Hamdan eSA (Dosen Ilmu Komunikasi Unasman) Banyak orang membicarakan Ramadan di era algoritma dengan nada cemas. Misalnya terkait tentang polarisasi meningkat, konten sensasional lebih cepat viral, dan ruang digital dipenuhi perdebatan agama. Namun pembacaan semacam itu sering berhenti pada isi pesan saja, pada konten yang beredar. Padahal, sebagaimana diingatkan oleh Marshall McLuhan, persoalan utama bukanlah apa yang disampaikan, melainkan pada medium yang menyampaikannya. The medium is the message, media adalah pesan itu sendiri. Algoritma bukan sekadar alat distribusi konten. Ia adalah arsitektur persepsi. Ia menentukan apa yang sering kita lihat, seberapa lama kita berhenti, dan pola apa yang dianggap penting. Dalam arti McLuhanian, algoritma adalah ekstensi sistem saraf kolektif kita. Ia memperluas sekaligus membentuk kesadaran. Ramadan, dalam pengalaman tradisional, adalah ritme. Ia ditandai oleh waktu sahur, jeda siang yang lebih hening, dan buka yang dinanti. Ada perl...