PARPOL DAN FENOMENA PETE-PETE
Jauh di ruang publik lainnya, partai politik dalam sebuah mekanisme demokrasi menjadi faktor terpenting. Nasib suatu negara bangsa terletak pada partai politik yang ada di dalamnya. Sedangkan nasib sebuah partai terletak pada kualitas kelembagaan parpol tersebut dan kualitas personalnya. Parpol hampir dapat di katakan sebagai satu-satunya solusi untuk membangun demokrasi.
Namun di saat yang sama partai juga dapat menjadi masalah jika ia dibangun seadanya, terutama jika hanya dijalankan untuk memenuhi hasrat politik. Sebagai “kendaraan” demokrasi, parpol lebih awal secara internal harus dapat mempraktekkan cara-cara domokratis. Internalisasi nilai-nilai demokrasi adalah kebutuhan primer bagi kelembagaan palpol maupun personalnya.
Jenis
Parpol
Secara
teoritis, parpol dapat diklasifikasi ke dalam beberapa jenis. Pertama,
apa yang disebut sebagai Partai Proto. Jenis partai ini merupakan karakter
dasar dari tipe awal parpol, yang biasanya ada dalam lingkungan parlemen atau
intraparlemen. Basis pendukungnya adalah kelas menengah ke atas. Bentuk
organisasi dan ideologinya relatif sederhana. Belum sepenuhnya sebagaimana
dalam ciri parpol modern. Ciri faksional masih menonjol. Partai proto adalah
faksi yang dibentuk berdasarkan pengelompokan ideologi masyarakat.
Kedua, yakni Partai Kader. Secara historis
partai ini berkembang sebagai akibat hak pilih belum diberikan kepada
masyarakat luas. Anggotanya kebanyakan kelas menengah ke atas, dan tidak
memerlukan organisasi besar untuk memobilisasi massa. Penekanan partai kader
sesungguhnya adalah terletak pada penguatan yang cukup tinggi pada level
pengurusnya, dalam hal peningkatan kapasitas personalnya untuk kepentingan
partai.
Ketiga, yakni Partai Massa. Berkembangnya jenis ini karena adanya perluasan hak pilih rakyat. Parpol ini dibentuk di luar parlemen (ekstraparlemen). Orientasi parpol ini adalah kepada basis pendukung, yaitu buruh, petani dan massa lainnva. Tujuannva adalah untuk pendidikan politik dan pemenangan pemilu. Ideologi dan organisasinya rapi.
Di
Indonesia tidak dapat dikatakan sepenuhnva demikian. Sebab berbagai partai yang
berbasis formal massa tertentu, seperti buruh, petani maupun massa lainnya itu
sifatnya masih slogan saja. Artinya, basis massa yang dilembagakannya itu
sebatas untuk menarik pemilih dalam pemilu semata, dan untuk melakukan pendidikan
politik dan sebagainya, masih sangat jauh.
Keempat, yakni Partai Diktaktoral. Jenis ini
adalah merupakan subtipe partai massa. Ideologinya kaku dan radikal. Pimpinan
tertinggi melakukan kontrol ketat. Rekrutmen anggotanya sangat ketat, di mana
anggota parpol dituntut mengabdi secara total.
Kelima, yakni Partai Catch-All. Jenis partai ini merupakan gabungan antara partai kader dan massa. Mereka berusaha menampung kelompok sosial sebanyakbanyaknya untuk menjadi anggotanya. Tujuannya memenangkan pemilu berkaitan dengan berkembangnya kelompok kepentingan dan penekan, dan ideologinya tidak terlalu kaku. Sebagian besar partai politik di Indonesia pemenang Pemilu pada era reformasi adalah masuk dalam kategori jenis ini.
Partai-partai besar yang ada sekarang memang hidup tidak mengandalkan ideologi, melainkan penguatan pada kuantitas basis massa, sehingga konsekuensinya adalah terabaikannya proses pendidikan politik.
Parpol
dan Fenomena Pete-pete
Parpol merupakan “kendaraan” demokrasi, juga memiliki driver, sedang orang-orang di dalamnya adalah para penumpang. Masalahnya, kendaraan ini dimanfaatkan sebagai apa? Kendaraan publik, pribadi, kelompok, atau sewa? Fenomena pete-pete (angkot) dan penumpangnya menjadi sangat menarik diperhatikan, karena memiliki karakter yang sangat mirip dengan karakter parpol beserta politikus yang ada di dalamnya. Dan ini mungkin dapat menjadi jenis keenam dari lima jenis parpol di atas.
Pete-pete tidak memiliki penumpang khusus, semua orang dapat
menggunakannya asal dapat membayar ongkosnya. Bisa pula sang driver pete-pete
mengajak seseorang atau lebih, naik tanpa harus memikirkan ongkos. Driver juga
dapat dengan mudah digonta-ganti. Penumpang pete-pete juga memiliki hak penuh
untuk memilih pete-pete yang mana yang ia anggap layak bagi dirinya.
Sejumlah parpol tampaknya memiliki kemiripan dekat dengan fenomena di atas. Pengkaderan tidak perlu, yang paling penting adalah kemampuan memikat massa agar dapat ikut menjadi penumpang. Parpol pete-pete membutuhkan massa yang banyak tanpa banyak embel, yang jelas mereka mau ikut dalam kendaraan. Embel yang penting adalah duit dan jabatan. Penumpang berduit atau punya jabatan sangat dibutuhkan agar dapat menyuplai bahan bakar dan segala kebutuhan pete-pete.
Parpol pete-pete
juga sewaktu-waktu dapat mengganti drivernya dengan seorang yang dirasakan
memiliki kemampuan daya pikat lebih dari sebelumnya. Tentunya akan berbeda jika
pete-pete dikendarai oleh orang berduit atau pejabat publik dengan orang
biasa-biasa. Jangan heran bila seseorang driver dengan sangat mudah berpindah-pindah
dari pete-pete satu ke pete-pete lainnya laksana kutu loncat.
Parpol pete-pete tidak memerlukan mekanisme pengkaderan untuk mendidik dan membentuk kader-kader driver. Proses ini cukup panjang dan membutuhkan cost tinggi. Cara yang lebih efisien adalah menggaet driver “jadi”, driver yang telah memiliki seabrek pengalaman, skill, reputasi dan citra. Tentunya sang driver juga tidak sembarang menerima tawaran, ia dapat menilai dan memilih pete-pete mana yang dapat ia jalankan dengan baik dan menguntungkan sampai ke tujuan. Pete-pete membutuhkan driver ulung dan populer untuk menaikkan citra kendaraan. Sebaliknya, driver membutuhkan kendaraan handal dan populer untuk mengangkat citra dan reputasi dirinya.
Disinilah letak simbiosis mutualismenya. Namun demikian,
meski nampak sangat membutuhkan driver handal, tetapi sesungguhnya parpol
pete-pete tidak punya kepentingan sama sekali dengan urusan, nasib serta
kondisi driver, dan lain-lain, kecuali hal tersebut dapat mengangkat citra
pete-pete. Kematian driver pun dapat di eksploitasi untuk mengangkat citra.
Driver pun mirip dengan itu, tidak punya kepentingan dengan masa depan partai
pete-pete yang dikendarainya, ia hanya kendaraan sementara, dan sebentar juga
akan pindah ke pete-pete lain.
Parpol
pete-pete juga tidak mementingkan ideologi, agama, ataupun moral. Tergantung musimnya
saja. Jika para penumpang lagi ngidam ideologi, maka saat itu ideologi
diperlukan, dieksplor dan dieksploitasi. Jika agama dan moral sedang trend,
maka parpol harus memiliki komponen yang bisa membuatnya paling bermoral dan
beragama. Ideologi, agama dan moral bila dieksplor dengan baik dapat menjadi
jurus pikat yang sangat jitu. Tetapi sekali lagi yang terpenting adalah
kalkulator untuk mengkalkulasi rumus-rumus kemengan dan rumus-rumus pendapatan
kekayaan.
Akankah kita serahkan masa depan kita, masa depan negara dan bangsa, kepada parpol pete-pete? Jika tidak, dari sekarang kita harus memikirkan bersama bagaimana mengembalikan parpol pada fungsi-fungsi idealnya. Ongkos politik sudah begitu banyak dikeluarkan, tetapi belum juga memperlihatkan pengaruh dan perbaikan yang signifikan, bahkan sebaliknya, kemerosotan yang konyol.
Parpol harusnya
lebih mengembangkan perannya dalam memberi kontribusi terhadap tata kelola
demokrasi yang ingin dibangun bersama. Masih banyak tugas yang lebih penting
daripada sekedar sibuk musiman dalam mempersiapkan diri menghadapi suksesi.
Misalnya dengan memaksimalkan penguatan dan pengembangan kelembagaan parpol,
dan membangun relasi dengan masyarakat sipil dalam rangka membangun demokrasi
sebagai nilai, bukan sekedar mekanisme.
Wallahu
A’lam.
Selasa,
26
September
2017
Komentar