpa Pelanggaran”, yang dinilai unggul dari segi kreativitas gagasan, orisinalitas, analisis, dan sistematika penulisan. Kaprodi Ilmu Komunikasi, Dr. Hamdan, M.Ag, memandang bah...

Ahmadiyah, NII dan Candoleng-doleng

Oleh: Hamdan Akhir Mei 2011 lalu saya berada di sebuah pelosok kampung untuk beberapa waktu. Saat jumatan, sebelum azan dikumandangkan, Kades sebagai aparat dan tentunya mewakili Negara, menyampaikan pengumuman dari pemerintah kepada seluruh warga khususnya umat Islam untuk mewaspadai dua hal yang mengancam stabilitas kehidupan sosial warga, yakni: (1) tentang hadirnya aliran sesat Ahmadiyah yang mengajarkan adanya nabi setelah Muhammad saw, dan (2) hadirnya Negara Islam Indonesia (NII) yang menginginkan berdirinya Negara Islam secara terpisah dari Negara Kesatuan RI. Kedua hal di atas memfokuskan sasaran penyebaran misinya pada generasi muda. Karenanya jika warga menemukan hal-hal yang mencurigakan, kiranya segera melaporkan ke pemerintah setempat. Sekitar sepuluh hari kemudian, masih di kampong yang sama, saya terjaga saat dini hari pukul 01.30-an karena merasa lapar. Soalnya kemudian bukan soal terjaga, tetapi tak bias tidur setelah perut sudah terisi. Yang menganggu adalah dentuman...

TEOLOGI INTEGRALISTIK (Pendekatan Sejarah)

oleh: Prof. Dr. H.M. Saleh Putuhena Pendahuluan Sejak 1970-an dialog antar umat beragama mulai digiatkan oleh Departemen Agama. Ketika itu Menteri Agama (1972-1977) di jabat oleh Mukti Ali, professor perbandingan agama pada IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Sebagai seorang menteri yang berasal dari kalangan intelektual Muslim , ia sangat peduli pada dua hal penataan masalah pendidikan dan kerukunan umat beragama yang memang menjadi salah satu tugas Departemen Agama sejak didirikan 1946. Selama ini tugas pokok tersebut terkesan diabaikan. Meskipun secara sporadis terjadi konflik antara umat beragama di beberapa daerah terutama setelah 1965. Meskipun dialog atau pertemuan antar umat beragama tetap dilaksanakan secara intensif baik oleh Departemen Agama, maupun oleh organisasi keagamaan, tetapi tampaknya kurang berhasil dalam membina kerukunan antar umat beragama. Konflik antar umat beragama masih tetap juga terjadi. Rangkaian konflik yang terjadi pada penghujung abad XX berupa peri...