Langsung ke konten utama

Postingan

salah paham

Di sebuah dusun tinggallah keluarga petani yang memiliki seorang anak masih bayi. Keluarga itu memelihara seekor anjing yang dipelihara sejak masih kecil. Anjing itu pandai, setia, dan rajin membantu si petani. Dia bisa menjaga rumah bila majikannya pergi, mengusir burung-burung di sawah dan menangkap tikus yang berkeliaran di sekitar rumah mereka. Si petani dan istrinya sangat menyayangi anjing tersebut. Suatu hari, si petani harus menjual hasil panennya ke kota. Karena beban berat yang harus di bawanya, dia meminta istrinya ikut serta untuk membantu, agar secepatnya menyelesaikan penjualan dan sesegera mungkin pulang ke rumah. Si bayi di tinggal tertidur lelap di ayunan dan dipercayakan dibawah penjagaan anjing mereka. Menjelang malam setiba di dekat rumah, si anjing berlari menyongsong kedatangan majikannya dengan menyalak keras berulang-ulang, melompat-lompat dan berputar-putar, tidak seperti biasanya. Suami istri itu pun heran dan merasa tidak tenang menyaksikan ulah si anjin...

Ponsel Doja Safir

Cerpen hamdan Kumandang azan terbang secepat cahaya memasuki ruang-ruang di seluruh tempat dalam lingkar radius kelurahan Padang Panjang. Kumandang itu selalu berbunyi tepat pada waktunya, tak kurang dan tak lebih sedetik pun. Safir cukup piawai dalam mengatasi tugasnya sebagai penjaga masjid. Ia mampu mengakali agar jam weker yang biasa dipakai untuk memasang alaram waktu, dapat secara otomatis tersambung ke MP3 Player yang memainkan tadarrus alquran. Untuk ukuran kampungnya yang membatasi perkotaan dan pedesaan, hal yang ia lakukan itu sangat luar biasa, apalagi terkait dengan penguasaan teknologi. Warga lain umumnya hanya pemilik produk teknologi, mereka membelinya setelah mengumpul-ngumpul hasil kerja keras sepanjang dan setiap hari. Safir lebih dari itu, dapat mengutak-atik sejumlah produk elektronik, bahkan dapat memodifikasinya sehingga memilki fungsi baru sesuai kebutuhan yang diinginkan. Sebelumnya urusan membunyikan tadarrus...

zairun

cerpen hamdan   “Haaa …. aa ….. aaakhh ….!” “Krrk! Krrk!” Ia memaksakan tubuhnya bangun. Tapi ia masih malas-malas. Sisa kantuk masih tampak pada kuapan dan mata yang redup seolah enggan terbuka. Duduk bersandar di tepi ranjang, menimbang-nimbang ajakan kantuknya untuk baring kembali. Namun cahaya yang menembus ke dalam kamar lebih membuat ia melangkah untuk membuang air kencing yang terbendung dan mencuci wajah secukupnya. Ia baru sadar, saat itu sore baru beranjak. Sore pertama untuk kedatangannya di tempat itu. “Kek, aku mau jalan sore. Boleh kan kakek sendirian di rumah sebentar?” “Sebaiknya tidak sampai keringatan”, kata kakeknya memberi peringatan. “Karena di sini kita hanya bisa mencuci pakaian setelah lima hari pakai. Dokter pun jika tinggal di sini, harus bisa mandi sekali dalam dua hari satu malam.” “Dua hari semalam, atau dua malam sehari?” “Yaah, sama saja. 36 jam. Tiga kali dua belas jam. Bergantian to? Setelah dua hari satu malam, berarti dua malam ...