Langsung ke konten utama

Messi, Ronaldo, dan Attention Industry

Oleh Hamdan eSA

Jika kita coba bertanya, apa komoditas paling laris dalam industri sepak bola? Mungkin sebagian besar orang akan menjawab si bola bundar. Jawaban itu memang terdengar masuk akal, sebab tanpa bola, pertandingan tidak akan pernah dimulai Tapi justru di situlah jebakannya.

Kita terlalu sering melihat sepak bola dari dalam lapangan, padahal industri sepak bola sudah lama berpindah ke luar stadion. Di sana, yang diperjualbelikan bukan lagi sekadar permainan, melainkan perhatian, citra, emosi, dan identitas.

Bayangkan sebuah pertandingan biasa dengan bola yang sama, aturan yang sama, dan stadion yang sama, tetapi tanpa Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi. Bandingkan dengan pertandingan yang menghadirkan salah satu dari keduanya.

Mana yang lebih banyak ditonton? Mana yang lebih ramai diperbincangkan? Mana yang lebih mahal harga hak siarnya? Mana yang membuat sponsor rela mengeluarkan miliaran rupiah? Jawabannya hampir pasti sama. Yang dijual bukan bolanya, melainkan figur yang ada di sekitarnya.

Dalam ekonomi politik media dan budaya populer, bola hanyalah alat. Komoditas utamanya adalah manusia yang bernama Ronaldo dan Messi.

Pernyataan ini mungkin terdengar provokatif, tetapi justru memiliki dasar akademik yang kuat. Vincent Mosco, dalam kajian ekonomi politik komunikasi, menjelaskan bahwa komodifikasi adalah proses mengubah sesuatu yang memiliki nilai guna menjadi sesuatu yang memiliki nilai tukar.

Bola jelas memiliki nilai guna. Ia digunakan untuk bermain. Tetapi nilai ekonominya berhenti setelah keluar dari pabrik atau dibeli konsumen. Berbeda dengan Ronaldo dan Messi. Nilai ekonomi mereka tidak pernah berhenti diproduksi. Bahkan ketika mereka tidak sedang bermain bola pun, mesin ekonomi tetap bekerja.

Setiap gol menjadi berita. Setiap berita menghasilkan klik. Klik menghadirkan iklan. Iklan menghasilkan keuntungan. Potongan video menjadi konten media sosial. Konten memancing algoritma. Algoritma menciptakan Perhatian. Perhatian kemudian dikonversi kembali menjadi uang.

Dalam rantai produksi seperti ini, sepak bola bukan lagi sekadar olahraga. Ia telah berubah menjadi industri perhatian (attention industry).

Dallas Smythe pernah mengemukakan bahwa media sebenarnya tidak menjual berita kepada publik. Yang dijual media kepada pengiklan adalah perhatian audiens. Dalam konteks sepak bola modern, Ronaldo dan Messi adalah produsen perhatian paling efektif.

Miliaran orang menyalakan televisi, membuka YouTube, atau menggulir media sosial, bukan semata-mata karena ingin melihat bola bergulir, tetapi karena ingin melihat bagaimana Ronaldo mencetak gol, bagaimana Messi melewati lawan, atau bahkan bagaimana ekspresi mereka setelah pertandingan usai.

Perhatian itulah yang bernilai. Dalam kapitalisme digital, perhatian adalah mata uang baru. Semakin besar perhatian yang mampu diciptakan seseorang, semakin besar pula nilai ekonominya.

Tidak mengherankan jika satu unggahan media sosial Ronaldo bernilai jutaan dolar. Yang dibayar bukan foto atau videonya, melainkan akses terhadap perhatian ratusan juta pengikutnya.

Fenomena ini semakin mudah dipahami melalui pemikiran Jean Baudrillard tentang nilai tanda (sign value). Menurut Baudrillard, masyarakat modern tidak lagi membeli fungsi suatu barang, tetapi membeli simbol yang melekat padanya.

Jersey dengan nama Messi memiliki fungsi yang sama dengan jersey tanpa nama. Sepatu bertuliskan CR7 tidak otomatis membuat seseorang bermain lebih baik. Namun orang tetap rela membayar lebih mahal karena yang dibeli bukan kain baju atau sepatunya, melainkan makna simbolik yang dikandungnya. Mereka membeli identitas, status, mimpi, dan kedekatan imajiner dengan sang idola.

Kapitalisme modern memang bekerja dengan cara yang unik. Ia tidak lagi sekadar menjual barang, tetapi menjual cerita. Rivalitas Ronaldo dan Messi bukan hanya rivalitas olahraga, melainkan narasi global yang diproduksi tanpa henti oleh media.

Setiap perbandingan statistik, setiap perebutan penghargaan individu, setiap rumor transfer, bahkan setiap gestur kecil di lapangan menjadi bahan bakar yang menjaga perhatian publik tetap menyala.

Guy Debord menyebut kondisi ini sebagai society of the spectacle, masyarakat tontonan yang lahir ketika citra lebih penting daripada realitas itu sendiri. Dalam masyarakat spektakel, pertandingan bukan lagi pusat perhatian. Spektakel tentang pertandinganlah yang menjadi komoditas utama.

Namun, menyebut Ronaldo dan Messi sekadar sebagai komoditas saja sudah tidak lagi memadai. Mereka telah melampaui pengertian komoditas dalam arti biasa. Komoditas lazim hanya menghasilkan keuntungan ketika diproduksi dan dijual. Ronaldo dan Messi justru menghasilkan keuntungan bahkan ketika tidak melakukan apa pun di lapangan.

Cedera mereka menjadi berita utama. Liburan mereka menjadi konten. Gaya rambut mereka menjadi tren. Anak-anak mereka menjadi bagian dari strategi pemasaran. Bahkan rumor kepindahan klub yang belum tentu benar mampu mengguncang pasar, menaikkan jumlah pelanggan platform digital, dan meningkatkan interaksi media sosial dalam hitungan jam.

Karena itu, saya lebih suka menyebut mereka sebagai mesin komodifikasi (commodification engines). Mereka bukan sekadar objek yang diperdagangkan, melainkan pusat yang terus-menerus menciptakan nilai ekonomi bagi aktor lain.

Klub memperoleh pendapatan lebih besar, sponsor menikmati eksposur global, media meraup klik dan iklan, platform digital meningkatkan durasi penggunaan aplikasi, sementara industri merchandise terus bergerak mengikuti popularitas mereka. Nilai ekonomi yang mereka hasilkan jauh melampaui nilai kontrak sebagai pemain sepak bola.

Di titik inilah kita melihat ironi sepak bola modern. Olahraga yang dahulu tumbuh sebagai permainan rakyat kini menjadi salah satu wajah paling sempurna dari kapitalisme global.

Tubuh atlet bukan hanya dinilai dari kemampuan fisiknya, tetapi juga dari kemampuan memproduksi perhatian, membangun citra, dan mempertahankan relevansi di ruang digital. Tubuh mereka bekerja selama sembilan puluh menit di lapangan, tetapi citra mereka bekerja tanpa henti selama dua puluh empat jam setiap hari.

Maka, ketika seseorang berkata bahwa bola adalah komoditas utama sepak bola, saya kira pernyataan itu perlu diperbarui. Dalam ekonomi politik media, bola hanyalah medium. Nilai ekonomi terbesar justru lahir dari manusia yang mampu mengubah perhatian menjadi kapital.

Ronaldo dan Messi adalah contoh paling nyata bagaimana kapitalisme kontemporer tidak lagi sekadar memperdagangkan barang, tetapi memperdagangkan simbol, emosi, dan perhatian manusia dalam skala global.

Pada akhirnya, sepak bola modern mengajarkan satu pelajaran penting tentang arah kapitalisme hari ini. Yang paling mahal bukanlah benda yang bergerak di atas rumput hijau, melainkan kemampuan seseorang untuk membuat miliaran pasang mata berhenti sejenak, menyaksikan, mengagumi, lalu terus membicarakannya. Dan dalam sejarah sepak bola modern, hampir tidak ada dua nama yang mampu memproduksi “attention economy” sebaik Ronaldo dan Messi.


Rea Barat, 10 Juli 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahasiswi Komunikasi Unasman Raih Juara 1 Lomba Karya Ilmiah HUT Lalu Lintas Bayangkara Ke-69

  Artika Ananda Putri, Mahasiswa Ilmu Kounikasi Unasman andankji.com, Polman  ~~ Prestasi membanggakan diraih oleh mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Al Asyariah Mandar (FISIP Unasman). Artika Ananda Putri, berhasil meraih Juara 1 dalam Lomba Karya Ilmiah yang diselenggarakan oleh Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Sulawesi Barat, dalam rangka memperingati HUT Lalu Lintas Bhayangkara ke-69 tahun 2024. Lomba yang bertemakan "Polantas Presisi Hadir" ini diikuti oleh 40 peserta mahasiswa Perguruan Tinggi se-Sulbar dan mahasiswa dari berbagai universitas di luar Sulbar yang ber-KTP Sulbar. Artika Ananda Putri mengangkat karya ilmiah berjudul; “Menuju Sulbar Sejahtera: Optimalisasi Regional Traffic Management Centre (RTMC) melalui Gerakan Satu Hari Tanpa Pelanggaran”, yang dinilai unggul dari segi kreativitas gagasan, orisinalitas, analisis, dan sistematika penulisan. Kaprodi Ilmu Komunikasi, Dr. Hamdan, M.Ag, memandang bah...

TEOLOGI INTEGRALISTIK (Pendekatan Sejarah)

oleh: Prof. Dr. H.M. Saleh Putuhena Pendahuluan Sejak 1970-an dialog antar umat beragama mulai digiatkan oleh Departemen Agama. Ketika itu Menteri Agama (1972-1977) di jabat oleh Mukti Ali, professor perbandingan agama pada IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Sebagai seorang menteri yang berasal dari kalangan intelektual Muslim , ia sangat peduli pada dua hal penataan masalah pendidikan dan kerukunan umat beragama yang memang menjadi salah satu tugas Departemen Agama sejak didirikan 1946. Selama ini tugas pokok tersebut terkesan diabaikan. Meskipun secara sporadis terjadi konflik antara umat beragama di beberapa daerah terutama setelah 1965. Meskipun dialog atau pertemuan antar umat beragama tetap dilaksanakan secara intensif baik oleh Departemen Agama, maupun oleh organisasi keagamaan, tetapi tampaknya kurang berhasil dalam membina kerukunan antar umat beragama. Konflik antar umat beragama masih tetap juga terjadi. Rangkaian konflik yang terjadi pada penghujung abad XX berupa peri...

Ahmadiyah, NII dan Candoleng-doleng

Oleh: Hamdan Akhir Mei 2011 lalu saya berada di sebuah pelosok kampung untuk beberapa waktu. Saat jumatan, sebelum azan dikumandangkan, Kades sebagai aparat dan tentunya mewakili Negara, menyampaikan pengumuman dari pemerintah kepada seluruh warga khususnya umat Islam untuk mewaspadai dua hal yang mengancam stabilitas kehidupan sosial warga, yakni: (1) tentang hadirnya aliran sesat Ahmadiyah yang mengajarkan adanya nabi setelah Muhammad saw, dan (2) hadirnya Negara Islam Indonesia (NII) yang menginginkan berdirinya Negara Islam secara terpisah dari Negara Kesatuan RI. Kedua hal di atas memfokuskan sasaran penyebaran misinya pada generasi muda. Karenanya jika warga menemukan hal-hal yang mencurigakan, kiranya segera melaporkan ke pemerintah setempat. Sekitar sepuluh hari kemudian, masih di kampong yang sama, saya terjaga saat dini hari pukul 01.30-an karena merasa lapar. Soalnya kemudian bukan soal terjaga, tetapi tak bias tidur setelah perut sudah terisi. Yang menganggu adalah dentuman...