Oleh Hamdan eSA
Tidak ada seorang yang lahir langsung sebagai fans
dari bintang idola. Awalnya, mereka tumbuh sebagai penonton biasa. Menyukai
sepak bola sebagaimana orang menyukai hujan sore, secangkir kopi, melirik anak
tetangga. Semua berawal dari rasa kagum.
Mungkin dari sebuah gol yang menurutnya indah. Atau dari
sebuah umpan yang impossible. Atau seorang pemain yang berkali-kali
membuat kita berdiri dari duduk sambil berteriak, “Gokil”! Begitulah jalan
seorang idola ditemukan penggemarnya.
Lalu datang media sosial. Hampir semua hal tentang
pemain favorit diketahui secara detil. Kita tahu bagaimana ia berlatih. Kita
tahu bagaimana ia merayakan ulang tahun anaknya. Kita tahu mobil apa yang ia kendarai,
jam tangan apa yang ia pakai, bahkan ekspresi wajahnya ketika kalah. Dan anehnya,
kita tiba-tiba saja merasa sangat dekat dengan dia sang idola itu, padahal dia sendiri
bahkan tidak pernah dengar nama kita.
Piala dunia sepak bola selalu memperlihatkan perubahan
itu dengan sangat telanjang. Lihat saja media sosial setiap kali pertandingan
usai. Saat pemain tampil buruk, seorang komentator mengkritiknya. Dalam
hitungan menit, ribuan akun datang menyerbu. Bukan untuk membahas apakah kritik
itu masuk akal, melainkan untuk memastikan satu hal; jangan “sentuh” dia sang
idolaku.
Kini semuanya pelan-pelan berubah. Awalnya hanya
menikmati permainannya. Lama-kelamaan mulai membelanya. Setelah itu merasa memilikinya. Tanpa sadar, sebagian diri pengagum ikut menumpang pada
diri idolanya.
Segala tentang dirinya menjadi simbol yang ditempelkan
pada diri kita, tubuh kita, atau pada benda-benda milik kita. Mungkin melalui
jersei, stiker kendaraan, wallpaper desktop atau hape, dan lain-lain. Dan saat
itulah sang idola bertransformasi menjadi simbol identitas diri kita.
Mungkin itu sebabnya kritik terasa begitu menyakitkan.
Meski yang dikritik hanya kemampuan menggoreng bola, tetapi begitu banyak orang
ikut marah. Mengapa? Jawabannya barangkali sederhana. Yang sedang terluka bukan
pemainnya. Yang terluka adalah identitas diri para pengagum. Mereka inilah yang disebut stans.
Stan, menunjuk
pada seseorang yang menjadikan figur atlet sepak bola sebagai identitas dirinya.
Stan disebut sebagai penggemar dengan tingkat identifikasi personal yang ekstrem
(highly personally identified fan). Dalam budaya sepak bola modern,
fenomena ini melahirkan istilah khusus yang netral gender, yaitu solo stan
atau player stan. Bedakan dengan fanboy atau fangirl.
Dalam K-Pop istilahnya adalah akgae (penggemar
satu anggota saja). Dalam dunia sepak bola, fenomena ini sangat melekat pada
basis penggemar individu seperti Cristiano Ronaldo (disebut CR7 Stans/Ronaldo
Fans) atau Lionel Messi (disebut Messi Stans/Messi Fans).
Barangkali itulah yang membedakan penggemar dengan stans.
Penggemar masih bisa menikmati sepak bola meskipun pemain favoritnya sedang
buruk. Ia tahu bahwa mengagumi seseorang tidak berarti menutup mata terhadap
kekurangannya.
Sementara, stans telah melangkah lebih jauh.
Ia tidak lagi membela pemain karena pemain itu hebat. Ia membela pemain itu
karena di dalam dirinya sendiri ada sesuatu yang ikut dipertaruhkan. Bukan
reputasi sang pemain. Melainkan identitasnya sendiri.
Ketika figur atlet menjadi identitas diri, seorang
penggemar akan mengalami beberapa kondisi psikologis dan perilaku.
Pertama; karakteristik
sang atlet menjadi identitas diri. Identitas mereka bukan pada logo klub,
melainkan pada nama di punggung jersi. Jika sang atlet pindah ke liga atau
negara lain, mereka akan langsung mengganti klub yang mereka dukung, warna
jersi yang mereka pakai, hingga liga yang mereka tonton.
Kedua; mereka memvalidasi
diri lewat prestasi atlet. Mereka merasa harga diri dan status sosial mereka
naik jika sang atlet memenangkan penghargaan (seperti Ballon d'Or atau Piala
Dunia). Keberhasilan atlet tersebut dijadikan tameng ego untuk merasa “lebih
unggul” dari orang lain di kehidupan nyata.
Ketiga; melakukan
pembelaan buta atau semacam agresi digital di dunia maya. Mereka memiliki
mekanisme pertahanan diri yang sangat agresif. Jika sang atlet bermain buruk,
mendapat kritik dari media, atau melakukan kesalahan personal, mereka akan
membela habis-habisan di media sosial karena menganggap kritikan kepada atlet
tersebut adalah serangan langsung kepada harga diri mereka.
Secara psikologis, fenomena ini disebut sebagai ego extension atau perluasan ego. Penggemar
memproyeksikan diri mereka ke dalam figur atlet tersebut. Karakteristik, gaya
hidup, pola pikir, hingga mentalitas sang atlet (misalnya “mentalitas kerja
keras” Ronaldo atau “kejeniusan alami” Messi) diadopsi dan diidentikkan sebagai
karakter diri mereka sendiri.
Itulah mengapa para stans hampir selalu
memiliki dua standar. Ketika idolanya melakukan kesalahan, selalu ada alasan
untuk memaklumi atau bahkan membelanya dengan bermacam dalih pembenaran. Namun
ketika pemain lain melakukan kesalahan yang sama, vonis dijatuhkan tanpa banyak
pertimbangan. Pokoknya lawan tak ada benarnya.
Media sosial membuat keberpihakan itu semakin mudah
dipelihara. Mereka tinggal mengikuti akun-akun yang sepakat dengannya, menyukai
unggahan yang menguatkan keyakinannya, lalu mengabaikan semua yang mengganggu
kenyamanan.
Lama-kelamaan mereka hidup di dalam ruang yang hanya
memantulkan suara sendiri. Di sana, pembelaan selalu terasa seperti kebenaran,
sementara kritik selalu tampak seperti kebencian. Di level ini tak ada bedanya
dengan dunia pendukung kelompok politik.
Sejak saat itu, kritik tidak lagi terdengar sebagai
pendapat. Ia berubah menjadi ancaman. Dan sepak bola, yang seharusnya hanya
sebuah permainan, mendadak terasa seperti perang yang harus dimenangkan.
Bagaimana dengan anda, penggemar atau stans?
Banga Pinrang, 14 Juli 2026.

Komentar