Langsung ke konten utama

Penglihatan

oleh Hamdan eSA

Dari puncak yang sepinya jingga, aku dan matahari melihat hamparan bumi dalam sorotan yang menangkap seluruh wajahnya. “Bumi ini harus dijaga”, kataku layaknya Descartes dalam sorotan cogito ergo sum-nya. “Ah, bukan! Aku harus menjaga diriku terhadap bumi”.

Tak satu pun manusia yang terlahir normal, tidak mengetahui cahaya (light, nur). Ia yang membuat mata dapat melihat. Begitu hebatnya, cahaya seperti menghipnotis manusia untuk menjadikannya sebagai kebutuhan penting dan dicari. Sebaliknya menghipnotis manusia membenci dan karenanya menghindari kegelapan. Sehingga tidak seorang pun yang mengetahui cahaya tetapi tidak memahami betap pentingnya cahaya.. Dalam cara pandang oposisi-binner (gelap-terang); cahaya selalu menjadi pahlawan yang mengusir kegelapan. Jika kegelapan mengalahkan terang, maka terang menjadi sesuatu yang dicari untuk segera membunuh kegelapan. Manusiakah terhipnotis cahaya atau manusiakah yang telah menuhankan cahaya?

Cahaya dan penglihatan memiliki kesamaan pada unsur; sorotan terhadap obyek yang ditujunya. Sorotan tajam cahaya selalu memaksa kegelapan dan benda-benda yang dikandungnya menjadi cerah, terang. Namun karena kegelapan dan benda-benda yang dikandungnya adalah sesuatu yang lain dari cahaya, maka ia dalam sorotan tajam cahaya itu, dengan caranya sendiri mempertahankan eksistensinya. Perlawanan itu kemudian melahirkan bayang-bayang. Bagi cahaya, bayang-bayang adalah kegelapan dalam bentuknya yang berbeda; samar.

Sorotan tajam penglihatan sering kali dengan lancang, semaunya, mengirim pengetahuan dan abstraksi ke otak tentang sesuatu yang terlihat itu untuk selanjutnya (mungkin?) membentuk persepsi sebagai realitas. Penglihatan memaksakan lahirnya sebuah realitas baru untuk mengaanggapnya sebagai realitas sesungguhnya. Namun karena sesuatu yang terlihat itu memiliki realitasnya sendiri, ia dalam sorotan tajam penglihatan akan terus bertahan. Perlawanannya akan melahirkan pengetahuan, abstraksi bahkan persepsi baru; realitas bayang-bayang.

Akan hal itu, oleh Jacques Derrida, seorang filosof Prancis kelahiran El-Biar Aljazair, mengatakan bahwa sebuah penglihatan —seperti juga cahaya— merupakan salah satu bentuk kekerasan terhadap ”yang lain” (the others).

Di sana, dalam sorotan tajam kedepan itu, terdapat cahaya serta semangat untuk mencerahkan bayang-bayang dan kegelapan sebagai ”the others” yang tak terjangkau oleh indera. Dari proses ini, tergambar dengan sendirinya perbedaan antara; cahaya serta semangat yang melahirkan pengetahuan dan abstraksi si penglihat, dengan ”the others” yakni bayang-bayang dan kegelapan. Semangat mencerahkan menjadi dasar bagi penglihat —dalam skenarionya— ”menggauli” the others.

Pula setelah itu, ada semangat untuk menaklukkan ”yang lain” —yang membayang dan gelap itu— ke dalam pangkuan pengetahuan dan abstraksi si subjek. Ada keinginan untuk menjangkau dan merengkuh perbedaan ke dalam suatu bentuk kategori, menurut pengetahuan dan abstraksi si subjek. Selanjutnya lambat laun meuncul kehendak untuk menguasai dan menaklukkan ”yang lain”, dan membangun sebuah imperium kebenaran.

Dari proses inilah lahir sebuah klaim kebenaran (truth claim) atas suatu persepsi, lahir suatu kehendak penyeragaman. Di lain sisi dengan sendirinya mengingkari kemestian perbedaan atau keberagaman. Kooptasi, hegemoni, imperialisme, totalitarian, dan segala bentuk penaklukan terhadap ”yang lain”.

Menatap Wajah ”the Others”

Cogito ergo sum; “aku berpikir maka aku ada”, yang diproklamirkan oleh Deskartes, menjadi pijakan dasar bagi filsafat barat dalam membangun suatu bentuk keseluruhan dengan ego sebagai pusatnya. “Aku” didaulat menjadi pusat segala realitas ontologis dan menjadi prioritas utama yang mutlak dan tak tergugat. Egologi ini terus berkembang dalam sejarah metafisika barat dengan beragam terma; totality, interiority, imanensi, yang mendeskripsikan “Ada” mengkonstitusikan dirinya sendiri.

Totality dan terma-terma serupa lalu diinterupsi bahkan didobrak oleh kehadiran yang tak berhingga, the others; realitas lain yang tak dapat direduksi ke dalam ego dan pengetahuan saya. The others adalah orang lain, yang lain, yang beda, dan bukan diri saya, yang disebut eksteriority. Agar dapat menjumpainya, saya harus keluar dari imanensi saya dan ia membuka dimensi yang tak terhingga bagi diri saya. Saya tidak dapat menghampiri the others dengan bertolak dari “Aku”. Setiap orang (”saya”) tidak akan menghasilkan deskripsi yang persis sama tentang sesuatu. Para pelukis akan menghasilkan lukisan yang beda terhadap satu obyek.

Pemikiran yang membuka diri bagi the others inilah yang oleh Emmanuel Levinas sebagai metafisika, yang dibedakannya dengan ontologi yang hanya berpikir tentang ”yang sama”. Karenanya salah satu tesis penting dari Levinas adalah memprioritaskan metafisika dan etika di atas ontologi.

Mungkin ini bagian dari maksud Tuhan memberi pesan; ”batasilah pandanganmu”. Agar cahaya menjadi penerang bagi keberagaman semesta, tidak sebagai penerang bagi sesuatu. Cahaya tidak pernah membunuh kegelapan, atau kegelapan membunuh cahaya. Penglihatanlah yang membunuh keduanya.

Wallahu A’lam bi al-sawaaf.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MTs Ma'arif NU Pulau Salamaq Semarakkan HUT RI ke-80 dengan Penuh Antusias

Aktivitas Latihan Gerak Jalan, MTs Ma'arif NU Pulau Salamaq andankji.com - Polewali Mandar . ~   Memasuki usia ke-80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, MTs Maarif NU Pulau Salamaq menyambut hari bersejarah ini dengan semangat dan kebanggaan. Seperti sekolah-sekolah lain di Kabupaten Polewali Mandar, bahkan di seluruh Indonesia, MTs Ma'arif NU Pulau Salamaq turut memeriahkan peringatan HUT RI melalui berbagai kegiatan. Para guru dengan tekun melatih siswa mengikuti beragam perlombaan khas Agustusan, salah satunya lomba gerak jalan. Persiapan upacara bendera pun dilakukan secara khidmat, untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air di kalangan siswa. Marsyud Husain Dawai, guru MTs Pulau Salamaq, menjelaskan:  " Selain sebagai bentuk syukur atas kemerdekaan, gerak jalan ini juga mengajarkan kepada siswa tentang perjuangan para pahlawan yang berjalan jauh dalam merebut kemerdekaan". Marsyud Husain Dawai,  guru MTS Pulau Salamaq Kepala Sekolah MTs Ma'arif NU Pulau Salama...

HMTI Unasman Selenggarakan Malam Inagurasi Enc24ption Angkatan 24

MC sedang Memandu Acara Inagurasi  Enc24ption andankji.com~Polman. Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Al Asyariah Mandar (HMTI UNASMAN) menggelar Malam Inagurasi Enc24ption di Gedung Auditorium Universitas Al Asyariah Mandar, Kabupaten Polewali Mandar, Sabtu 22 Febuari 2025. Menurut Dwi Candra, Ketua Umum HMTI, malam inagurasi ini merupakan penyambutan mahasiswa baru dan perkenalan kepada orang tua dan pihak kampus. Sekaligus menjadi wadah bagi pengurus HMTI untuk menyalurkan bakat mereka. Kegiatan ini dibuka langsung oleh Wakil Rektor 1 Unasman, Bapak Dr. Ahmad Al-Yakin, S.Ag., M.Pd., dan dihadiri oleh Kepala Biro Aksi, Kaprodi Teknik Informatika dan Kaprodi Ilmu Komunikasi Unasman. Kegiatan ini juga turut dihadiri oleh orang tua mahasiswa Angkatan 24 Teknik Informatika. Di tempat yang sama, Adil Islam selaku ketua panitia menyatakan harapannya terhadap HMTI Unasman, agar semakin berkembang dan sukses selalu.  "Harapan saya semoga HMTI ini semakin berkembang d...

Seminar dan Dialog di Pantai Babatoa: Menguatkan Kearifan Lokal dan Komitmen Lingkungan

Suasana Pembukaan Seminar dan Dialog a ndankji.com ~ Polewali Mandar — Mahasiswa dan komunitas pecinta alam serta pemerhati lingkungan menggelar Seminar dan Dialog bertema "Ekosistem, Manusia Pesisir, dan Kearifan Lokal", Sabtu pagi, 21 Juni 2025, di Pantai Babatoa, Kecamatan Campalagian, Polewali Mandar. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman) bersama Komunitas Laut Biru. Hadir sebagai narasumber utama, Muhammad Syariat Tajuddin, seorang akademisi sekaligus pakar budaya lokal, serta Muh. Putra Ardiansyah, pendiri Komunitas Laut Biru. Keduanya berbagi pandangan tentang pentingnya pelestarian ekosistem pesisir dengan pendekatan berbasis kearifan lokal. Dalam sambutannya, Camat Campalagian, Muhdar, menyampaikan dukungan penuh terhadap kegiatan ini, yang selaras dengan program 100 hari kerja Bupati Polewali Mandar, khususnya dalam isu penanganan stunting, kesehatan untuk semua, pengurangan sampah dan banjir, sert...