Serial Cermin (Cerita Mini)
Hamdan
“Apa kamu selalu datang ke taman kota ini sendirian?” tanya Wulan sambil duduk di bangku sebelahku.
Aku menutup buku dan menoleh. “Kadang. Tergantung apakah hari ini saya ingin ketenangan atau kebisingan.”
Wulan tersenyum. “Berarti hari ini?”
“Ketenangan,” jawabku singkat.
Sejak sore itu, Wulan juga sering muncul tanpa perlu janji lebih dulu. Kami berbicara tentang hal-hal kecil yang sebagian kadang tiba-tiba menjadi penting. Tentang hujan yang datang terlalu cepat, rencana hidup yang terlalu jauh, dan rasa lelah yang tak tahu harus diletakkan ke mana. Wulan lebih banyak bertanya, aku lebih sering diam. Tapi entah bagaimana, diam itu terasa dia mengerti.
“Kamu seperti orang yang takut kehilangan,” katanya suatu hari.
Aku menggeleng. “Aku hanya tidak ingin berharap berlebihan.”
Wulan menatapku lama. “Kadang berharap itu satu-satunya cara bertahan.”
Aku ingin membantah, tapi kata-katanya tertanam di dadaku. Tangannya pernah hampir menggenggam tanganku, tapi aku menariknya pelan. Bukan karena tak ingin, tapi karena aku tahu bahwa genggaman bisa membuat orang lupa cara melepaskan.
Hari itu Wulan datang lebih awal dari biasanya. Wajahnya serius, suaranya pelan.
“Aku harus pergi".
Aku menatapnya. “Pergi ke mana?”
“Ke tempat yang mengharuskanku memilih, dan aku tidak cukup berani membawamu.”
Aku tersenyum, agak pahit. “Setidaknya kamu jujur", kataku.
Wulan berdiri. “Aku takut kalau tetap di sini, aku akan memintamu menunggu.”
“Aku tidak pandai menunggu,” kataku jujur.
Wulan mengangguk. Angin sore menggerakkan daun-daun kering di sekitar kami. Ia menggenggam tanganku sebentar—hanya sebentar.
“Jangan mengingatku sebagai kesalahan,” katanya.
Aku menjawab pelan, “Aku akan mengingatmu sebagai jeda.”
Ia pergi. Aku tinggal, menatap langit yang perlahan gelap, mencoba meyakinkan diri bahwa kepergian juga bentuk kasih yang lain, meski rasanya selalu meninggalkan kekosongan.
Senja telah padam segera berganti malam. Lampu-lampu taman mulai menyala. Di langit, wajah bulan terhalau awan. Aku masih menunggu ia tampak, mungkin wajah bulan akan berganti wajah Wulan.
Madatte, 23 Desember 2025.

Komentar